Friday, November 3, 2017

Dongeng Sebelum Tidur

Saya jadi ingat dulu saat masih kecil, ibu sering kali mendongeng. Sayangnya seiring waktu berjalan saya malah lupa dongeng apa saja yang sering diceritakan oleh ibu saya. Hingga akhirnya saya sempat menulis sebuah buku berjudul Dear Diary, Jangan Bete, di situ ada bab yang memang sengaja saya sisipkan dongeng rakyat sebagai salah satu kisah inspiratif yang bisa digunakan sebagai pelajaran sehari-hari. Sehingga saya pun mulai menyadari betapa berharganya moral yang disampaikan oleh dongeng yang dulu pernah disampaikan oleh ibu ketika saya masih kecil. Oleh sebab itu ketika saya melihat ada seorang penulis menerbitkan karya tentang dongeng sebelum tidur saya pun tertarik untuk memilikinya. "Bagaimanapun bukankah saya harus terus menambah ilmu saya agar bisa menjadi ibu teladan untuk buah hati saya, juga bisa dibanggakan oleh suami saya?" begitu pikir saya.

101 DONGENG SEBELUM TIDUR, karya Redy Kuswanto, penerbit : Laksana Kidz. Akhirnya buku yang saya pilih untuk menambah referensi bacaan saya untuk membersamai anak-anak.


Saat pertama kali membeli buku ini, saya memang sengaja menyimpannya terlebih dahulu, iya biar bukunya nggak rusak. Hehe ... Maklum saya dulu mantan "kolektor" buku, jadi rasanya sedih kalau lihat buku ada yang terlipat apalagi sampai kucel karena diuwel-uwel. Sedihnya itu sampai ngalah-ngalahin orang yang abis diputus pacarnya. Haha ... Percaya atau nggak saya dulu bahkan pernah minta ganti rugi salah satu tetangga saya yang abis minjem komik Conan saya, terus nggak tanggung jawab nindihin komik itu sampai bikin sampul luarnya kelipet. Bwakakakakaak ... Ah iya itu dulu ...

Oke jadi kita balik lagi ya ke buku 101 Dongen Sebelum Tidur ini. Ternyata di buku ini terdiri dari 80 dongeng nusantara, dan 21 dongeng dunia. Si kakak pun antusias ketika akhirnya saya mengabarkan kalau setelah ini jadwal kita adalah membaca buku dongeng tersebut.

Bisa dibayangkan si anak antusias nyobek plastik bungkusnya, si emak tereak-tereak heboh di sebelahnya, duh nak hati-hati buku mahal itu delapan puluh lima ribu rupiah nak, belinya jauh pula 😂 Iya jauh soalnya sementara ini saya sedang di rumah ibu lantaran harus riwa riwi nemenin mertua sakit. Di sini kebetulan nggak ada toko buku Gramedia ataupun Gunung Agung. Jadi kalau mau beli buku-buku keren begini saya harus loncat dulu ke kota sebelah, melewati jalan tol yang panjang ditemani oleh kartu e-tol yang baru-baru ini digalakkan untuk metode pembayarannya. Ah sudahlah ini apa toh, mau ngobrolin soal bukunya mas Redy kok ya njeladur kemana-mana. Hehe ...

Sejujurnya nama mas Redy ini sudah nggak asing sih buat saya, karena beberapa kali saya sering lihat namanya seliweran komentar di beberapa status para penulis keren lainnya. Tapi mau nyapa sungkan. Takut dikira SKSD. Bwakakakakak ... So ini tulisan murni ya bukan ngiklan. Gimana mau ngiklan, kalau sama mas Redy nya saja saya belum kenalan. Huwehehehehe ...

Nah kan, mau cerita isinya jadi njeladur kemana-mana. Kebiasaan nih emak-emak ya gini ini, di suruh fokus pikiran ke mana-mana, ya ke dapur lah, ya ke cucian lah, setrikaan lah. Haha ...

Jadi setelah saya akhirnya membacakan dongeng untuk anak-anak saya, mereka anteng dengerin saya baca. Entah mereka paham apa nggak ya sama yang saya bacakan tadi. Ibu saya sih komennya, kayaknya sih nggak paham. Huahahaha ... Tapi prestasinya nggak sampai 5 menit si adik langsung ketiduran, di sambut 5 menit kemudian ganti si kakak yang bilang, "Mam, aku tidur dulu ya." Huahahaha ... cuma mau bilang, "Mas Redy suwun ya." Maklum emak-emak tuh kadang butuh selonjoran. Lah gimana bisa selonjoran kalau duo bocilnya masih jumpalitan.

Oke setelah anak-anak tidur, saya tetep sih penasaran sama isi bukunya, yang ternyata baru saya sadari ada banyak cerita rakyat (dongeng nusantara) yang selama ini saya nggak pernah dengar. Wuih mas Redy sangar. Saya sampai mikir, ini mas Redy gimana ya ngumpulin dongeng-dongengnya itu. Kalau kata wong jawa, "Utekku nggak nutut mikire." (Otakku nggak nyampe mikir ke sana) Haha ...

Nilai positif lainnya buku ini disertai dengan pesan moral, jadi setelah selesai membaca buku cerita ini kita diajak mengambil pesan moral dari cerita tersebut. Lagi-lagi beberapa kali saya dibuat berpikir, "Eh bener juga ya pesan moralnya begini." Padahal tadinya pas baca dongengnya ya lempeng-lempeng saja.

Terus dongengnya juga disertai dengan keterangan asal muasal daerah dongeng tersebut. Jadi ketika membaca sedikit banyak saya diajak berimajinasi membayangkan alur dan keadaan dalam dongeng tersebut.


Mulai dongeng dari Aceh sampai Papua juga ada lho. Itu dongeng dalam negerinya. Belum dongeng luar negerinya, ada dongeng dari Cina, Turki, Yunani, de el el.

Habis baca buku ini (belum sampai habis sih ya hari ini), saya jadi tersenyum geli karena membayangkan setidaknya besok saya sudah punya bahan buat dongengin anak-anak saya sebelum tidur. Biar saya nggak spanneng kalau mau nidurin anak-anak karena kejar-kejaran sama deadline PR tulisan. Haha ...

Tentang Buku
Judul : 101 Dongeng Sebelum Tidur
Penulis : Redy Kuswanto
Penerbit : Laksana Kidz
Cetakan : 2017, Jogjakarta

Disclaimer : Tulisan ini merupakan salah satu tugas tantangan Game Level 5 Bunda Sayang Institut Ibu Profesional tentang membiasakan anak suka membaca.
 
#day9
#GameLevel5 
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

No comments:

Post a Comment