Friday, November 17, 2017

Investasi Anak Untuk Masa Tua Orang Tua???

Ini gara-gara obrolan ringan dengan salah satu papa blogger kekinian Mas Ihwan Hariyanto nih ... Berawal dari pertanyaan sepele, apa dan kenapa saya ada di Jawa lagi (padahal dulu udah pamit ke Balikpapan) sampai obrolan ringan tentang vlog yang membahas investasi anak untuk masa tua, gara-gara slogan "Banyak Anak Banyak Rezeki!"

Saya pun kemudian merenungi episode-episode (flash back) mulai saya menginjakkan kaki di Balikpapan hingga kembali ke Jawa lagi.

.
.
.
.
.
Ini Cerita Kami
Ceritanya sesaat setelah saya menginjakkan kaki di Balikpapan bersama suami dan anak-anak, kami mendapat kabar mertua masuk rumah sakit lantaran terkena batu ginjal. Setelah mendapat kabar, tersebut kami pun memutuskan akan kembali sesaat ke Jawa untuk melihat kondisi beliau.

Atas kesepakatan bersama, akhirnya kami mengambil keputusan saya dan anak-anak sementara di Jawa saja. Biar kalau suami bolak balik dari balikpapan ke surabaya, biayanya nggak bengkak. Ya kali, kami serombongan sirkus mau bolak balik bisa berat diongkos kan 😐

Ditambah lagi pertimbangan, daripada duit habis di jalan kan mending bisa di-full kan untuk biaya pengobatan mertua yang bahkan kami nggak punya prediksi akan habis berapa banyak.

Kebetulan suami saya dua bersaudara dengan adiknya. Jadi sedikit banyak ya harus sadar diri dong ah. Ya masak, semua biaya mau dibebankan ke adik semua πŸ˜‘

Eh, emangnya nggak pakai BPJS ya mbak? Alhamdulillah pakai, tapi karena atas nama kenyamanan maka adik ipar memang memutuskan mertua kamarnya upgrade kelas. Iya kebetulan di keluarga mertua ini kekeluargaannya maha dahsyat banget. Kalau ada yang sakit satu, yang jaga bisa sampai sepuluh πŸ˜‚

Saya sendiri sebagai menantu, bisa dibilang juga masih nggak becus kok jagain mertua. Gimana bisa dibilang becus, kalau saya bahkan hanya sanggup pp ke rumah sakit 2 hari sekali. Masih untung 2 hari sekali, Lah ini malah sudah 2 hari saya belum jenguk mertua ke rumah sakit lantaran badan saya protes minta hak istirahat (baca : sakit).  2 hari itu waktu tulisan ini saya tulis draftnya awal-awal ya. Kenyataannya, bahkan saya beneran sakit (panas) jadinya klop hampir seminggu saya nggak jenguk beliau.

Kebetulan memang jarak dari RS ke rumah ibu saya berbeda kota. Loh kenapa kok nggak di rumah mertua saja sih? Ceritanya simpel, karena kalau saya di rumah mertua nggak ada yang jaga anak-anak saya. Kebetulan semua kerabat berebut jaga mertua. Anak-anak juga nggak mungkin saya ajak ke rumah sakit.

Kalau sudah begini ah saya merasa useless. Mantu macam apa saya iniπŸ˜‘

Melihat hal tersebut saya pun lantas berandai-andai. Ah, apakah sebaiknya saya memprogramkan memiliki anak lebih dari dua ya?

Khayalan pun dimulai ...

Iya, kan bagaimanapun zaman semakin maju. Kalau jaman dulu orang paling kerjanya cuman di situ-situ saja, sekarang kalau mau sukses kita harus berani keluar dari zona nyaman. Salah satu contoh mutasi ke luar kota.

Nah, kalau anak dua terus sama-sama pengen suksesnya dengan pindah luar kota dua-duanya masak iya saya harus memaksakan nggandolin mereka πŸ˜‘

Toh seandainyapun, anggaplah saya nggak nggandolin, tapi jika kelak saat kami tua lalu kami sakit, apa mungkin mereka akan rela mengabaikan kami? Mungkin akan jadi buah simalakama kalau mereka memaksakan untuk tidak mengabaikan kami dengan cuti panjang, atau paling buruk resign. Duh, sebagai orang tua apa saya rela jika mereka merelakan karirnya yang menuju cemerlang demi kami orang tuanya? Jujur jauh dalam lubuk hati terdalam saya nggak sampai hati!

Bahkan kalau boleh jujur, ibu mertua pun awalnya juga nggak mau kok ngabarin kita kalau beliau masuk RS. Tapi akhirnya ketahuan juga, lantaran kami maksa minta video call-an (Nah kan, jaman sekarang jaman canggih!)

Nah tapi apa cukup, kami hanya menanyakan kabar mertua via video call saat mertua sakit? Ah tentu hati tetap nggak tenang kalau nggak lihat langsung terus dengar kabar langsung dari sang dokter, mastiin kalau memang everything oke, oke nya sejauh mana. Itu kalau kami sih ya.

Akhirnya Ibu Mertua Memang Harus Operasi Batu Ginjal
.
.
Oke, Renungan pun masih terus berlanjut ...
.

.
Nggak sampai di situ. Pun seandainya mereka (anak-anak) kelak bisa cuti, setidaknya mereka tidak terlalu banyak mengorbankan waktu mereka untuk kami. Anggaplah jika saya punya anak empat. Maka setidaknya sebulan sekali mereka bisa bergantian tiap minggu menjenguk saya tanpa menyita banyak waktu mereka untuk pekerjaan dan keluarga mereka.

Ah, okelah itu untuk pembagian waktu. Bagaimana dengan yang lainnya?

Saya ingat ketika kakek saya sakit masuk ICU ibu dan empat saudaranya bekerja sama bahu membahu mencari solusi. Saya jadi ingat tentang slogan Ringan sama dijinjing Berat sama dipikul. Mungkin seperti itu perumpamaan saya melihat ibu dan saudara-saudaranya saling bahu membahu mulai dari berbagi jadwal piket jaga sampai dengan masalah keuangan yang dibagi bersama.

Terus Saya Ingat Tentang Keluarga Gen Halilintar
Terus saya jadi ingat kondisi mertua yang sakit beberapa waktu lalu, di situ suami sempat terdiam. Saya pun tahu ada hal tersirat yang sedang dipikirkannya. Saya asal nebak saja sih ya, sepertinya dia sedang ikut memikirkan biaya rumah sakit ibunya. Sehingga saya pun asal njeplak bertanya kepada suami, "Masak kamu sebagai anak nggak ikut bantuin biaya RS ibu?"

Agak ragu dia menjawab, tapi saya bilang lagi, untuk lainnya Bismillah nanti kita pikir sambil jalan. Lainnya ini maksudnya biaya sekolah anak-anak yang setelah saya survey kemungkinan dua bulan lagi sudah mulai pendaftaran, dan tentunya dengan biaya sekolah jaman now yang bisa dibilang agak bikin elus-elus dada. Hehe ... Saya sih mikirnya simpel saja, kalau pun nanti sejelek-jeleknya meleset ya sudah home schooling-in saja. Mungkin itu rencana terbaik Allah untuk anak-anak kami. Meski sejujurnya so far saya belum ada persiapan home schooling untuk anak-anak. Hehe ...

Balik lagi soal biaya ... mungkin akan ada yang nyinyir sok bijak, makanya toh mbak pakai BPJS saja gratis nggak usah sok-sok an up-grade kelas segala kan enak! Nah itu kan teorinya ... Maunya pakai BPJS biar gratis ... Nah saya terus ingat episode ketika ibu saya kena demam berdarah beberapa waktu lalu.

Saat itu kelas yang sesuai jatah ibu di semua rumah sakit di kota tempat ibu tinggal penuh semua. Padahal kondisi trombosit ibu saya sudah drop banget. Hingga akhirnya ibu saya ya sudah nungguin gitu saja di UGD. Udah kayak nunggu menang undian lotere yang bahkan nggak tahu kapan nomernya akan keluar, atau apa iya akan ada yang keluar.

Hingga akhirnya kami pun datang. Lebih tepatnya suami saya datang ke bagian administrasi. Di situ akhirnya suami menandatangani persetujuan ibu saya upgrade kelas dengan jaminan nama suami saya yang akan menanggung selisih biayanya. Ya kali saya yang tanda tangan, tetep ujung-ujungnya saya colek-colek suami minta bantuan. Hehe ...

Nah, kalau sudah kayak gitu apa bisa kita mau tetep sok bijak kekeuh sumekeuh nggak upgrade kelas, melihat kondisi ibu yang sudah lemas banget. Mau nunggu sampai kapan, kelas yang sesuai kosong?

Ya meskipun namanya ibu pasti nggak mau ya ngerepotin anak-anaknya. Ini sih terbukti pas ibu saya sudah sehat, beliau ngeyel gantiin biaya RS yang sudah dibantuin suami saya. Padahal kaminya lho nggak masalah.

Oh iya saya sendiri juga cuma dua bersaudara, sedangkan adik saya sendiri masih kuliah. Jadi itu yang mungkin bikin ibu saya maksa gantiin biaya RS, karena kuatir kami kehabisan duit. Hehe ...
.
.
.
Eh udah panjang saja nih cerita saya ...
Terlepas dari episode-episode tersebut sebenarnya dari dulu kami memang bercita-cita ingin punya banyak anak. Alasannya simple karena kami sama-sama dua bersaudara dan itu kerasanya sepi banget. Seandainya ada hal yang harus didiskusikan terkait masalah orang tua, ya sudah diskusinya cuma berdua. Kalau sudah sama-sama mentok ya wes mau gimana ... Meski beberapa kali ada saudara, paman/tante yang "ikut" bantu kasih masukan tapi tetap saja nggak bisa maksimal, karena mereka bisa jadi mereka tak mengerti permasalahan terdalamnya.

Anggaplah seperti ibu saya yang sakit DBD, sempat ada pikiran memang kami bawa ke RS di kota kami saja. Tapi kami harus berpikir ulang nanti siapa yang akan jaga ibu saya, mengingat anak-anak saya yang waktu itu masih balita nggak mungkin juga saya ajak nginep terus di RS. Diskusi sama adik ya mentok wong waktu itu adik masih kuliah di Jogja. Mau dibawa ke mana saja ya nggak ngaruh banyak. Jadi pada akhirnya keputusan tetap balik lagi ada di saya tentunya dengan seijin suami saya.

Iya cita-cita punya banyak anak itu semakin kuat setelah datang episode-episode di atas lainnya. Meski sebenarnya saya sering menangkap sinyal, ibu mertua agak keberatan jika saya punya banyak anak. Mungkin karena beliau menyadari bahwa anak itu tanggung jawab, jadi semakin banyak anak tentu kita harus menyadari seberapa besar dan banyak juga tanggung jawab yang akan kita tanggung.

Ya jangan sampai ada kalimat, oke kita tanggung jawab ya. Iya kamu yang nanggung, aku yang jawab! #Plakkkkk minta ditoyor mah kalau itu namanya. Haha ...

Suami dan saya sendiri sepakat, ketika kami menyepakati untuk memiliki lebih dari dua buah hati, maka kami harus sudah mempertimbangkan semua biaya dan kehebohan yang timbul mulai dari ketika hamil, tidak hanya biaya kontrol dokter saja, tapi termasuk biaya ngidam istrinya yang bisa sewaktu-waktu di luar prediksi. Haha ... Sampai biaya lahiran, yang meskipun nggak usah neko-neko pakai acara waterbirth segala, lahiran normal biasa ceprot saja biayanya sekarang sudah lumayan. Juga nanti biaya untuk baju plus makanan anak-anak. Termasuk pertimbangan kehebohan, nanti ketika anak-anak mulai masuk sekolah siapa yang antar ke sekolah dan siapa yang akan jemput. Hehe ...

Terus bagaimana dengan istilah Banyak Anak Banyak Rejeki. Kalau menurut saya sebenarnya itu ada benarnya sih ya, tapi bukan lantas membuat kita berpangku tangan leyeh-leyeh sambil berpikir ya sudah anak kita banyak, nanti rejeki juga bakal datang sendiri.

No man! Kalau kayak gitu ya nggak bisa!
Eh bisa sih. Mungkin lho ya. Anggaplah kita males kerja, ya sudah biarin anak-anak kita mbeledet nggak karuan nggak keramut, gower-gower kelaparan, toh nanti pasti ada entah saudara atau tetangga yang datang merasa pilu dan kasihan melihat nasib anak-anak kita kasih kita makanan! Duhhh ... tapi apa ini yang dinamakan banyak anak banyak rejeki?! Nggak kan!

Ingat, anak itu tanggung jawab kita. Jadi kalau buat saya istilah banyak anak banyak rejeki itu adalah, ketika anak kita bertambah, maka kita menyadari beban tanggung jawab kita bertambah, sehingga kita mau berusaha mengupgrade skill kita untuk berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Dari kemauan kita berusaha mencukupi semua kebutuhan anak-anak kita, sehingga Allah pun meluaskan rejeki kita.

Nah, ketika sebagai orang tua kita mau bersungguh-sungguh bertanggung jawab mendidik dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak, maka insya Allah balasan baiknya akan kita rasakan di kemudian hari. Duh bagian ini saya jadi melow.

Memberikan hal yang terbaik sendiri untuk kami bukan hanya tentang materi. Suami dan saya sendiri setelah melihat episode-episode di atas, jadi sepakat ingin berusaha menjaga kesehatan kami demi masa tua.

Rutin Cek Gula Darah, Salah Satu Bagian Ikhtiar Melakukan Pola Hidup Ketofastosis

Ah itu kan teorinya, prakteknya namanya tua itu pasti ada istilahnya penyakit tua. Iya kami menyadari hal tersebut, tapi justru karena hal tersebutlah, setidaknya kami sudah berusaha untuk menjaga kesehatan kami demi anak-anak kami kelak. Bahasa simpelnya sebisa mungkin kami berusaha biar besok kami nggak ngerepotin anak-anak. Orang tua mana sih yang tega ngerepotin anak-anaknya ... 😘

10 comments:

  1. Zaman dulu, orang tua punya bnyak anak kyknya enak dn nyantai banget. Memetik hasilnya (duh bahasaku) waktu sdh tua.
    Dr keluarga almarhum bpk, saudaranya bnyk, sementara dari pihak ibu, tiga bersaudara.
    Kadang terbersit jg pengen punya bnyk ank, tpi utk saat ini dua aja cukup deh. :D

    ReplyDelete
  2. banyak anak banyak rejeki, karena emang anak yang dilahirkan itu sudah lengkap dengan rejekinya. Kalau kata suamiku, "yang penting kita sebagai orang tua usaha. perkara rejekinya dapat darimana biar Allah yang atur"gitu hihihi

    ReplyDelete
  3. Ngelihat orang tua sakit itu sedih banget, dan sebagai anak pasti berusaha membantu sekuat tenaga. Mertua aku juga lagi sakit, jadi sering bolak balik ke RS lihat orang sakit macam2, semenjak itu saya dan suami jaga pola makan banget, nggak mau kalau nanti sakit parah. Semoga mbak Vety sekeluarga selalu sehat yaa.

    ReplyDelete
  4. Yes. Anak itu tanggung jawab kita
    Adalah kewajiban untuk merawat, mendidik dan memberikan yang terbaik, dan jangan pamrih
    Karena anak juga punya kewajiban yang sama untuk anak2nya kelak

    Jadi, memang sebaiknya kita mempersiapkan masa tua agar tak jadi beban anak.kelak

    ReplyDelete
  5. Banyak anak memang menyenangkan, rumah jadi ramai, kalau ortu saya anaknya cuma 3 hehehehe

    ReplyDelete
  6. Anak dua, belum kepikiran nambah karena kasihan masih kecil-kecil, perhatian akan berkurang kalau mereka punya adik

    ReplyDelete
  7. Moga lekas sehat mertuanya mbak. Wuaaaahh jd seriusan nih ya mau nambah anak lagi?
    Aku kalau liat bayi pengen, tapi kudu mikir ini cuma keinginan atau aku bener2 bisa nanggung dan njawab lbh dr dua nih hehe.

    ReplyDelete
  8. Semoga bumer segera diberi kesehatan ya mbak. Orang jaman dulu memang ada benernya, banyak anak banyak rejeki. Ya paling ngga minim 3 mbak 😁

    ReplyDelete
  9. Bahasa simpelnya sebisa mungkin kami berusaha biar besok kami nggak ngerepotin anak-anak --> reminder yang bagus, Mba. Thanks for sharing yaa.

    ReplyDelete