Thursday, November 23, 2017

Menyetir Mudah dengan Ilmu Matematika

Menyetir mobil ternyata bisa menjadi hal yang tidak mudah bagi sebagian orang. Terutama bagi sebagian emak-emak (sebagian lho ya, jadi nggak semua). Kenapa bisa jadi begitu sulit sih menyetir mobil itu? Kalau kata tante saya sih kerasanya kayak bawa apa gitu yang gede banget jadi berasa kuatir nyenggol sana nyenggol sini.
Saya sendiri sebenarnya belajar menyetir sebelum menikah. Dulu saya sih nggak mikir jauh apa bedanya belajar menyetir jaman muda sama jaman emak-emak. Ternyata, saya baru tahu kalau udah emak-emak pas harus menyetir sendiri itu ada yang namanya kehebohan. Terutama kalau anaknya masih usia bayi. Didudukin car seat nangis gower-gower. Nah, itu cukup bikin si emak keder.

Oke jadi, selama episode tersebut saya belajar untuk tetap tenang. Nggak boleh panik! Yang penting sebelum berangkat jangan lupa berdoa, dan tahu rambu-rambu mana yang boleh dilakukan dan mana yang nggak boleh dilakukan.

Selama menyetir saya selalu menghindari memangku anak didepan kemudi, sekalipun mereka akan menangis gower-gower. Jangan sampai karena kita kasihan, malah bikin celaka anak. Bagaimanapun duduk di depan kemudi itu berbahaya.

Ya meski kita menyetirnya sudah hati-hati, tapi jaman now kan banyak banget kids jaman now maupun kids jaman old yang kalau di jalanan cara menyetirnya udah nggak mau kalah sama pembalap jaman now. 😰

Saya sih mbatinnya, "Oh mungkin mereka kebelet ke toilet jadi nggak sabar dah nyetirnya." 😅
Kalau sudah gitu, ya sudahlah yang waras ngalah saja.

Oke selain tips-tips pada umumnya, ada lagi tips-tips menyetir sepeleh lainnya yang mungkin bisa menjadi perhatian kita.

Saya sendiri beberapa hari ini harus menyetir Gresik-Lamongan, di mana saya harus berjibaku dengan truk dan bus super gede. Ya iyalah namanya truk dan bus ya pasti gede.

Nah, ternyata setelah dipikir-pikir menyetir ini sebenarnya nggak jauh-jauh juga lho dari ilmu matematika.

Kok bisa?

Iya jadi ketika kita akan menyalip bus atau truk besar yang ada di depan kita, maka setidaknya kita harus bisa memikirkan seberapa banyak kecepatan yang harus kita tambah.

Tak sampai di situ, kita harus mengira-ngira space jalanan yang akan kita lalui. Meski space di depan terlihat cukup, yang harus kita perhitungkan adalah sudut kemiringan si bus atau truk ketika terkena goncangan tersebab jalanan yang tidak mulus. Terutama jika melintasi jalanan rel kereta api yang sedikit bergelombang.

Jangan lupa aturan jaga jarak dengan mobil bagian depan. Nah, ini dari dulu ibu suka menasehati agar saya memberi space yang agak jauh dengan kendaraan di depan. Tujuannya apa, untuk ancang-ancang kalau sewaktu-waktu harus ngerem mendadak.

Atau semisal tiba-tiba mobil di depan kita mogok, maka kita bisa dengan mudah mengambil haluan agar mobil kita bisa mengambil lajur jalan sebelahnya.

Selain itu, jangan lupa maksimalkan penggunaan spion saat akan berbelok, mengambil lajur lain, atau saat akan menepi *intinya pokoknya kalau mau pasang lampu sein (kalau saya bilangnya riting) jangan lupa ngintip spion dulu.


Nah yang perlu di ingat antara spion yang di depan sama kiri kanan ini beda. Jadi untuk mengira-ngira apakah jarak mobil yang ada di belakang kita dekat atau jauh kita bisa memastikan dari spion yang ada di depan. Gampangnya abis lirik spion kiri/kanan memastikan ada mobil atau nggak, jangan lupa pastiin lagi lewat spion tengah.

Jadi sudah tahu kan spion depan itu ada fungsinya. Kalau gini saya jadi ingat asisten ibu saya yang dulu suka semena-mena madepin spion (kaca) depan ke kursi penumpang dia hanya demi buat berkaca.

Lagi enak-enaknya ibu saya nyetir lihat spion eh spionnya dimadepin ke dia. Bwakakakakak ... Kocak nih 😂


Ibu saya sampai ngomel. Terus dia baru ngeh ternyata ibu saya tuh nggak lagi berkaca tapi lagi lihat kendaraan yang ada di belakang mobil. 😅

Satu lagi terakhir kita pasti sudah terbiasa kan melihat lampu traffic light yang dilengkapi dengan detikan.

Nah biasanya nih kebanyakan kalau lihat dari jauh detikannya sudah mau habis, makin digas lah kendaraannya. Padahal hal tersebut justru bisa membahayakan.

Kok bisa?

Iya, karena ketika sisi traffic light menunjukkan hitungan mundur akan menjadi lampu merah, maka di sisi lain si traffic light akan menunjukkan hitungan mundur menjadi hijau, sehingga kebanyakan mereka pun akan bersiap-siap menginjak gas pol.


So, sebaiknya ketika hitungan mundur akan menunjukkan lampu merah, sebaiknya kita mulai menghitung untuk memperlambat laju kendaraan kita 😉

Sudah?

Belum juga, ternyata ilmu matematika ini lagi-lagi berguna ketika kita akan memarkirkan mobil. Iya kalau daripada parkir maju, saya pribadi lebih suka parkir mundur, karena saya bisa mengira-ngira seberapa dekat jarak mobil saya dengan tembok kiri kanan (kalau pas di rumah) atau dengan mobil kiri kanan (ketika di parkiran umum) melalui spion saya.


Ngitungnya nggak perlu pakai bawa meteran segala sih, tapi cukup pakai feeling matematika dari dalam hati. Hehe ...

So? Happy safety driving ya ... (eh bener kan ya driving?) 😂😅

Disclaimer : Tulisan ini merupakan salah satu tugas Institut Ibu Profesional, Tantangan 10 hari Level 6 Kelas Bunda Sayang. day-1

1 comment:

  1. kalau truk aku gak berani nyalip karena entah gak pede atau miopi yang parah mbak
    takut percepatan kendaraan tak sebanding dengan kecepatan truk
    jadi, saya memilih melaju dengan kecepatan konstan atau kalau tak memungkinkan lebih baik melakukan perlambatan hingga nilai kecepatan sama dengan nol
    (halah apaan)
    tapi emang aku gak sering nyalip, mending melipir aja, kalo kepepet cari jalan tikus aja, hehe

    ReplyDelete