Wednesday, December 13, 2017

Asyiknya Tinggal di Kota Balikpapan

Jauh sebelum suami akhirnya ditempatkan di kota Balikpapan, sebenarnya terbersit sedikit was-was apakah saya akan betah tinggal di tempat baru. Ada banyak cerita simpang siur dari beberapa orang sekitar. Bahkan mertua saya pun terlihat sempat kuatir dengan pendidikan anak-anak kami. Konon memang selama ini banyak (meski tidak semua) yang memiliki mindset bahwa pendidikan di Jawa lebih bagus dari luar Jawa.


Untuk masalah pendidikan sebenarnya suami dan saya sepakat bahwa pendidikan anak itu yang utama tanggung jawab orang tua. Sehingga mau sekolahnya bagus atau nggak bagus, sebenarnya keberhasilan pendidikan anak itu nggak lepas dari tanggung jawab orang tua juga. Duh sok banget sih ya saya ngomongnya. Hehe ... Tapi ya sudah sih, seperti saran sahabat saya yang dulu sering saya ajak sharing soal pendidikan, katanya seandainya pun nantinya di tempat baru kita nggak nemu sekolah yang kita anggap bagus, kita bisa tetap memilih yang terbaik dari yang terburuk.

So far, saya sudah menyempatkan survey sekolah beberapa waktu lalu, dan Insya Allah sudah menemukan calon sekolah untuk buah hati kami, tentunya dengan berbagai pertimbangan nggak asal nyomot. Nah kan? Artinya ya sudah untuk soal pendidikan saya rasa di Balikpapan ini masih aman. Jangan dibayangkan yang terlalu gimana gitu. Hehe ...

Hal lainnya, disini ternyata banyak hal menarik. Oke untuk mall nya pun menurut saya, brand-brand yang ditawarkan juga nggak kalah dari kota Surabaya. Kalau kata suami, tenang kita nggak sedang tinggal di hutan kok. Seperti beberapa waktu lalu pas saya bingung nyari gagang (tongkat) pel-pel an yang dulu pernah saya beli di ACE Hardware kesingsal waktu dikirim dari Jawa ke Balikpapan, ternyata ada ACE Hardware juga kok di sini. Hehe ...

Salah Satu Sudut Area Bermain di ACE Hardware Balikpapan

Ya meskipun harganya sedikit lebih mahal. Nggak banyak sih, kalau di Surabaya beberapa waktu lalu saya intip harganya sekitar Rp. 199.000,- nah di Balikpapan harganya dibandrol sekitar Rp. 205.000,-. Kalau kata suami sih masih lumrah lah ya, dibanding kita musti endeng-endeng nggembol tongkat pel-pel an di atas pesawat, rempong bo' bawa banyak barang. Hehe ...

Nah, gimana dengan tempat tinggal? Bisa dibilang kami tinggal di sebuah kompleks perumahan yang saya sering asal njeplak bilang rumah kami ini letaknya di atas gunung, padahal suami saya selalu protes bukan di gunung tapi di bukit. Ya saya sih suka bilang lah kan namanya saja gunung. Hehe ... iya di sini masih banyak tempat yang diberi nama gunung, seperti gunung malang, gunung pipa, gunung polisi, dsb semoga saya nggak salah sebut ya. Hehe ...

Ya seperti layaknya tinggal "di atas gunung" jadi kalau mau nge-mall ya lumayan jauh sih ya, karena harus turun gunung melewati jalanan yang menurun dulu. Tapi meski demikian ya masih bisa dibilang masuk kota kok. Buktinya beberapa waktu lalu kami sempat pesan sebuah mesin cuci di salah satu toko elektronik di Balikpapan, dan kami tidak dikenai charge untuk biaya pengiriman, karena katanya lokasi kami masih berada di dalam kota. Horeeeee ...

Oh iya untuk harga mesin cuci saya sendiri nggak hapal sih ya kalau di jawa berapa. Dulu seingat saya sekitar tahun 2010 saya beli mesin cuci merk samsung dengan kapasitas 9,5 kg harganya masih Rp. 2,5 juta. Nah kemaren kami beli mesin cuci merk samsung dengan kapasitas 7 kg harganya sekitar 2,198 juta (alias 2,2 juta lah ya kalau dibulatin).

Horeee Mesin Cuci Baruuu 😍😂

Eh tapi yang nyeseg sih, saya sempat beli obat Renalyte untuk buah hati saya. Seingat saya harganya dulu di Jawa sekitar Rp. 20.000,-an. Nah kemaren saya dapat harga Rp.30.000,-. Shock sih pas lihat HET-nya ternyata harusnya sekitar Rp. 19.000,-. Eh tapi mungkin itu HET untuk harga Jawa kali ya.

Nah lainnya saya nyoba beli mangga, ini kebetulan yang ngelayanin bukan penjualnya langsung sih ya. Harganya kena Rp. 18.000,-/kg padahal di Jawa sudah sekitar Rp. 8000,-/kg. Bwakakakakak ... Tapi saya no complain sih ya, karena saya malah cengengesan sama suami, jangankan 18.000 per kilo, wong kita lho pernah kan beli mangga sekitar Rp. 50.000,-/kg gara-gara ngidam dan waktu itu adanya baru di salah satu toko buah tersbesar di Surabaya. Jadi ya harga Rp. 18.000,-/kg itu masih lebih murah daripada Rp. 50.000,-/kg. Hehe ...

Kalau belanjaan lainnya gimana?
So far, kami sudah coba belanja ke supermarket Gi*nt sih, menurut kami hasilnya nggak jauh beda. Kalau kata suami kayaknya harga-harga di supermarket macam Gi*nt ini masih nasional alias hampir sama semua.

Bicara soal belanja, tadi pagi eh akhirnya saya nemu bapak sayur keliling. Hehe ... Terus ya sudah saya coba belanja di beliau, sekalian survey harga sih.

Oke saya coba test belanjaan nih.


Jadi saya beli wortel, tomat, tahu, tempe, kerupuk, tongkol. Berapa totalnya? Semua cuma Rp. 35.000,-

Dengan rincian :
Tempe Rp. 2.000,-
Tahu Rp. 3.000,-
Kerupuk Rp. 5.000,-
Tomat Rp. 3.000,-
Wortel Rp. 2.000,-
Tongkol Rp. 20.000,-

Si bapak sayur bilang sih, kalau tongkolnya lagi mahal. Soalnya ombak lagi gede jadi nelayan jarang yang melaut.

So far saya masih maklum sih sama harganya. Ini entah saya terlalu maklum, atau saking nggak tahunya harga. Hehe ...

Oh iya, untuk harga telor ayam, di sini jualnya bukan kiloan ya ternyata bijian. Per biji kalau nggak salah sekitar Rp. 1.700,- an lah tadi.

Ah ini masih lumrah sih, mirip kayak harga telor di Indom**et tempat kami tinggal di Surabaya dulu. Nah ketahuan kan jadinya dulu sukanya belanja di mana. Haha ...

Jadi sampai di sini menurut saya sih, istilah Balikpapan kota termahal di Indonesia sedikit terpatahkan, karena ya mahalnya nggak sampai yang bikin so wow gitu.

Oh iya di sini ternyata banyak jasa delivery. Jadi meskipun saya tinggalnya di atas gunung jauh dari pusat keramaian kota, tapi saya nggak perlu bingung sih.

Contohnya saja beberapa waktu lalu saya butuh VCO, ya sudah saya nggak perlu mumet mikir nunggu suami libur kerja dulu baru minta antar ke apotek berburu VCO. Toh saya tinggal wa pesan VCO saja.

Atau seperti hari ini saya lagi curhat ke grup ketofastosis balikpapan, karena beberapa hari ini merasa keliyengan, belum sempat bikin air kaldu sama sekali karena belum nemu yang jual tulang, eh saya dikasih info ada yang jual tulang-tulangan bisa delivery. Udah gitu bisa COD lagi. Wih, ini mah keren banget menurut saya. Memudahkan sekali buat emak rempong macam saya. Haha ...

Eh ini kok saya malah bahas bakulan ya ... Hehe maaf abis seru saja gitu ...

Nah kalau suasana kompleks kami yang sekarang ini sih bisa dibilang "sepi". Dulu sebelum tinggal di sini memang ada beberapa masukan ke kami katanya di situ itu sini nggak enak soalnya sepi banget.

Cuma, waktu itu ya sudah kami mikirnya nggak apa-apalah ketimbang harus LDR an Surabaya-Balikpapan. Saya waktu itu modal Bismillah sama istikharah sih. Hehe ...

Alhamdulillah setelah kami rasa-rasakan justru suasananya itu mirip kayak tinggal di Villa gitu.

Berasa di Villa

Sik ta, saya sampai mikir ini kami yang nyeleneh apa gimana sih 😅

Setelah dipikir-pikir sepertinya nggak juga, karena ada salah satu sahabat saya yang bilang ke saya, "Bersyukurlah kamu bisa tinggal di tempat dengan pemandangan seperti itu, karena bahkan aku musti nyari dulu ke hotel yang viewnya gitu."

Nah kan 😅

Saya jadi mikir, ah iya bersyukur banget. Mungkin ini kami terlalu lama tinggal di Surabaya yang dulu sering penuh sesak dengan macet di mana-mana, belum lagi polusi dsb. Di Surabaya ke mana mata memandang lebih banyak pemandangan gedung-gedung tinggi yang bisa kami lihat. Belum lagi episode pemandangan parkiran mobil juga motor berjajar umpel-umpelan di hampir sepanjang gang (kompleks) tempat tinggal di Surabaya, termasuk kompleks tempat kami tinggal dulu. Jadi pas dapat suasana yang bagi sebagian orang dianggap sepi ini, malah menurut kami suasananya nyaman banget.

Oke berarti nyaman nggak nyaman itu subjektif ya. Hehe ...

Hal lainnya lagi, dulu saya sudah bayangin yang nggak nggak gimana kalau sering lampu mati dsb. Ntar bilangnya nyaman-nyaman nggak tahunya sering lampu mati bisa keder juga kan baru tahu rasa 😅

Sejujurnya jauh-jauh hari sebelum kami memutuskan ikut boyongan semua, saya pribadi sudah survey tanya ke beberapa teman. Salah satu sahabat saya cerita, dulu tetangganya bahkan ada yang punya genset. Jadi saya pun jauh-jauh hari sudah request ke suami minta beliin genset 😂

Meski ada sih teman saya yang bilang nggak usah beli, karena di tempat dia tinggal malah banyak genset yang rusak karena nggak kepakai. Saya pun sempat menyiapkan amunisi emergency lamp yang sudah pakai kipas angin merk krisbow, yang konon katanya kuat sampai 7 jam. Jadi kalau pakai 2 harusnya bisa kuat sampai 14 jam 😅

Oh iya emergency lamp ini saya ini belinya nggak saya khususkan karena mau pindah ke Balikpapan sih ya. Sejujurnya ini emergency lamp sudah saya beli jauh-jauh hari waktu kami tinggal di Surabaya, karena waktu itu mikirnya ada balita di rumah, bisa berabe kalau rewel karena lampu mati 😂😅

Nah tapi namanya rejeki kan nggak boleh ditolak ya, Alhamdulillah sesuatu itu pas suami mengabarkan dia dapat genset dari kantornya. Hehe ... Ceritanya waktu itu kompleks memang lampu mati lamaaaaa banget, karena hujan deras. Jangankan kompleks wong kamar hotel tempat kami menginap saja sempat kemasukan air hujan, saking parahnya waktu itu hujannya. Padahal semua sudah tertutup rapat 😅

Genset Baruuu 😍
Eniway di Balikpapan Juga Ada yang Jual Genset kok. Hehe ...

Ternyata episode hujan "dahsyat" itu cukup bikin lampu mati lama (berhari-hari) yang otomatis mengganggu beberapa pekerjaan suami.

Ya iyalah kan untuk kerja suami butuh laptop. Lah laptop kan baterainya terbatas, masak iya musti nge-hotel dulu cuman buat sekedar nge-charge laptop. Padahal suami saya tipe yang workaholic nggak kenal waktu kerja. Di rumah pun kadang dia musti buka laptop karena tuntutan pekerjaan.

Oh iya teman saya yang menyarankan nggak usah beli genset pun akhirnya juga beli genset, karena mau nggak mau kalau harus menginap di hotel berhari-hari bisa bikin kantong kempes kan. Kalaupun dipaksakan gelap-gelapan di rumah ya jadinya kerjaan malah terbengkalai semua.

So far saya di sini sudah kena 3x episode lampu mati di siang hari dan sore ya meski nggak sampai 5 menit tapi cukup bisa bikin anak-anak heboh. Eh emaknya juga heboh sih langsung laporan by wa ke suami 😂😅

Tambahan lainnya, karena lokasi tempat tinggal kami jauh dari keramaian kemacetan, jadi asyiknya jam tempuh dari rumah ke kantor dan sebaliknya nggak perlu terlalu lama banget.

Dulu waktu di Surabaya saya sering punya impian pas jam istirahat suami bisa menyempatkan pulang ke rumah buat makan siang. Tapi apadaya dulu untuk ke kantor saja membutuhkan waktu setidaknya 30 menit, itu kalau lancar. Kalau macet bisa se-jam-an. Nah pulang kantor dulu jangan ditanya. Suami sering pulang setelah maghrib, ujung-ujungnya sampai rumah malah jam 8 malam kadang lebih, tinggal capeknya doang 😖. Jadi ya sudah jangan pernah berkhayal di Surabaya ada episode suami makan siang di rumah.

Nah kalau di sini asyiknya sudah dekat, bebas macet pula. Jadi ya sudah suami bisa pulang lebih sore di jam normal. Jam normal dalam artian ketika nggak ada kesibukan kantor yang luar biasa. Kalau dulu di Surabaya jam normal pun nggak berasa. Jadi dulu saya sering merasa kesepian. Hehe ...

Saya jadi ingat dulu ada beberapa kerabat dan rekan kerja suami yang nanya, serius keluarga di ajak ke Balikpapan? Apa nggak sebaiknya keluarga tetap di Jawa saja? Kalau saya mikirnya serius banget sih, karena kami prinsipnya makan nggak makan yang penting harus kumpul, karena bagaimanapun kami masih saling membutuhkan figur satu sama lain. Anak-anak masih butuh ayahnya di masa pertumbuhannya, ayahnya juga butuh anak-anaknya untuk penyemangat lelahnya saat bekerja. Saya pun masih butuh mereka untuk penyemangat saya menjadi lebih baik.

So far saya jadi mikir cerita teman saya yang dulu sempat tinggal di Balikpapan terus pindah ke Jakarta malah rindu kembali ke Balikpapan. Padahal waktu itu saya mikirnya bukannya di Jakarta malah enak, karena semua fasilitas pasti lebih lengkap. Tapi setelah saya nyoba tinggal di Balikpapan ini, saya jadi mikir, "Oh pantesan temen saya lebih milih tinggal di Balikpapan."

Soalnya kenapa?
Ya seperti kata teman saya yang lainnya, Balikpapan itu bukan hutan kali!!! 😅

Saya pun sempat mikir, jangan-jangan nanti saya makin jatuh cinta sama kota yang satu ini jadi males kalau disuruh balik Surabaya yang selalu disibukkan dengan macet, polusi dan banjir di mana-mana. Hehe ...

Kalau guru nulis saya sempat nanya, "Mbak di sana nyaman ya?"

Saya sih jawabnya, "Nyaman, di sini suasananya cocok buat penulis yang butuh ketenangan untuk memunculkan inspirasi menulisnya."

Oh iya, beberapa waktu lalu saya sempat diajak suami untuk menghadiri acara family day kantornya di sebuah pantai, yang ternyata menurut kami pantainya lumayan keren juga 😍


Udah ah, ntar malah pengen pindah ke Balikpapan semua, bisa berabe 😂😅

1 comment:

  1. Asyik juga yah di Balikpapan. Kalo gak ada macet gitu, jadi masih banyak sisa waktu yg bisa dipakai untuk mengerjakan hal lain :D

    Disana udah ada gojek belum, kak?

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    ReplyDelete