Monday, December 18, 2017

Ya Allah, Izinkan Aku Hamil

Siang ini saya terharu, ketika mendapat message (inbox) di instagram saya @vety_fakhrudin tentang tulisan di buku Ya Allah Izinkan Aku Hamil.

Sebenarnya apa sih yang membuat saya terharu? Tak lain tak bukan saya jadi mencoba memflash back semua yang sudah saya tulis di sana. Kemudian saya menemukan jawaban, bahwa apa yang ada di dunia ini tak ada yang kebetulan. Seperti halnya mengapa  dulu Allah memilih kami menjadi bagian dari pejuang penanti kehamilan.

Sebenarnya jika disuruh menceritakan semua secara detail, saya pun malu, karena bahkan saya merasa, Ya Allah ternyata saya dulu selebay itu, kekanak-kanakan, egois, dsb.

Saya tidak bilang, saya yang sekarang lebih baik dari yang dulu, karena bahkan ya sudah dari dulu saya ya gini-gini saja. Hanya memang setelah masa-masa penantian buah hati tersebut sedikit banyak saya jadi banyak berpikir.

Saya pun mengakui saya bukan pribadi yang penyabar, tapi justru dari penantian buah hati tersebut saya dituntut belajar bersabar. Saya mulai belajar bahwa  :
➡️ Adakalanya apa yang kita inginkan tak bisa serta merta kita dapatkan saat itu juga. ➡️ Bahwa tak semua tuntutan itu bisa terkabul saat itu juga.
➡️ Terkadang apa yang kita anggap baik, ternyata bukan yang terbaik untuk kita.

Dan sebagainya ...

Di titik ini bisa dibilang apa yang jadi perenungan saya tersebut sering saya tuangkan dalam tulisan.

Waktupun terus bergulir, setelah sekian lama dalam masa penantian akhirnya Alhamdulillah Allah memberi kami rejeki buah hati. Ya, Alhamdulillah Allah mengizinkan saya hamil dan melahirkan. Nggak tanggung-tanggung bahkan Allah memberi jarak kehamilan yang dekat antara anak pertama dan ke dua saya.

Di saat anak pertama baru berusia 10 bulan, saya hamil anak kedua. Sehingga saat lahir usia mereka pun hanya terpaut 1,5 tahun.

Saya jadi ingat dulu ada seorang teman yang protes di forum komunitas yang berisi para pejuang penanti buah hati. Dia mengajukan komplain kepada saya. Kurang lebihnya dia berkata, apa masih kurang saya diberi satu anak hingga saya tidak memberi kesempatan teman-teman lainnya hamil dulu sebelum akhirnya saya memutuskan hamil untuk ke dua kalinya?

Jujur saat itu saya emosi menanggapi komentarnya, karena bahkan apa dia lupa saya pun pernah menanti buah hati lama, jadi apa sepantasnya saya menolak rejeki buah hati untuk yang ke dua kalinya? Toh pikir saya, ini anak saya dengan suami saya. Bukan dengan suami dia.

Dia pun sepertinya ngambeg dengan saya, hingga entah bagaimana saya lupa sama dia. Lupa dalam artian saya lupa dulu nama teman saya ini siapa. Hehe ...

Saya pun merenung, ah iya mungkin baginya saya nggak adil karena nggak kasih kesempatan dia hamil dulu malah saya hamil nerecel. Apa yang kira-kira ada di benaknya saat itu?

Ah mungkin hampir sama dengan apa yang ada dipikiran saya dulu, ketika saya tak kunjung hamil malah banyak lingkungan sekitar hamil, di situ saya sempat punya pikiran gila, jangan-jangan "jatah hamil" saya keliru ke sebelah nih atau keliru dikirim ke rumah teman saya nih.

Lalu saya pun mengingatkan diri saya, bahwa rejeki hamil itu nggak akan tertukar. Sudah ada bagiannya masing-masing.

Mungkin ini seperti halnya kehamilan saya yang setelah sekian lama menanti malah dikasih rejeki hamil lagi dalam waktu dekat.

Kesundulan mungkin begitu bagi sebagian orang. Tak jarang ada suara sumbang di belakang kami. Saya pun sempat kebawa arus perasaan kesal dengan suara sumbang-sumbang tersebut. Bagaimana tidak, apa salahnya saya hamil dengan jarak berdekatan?

Ternyata banyak yang beranggapan memiliki anak berjarak usia dekat itu merepotkan. Sehingga banyak yang berujung sering mengeluh. Mungkin ini lho ya yang bikin mereka kesal jadi akhirnya mengeluarkan suara-suara sumbang.

Saya sendiri mencoba menikmati kehebohan handel dua buah hati saya ini. Meski ya bisa dibilang saya memang bukan ibu sempurna, saya masih kayak emak-emak rock and roll yang suka bikin kesal orang sekitar saya.

Hingga kemudian suatu ketika saya mulai (sok) sibuk menyalurkan hobi menulis saya, di mana sesekali saya harus dikejar deadline. Di situ hati saya mulai meleleh ketika melihat aktivitas kakak adik yang saling mengisi satu sama lain.

Saya jadi berpikir, iya benar Allah bukan sedang lupa. Allah memberi di saat yang tepat. Seperti halnya ketika saya menanti kehadiran buah hati, mungkin Allah ingin mengajarkan arti sabar, agar saya yang bukan penyabar ini bisa mengontrol emosi saat menghadapi anak-anak.

Begitu juga ketika Allah memberikan buah hati ke dua yang berjarak dekat dengan si kakak. Ya, Allah memberi adik untuk si kakak, agar si kakak tak kesepian, begitu juga sebaliknya. Apalagi di tempat kami yang baru ini kakak adik belum punya teman sebaya, tapi tak masalah. Kebosanan mereka tetap bisa teralihkan dengan bermain bersama. Ya sudah hitung-hitung sekalian agar hubungan mereka sebagai kakak adik semakin kompak.

Nah bagaimana untuk rencana kasih adik lagi? Kami sendiri tidak membatasi, tidak menolak tapi lebih ke memanajemen. Di mana suami dan saya setuju memberi adik lagi tapi dengan catatan menunggu waktu yang tepat bagi kami.

Bagaimana dan kapan waktu yang tepat? Wallahualam, biarkan Allah memberikan di waktu yang tepat, karena hamil adalah rahasia Allah Swt.

3 comments:

  1. Setuju banget, kehamilan itu memang rahasia Allah ya.. Guru TK anakku jugaawalnya sempet susah hamil sampe berobat kesana kesini, eh alhamdulillah sekarang lg hamil anak ke-4.. Ehehehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener, hamil itu rahasia Allah. Wah selamat ya buat guru TK anaknya mbak 😍

      Delete
  2. Pengen banget baca bukunyaaa, ada di ebook ga ya bun?

    ReplyDelete