Wednesday, January 10, 2018

Kapan Usia Tepat Anak Masuk Sekolah??? Pertanyaan Yang Sering Bikin Galau Sebagian Ortu

Sebenarnya sudah lama, saya sering membaca pembahasan tentang kapan usia tepat anak sebaiknya sekolah? Teorinya sih gampang, kebanyakan akan menjawab usia 7 tahun sebaiknya anak baru dimasukkan sekolah tingkat SD. Hal ini dikaitkan dengan teori kapan anak sebaiknya diajarkan calistung alias membaca menulis dan berhitung. Di mana sudah banyak dibahas, salah satu info yang pernah saya dapat dari salah seorang sahabat yang dulunya pernah bergelut di bidang pendidikan, bahwa ketika usia 7 tahun, anak akan siap belajar calistung karena terkait dengan bagian otaknya.

Hal ini berhubungan dengan sudah tersambungnya semua synaps di otaknya, sehingga anak mulai bisa menyimpulkan suatu hal.

Nah, prakteknya gimana? Prakteknya hal tersebut cukup bikin menggalau banyak orang tua, termasuk saya. Haha ... Lho kok bisa? Iya, karena ini berhubungan dengan bulan lahir anak. Iya kalau anaknya lahir di awal bulan, penentuan umurnya lebih enak, bisa tepat. Gimana kalau anaknya lahir di bulan akhir tahun, misal oktober, november, desember. Nah lho???

Soalnya contohnya gini :
Si A lahirnya oktober 2013, maka biar masuk SD usia 7 tahun, gimana ngitungnya kalau tahun ajaran barunya selalu dimulai bulan juni?
Oke mungkin kalau kita saklek harus minimal 7 tahun yang artinya bulannya nggak boleh ditawar, maka tentu untuk bisa masuk SD kita akan memasukkannya di bulan juni tahun 2021, yang artinya masuk TK A nya 2019 kan?
Jadi :
TK A juni 2019/2020 si anak usianya 5 tahun 8 bulan
TK B juni 2020/2021 si anak usianya 6 tahun 8 bulan
SD juni 2021/2020 si anak usianya 7 tahun 8 bulan

Sudah selesai urusan???
Belummmmm mari kita lihat dari sisi tahun
ketika si anak masuk tahun 2019, sekilas jika melihat tahun kelahirannya maka seakan-akan si anak terlambat masuk sekolah TK di usia 6 tahun. Ya iyalah coba 2019 kurangin 2013 secara mentah-mentah berapa? 6 kan?

Nah kalau mau memperhitungkan dari segi bulan juga cukup bikin cekot-cekot.
TK A juni 2018/2019 si anak usianya 4 tahun 8 bulan
TK B juni 2019/2020 si anak usianya 5 tahun 8 bulan
SD juni 2020/2021 si anak usianya 6 tahun 8 bulan → masih kurang 4 bulan sebelum usia 7 tahun

Kalau TK masih nggak masalah, SD gimana? Otomatis kalau 2021 baru masuk SD artinya usia anak akan terlihat sudah 8 tahun. Nah ini yang jadi pertimbangan kami dikuatirkan si anak suatu saat akan menjadi bahan bullyan atau nggak pede karena dianggap atau merasa paling tua di kelasnya, yang tentunya akan berpengaruh dari segi psikis si anak juga kan?

Seorang teman ada yang bilang, mau bulan awal atau bulan tahun sama saja sih mbak. Ehm ... saya sempat mikir kok bisa sama? Harusnya kan beda. Pasti ada yang salah ini, karena anggaplah si anak lahir januari 2013, maka perhitungannya lebih gampang :
Juni 2018 otomatis si anak sudah usia 5 tahun kan? lebih tepatnya 5 tahun 5 bulan.
Juni 2019 si anak sudah 6 tahun 5 bulan.
Juni 2020 si anak sudah 7 tahun 5 bulan.
Beres selesai urusan, nggak perlu mikir kita mau ikut usia sesuai patokan tahun saja, atau harus detail memperhitungkan bulan kan!

Terus gimana dong?
Sejujurnya, saya pribadi sudah berkali-kali sharing dengan suami, pada intinya kami sejauh ini sepakat pakai pembulatan matematika ke atas. Di mana jika angka di belakang koma lebih mendekati usia terendah maka kami membulatkannya ke usia terendah tadi. Misal nih di tahun 2018 anak kami masih usia 4 tahun 4 bulan, maka kami sepakat usia anak dibulatkan 4 tahun saja. Tapi kalau di tahun tersebut kelebihan bulannya mendekati usia berikutnya, maka akan kami anggap sesuai usia berikutnya. Misal sudah 4 tahun 8 bulan, karena hanya kurang 4 bulan menuju 5 tahun ya sudah kami anggap pembulatan si anak sudah 5 tahun.

Sudah gitu?
Belummmmm ... Faktanya kami sempat  mencoba minta pendapat dengan beberapa kepala sekolah TK di sini waktu survey sekolah, dimana disampaikan saat ini ketika masuk SD sudah diberlakukan sistem baru, yaitu dari pusat sana sistem akan menghitun langsung apakah si anak sudah siap masuk SD apa belum. Kalau belum maka meskipun si anak sudah lulus dari TK dan dipaksakan masuk SD, maka data si anak tidak bisa didaftarkan di pusat. Efeknya nantinya ke nomer induk siswa. Kalau data si anak nggak terdaftar, maka anak tersebut nggak akan bisa ikut ujian kelulusan. Nah lho ...

Terus gimana?
Ya sudah mari menggalau bersama ... haha ... solusi nyeleneh nih ...

Okelah sebagai ortu justru di sinilah tantangan kita.
Saya pribadi bersama suami, mencoba untuk terus mendiskusikan hal tersebut lagi lagi dan lagi (pokoknya sampai mual-mual dah ...), dan kami menentukan beberapa langkah kami ke depannya.

Kami mencoba mengikuti alurnya saja. Oke kami memang memutuskan untuk pembulatan ke atas dengan berbagai pertimbangan tadi, jadi kami akan tetap mencoba mendaftarkan anak kami di usia pembulatan ke atas tadi. Tentunya dengan catatan usia bulan anak kami lebih mendekati usia berikutnya (Setidaknya 4 bulan menuju usia selanjutnya).

Terus bagaimana terkait dengan kesiapan synapsnya yang saling terhubung dalam otak terkait pembulatan tadi?
Kami sepakat, nanti ketika akan masuk SD, maka kami juga harus memperhitungkan kesiapan si anak dengan mempelajari tumbuh kembangnya. Kalaupun ternyata feeling kami mengatakan si anak belum siap masuk SD ya sudah jangan dipaksakan, nanti malah kasihan otaknya kan. Makanya itulah PR kami banget. Soalnya saya sendiri belum menemukan jawaban tepat terkait apakah harus benar-benar pas usia 7 tahun semua synapsnya terhubung sempurna, ataukah ada pemberlakuan "sedikit" pembulatan usia terkait synaps tersebut. Hehe ...

Hal lainnya yang perlu kami pertimbangkan, jikalau ternyata sistem sekolah atau pusat pendidikannya nolak, ya sudah artinya memang sudah jalannya anak kami belum cukup umur. Hehe ...

So far, kami sudah coba tanya-tanya tentang sistem usia dari pusat ini ke beberapa kepala sekolah TK yang berbeda, hasilnya ada yang mengatakan usia nya memang harus minimial 7 tahun atau lebih agar bisa diterima di sistem, tapi ada juga yang bilang kalau hanya kurang sedikit bulan masih bisa. Konon ada yan bilang 6 tahun 8 bulan sudah bisa diterima SD. Oh iya ini yang saya survey sementara sekolah swasta ya, bukan negeri. Jadi teori kalau mau sekolahin anak lebih dini disuruh pilih sekolah swasta kali ini agak terpatahkan. hehe ...

Oh iya so far, kami bisa dibilang termasuk jalur oran tua yang mungkin dianggap nyeleneh oleh sebagian orang, karena kami sepakat anak kami nggak usah Play Group (Saya nggak nyebut PAUD, karena ada yang bilang PAUD ini konteksnya luas, nggak hanya Play Group).

Banyak kerabat yang menyarankan kenapa sih anaknya nggak disekolahkan PAUD saja sih (dalam hal ini banyak kerabat yang menyebut PAUD itu = Play Group). Kalau nggak salah bahkan ada yang bilang di luar sana PAUD (Play Group) itu sudah wajib lho. Sempat menggalau juga dapat info gitu. Tapi setelah saya searching lagi, alasan di luar sana disarankan PAUD karena ternyata di lapangannya alasannya anak yang sudah menempuh PAUD lebih mandiri ketika di jenjang selanjutnya. Hemmm masuk akal sih ... Nah tapi justru karena itulah sebagai koreksi kami terutama saya yang lebih sering membersamai anak di rumah ketimbang suami yang harus kerja. Iyalah kami bagi tugas.

Jadi oke kami sepakat anak-anak kami nggak pakai PAUD Play Group dengan alasan, agar bonding (ikatan) anak-anak dengan keluarga lebih kuat. Jadi diharapkan nantinya anak-anak tidak mudah terpengaruh terutama hal-hal negatif dari luar. Tapi bagaimanapun kami juga harus sadar kalau kami salah dalam membersamai maka bisa menjadi boomerang untuk kami.

Salah gimana maksudnya? Ya semisal jangan sampai sakin seringnya di rumah alih-alih agar kuat bonding, malah jadi bosan karena aktivitasnya ya gitu-gitu saja. Apalagi emaknya nih, jangan sampai karena sudah mual-mual 24 jam gitu-gitu saja sungut sama taringnya jadi keluar semua. Kalau gitu kan nanti anak-anaknya malah kabur semua, nggak percaya sama "keluarga" karena dianggapnya emaknya kayak monster *mau bilang kayak setan kok nggak tega ... haha ...

Bagaimana dengan home schooling? Kayaknya itu pilihan paling oke terkait kegalauan usia nanggung dan sistem penerimaan murid tadi kan. Ya udah kita nggak usah ruwet mikir umur mau usia berapa anak masuk TK, kapan masuk SD, kan sudah homeschooling. begitu kira-kira yang pernah terbersit dalam pikiran kami.

Untuk homeschooling sejujurnya kami, terutama saya masih belum siap. Lho kenapa? Bukannya emak bapaknya sudah pintar? Pendidikannya sudah tinggi?
Pun emak bapaknya sudah pintar, tapi rasanya lebih afdol kalau kami juga memberi kesempatan kepada anak-anak kami belajar kepada yang lebih berkompeten. Saya jadi ingat ibu saya pernah bilang, pintar saja nggak cukup, karena ada beberapa orang pintar tapi nggak bisa kalau disuruh menjelaskan.

Alasan lainnya ya balik lagi ke poin tadi, kalau homeschooling kami masih kuatir anak-anak malah mbelenger (bosan) karena harus 24 jam ketemu kami terus menerus. Tapi meski demikian, suami dan saya juga sepakat kami harus mempersiapkan kemungkinan homeschooling kalau ternyata tidak ada sekolah yang sesuai atau setidaknya mendekati visi misi kami.

Jadi sekarang ya sudah daripada galau nggak berujung mikirin kapan usia tepat anak kami masuk sekolah terkait usia nanggungnya tadi, kami sepakat untuk fokus dengan mensupport apa yang menjadi minat dan hal-hal pendukung lainnya dulu dari rumah.

Sembari mengamati, sembari mempelajari agar kedepannya kami nggak salah langkah dalam menentukan pendidikan bagi anak-anak.

Contohnya apa?
Misal kemandirian ke toilet. Dulu saya pernah dapat saran, ya sudah sekolahin PAUD aja enak lho, nanti tahu-tahu anak sudah bisa lepas popok. Saya lebih sreg dan puas ketika anak-anak berhasil lepas popok dari rumah.

Hal lainnya tentang kemandirian. Bagaimanapun saya berharap ketika anak-anak sudah berada di usia sekolah, mereka sudah siap dilepas bersosialisasi di tengah masyarakat dengan aman. Misalnya untuk urusan ke toilet.

Untuk keseharian, seperti pagi ini, saya mencoba membiarkan si kakak bereksplore dengan bawang putih.


Iya sejujurnya terkadang hal-hal sepele gini bikin emaknya keder. Lho kenapa? Kan cuman bawang putih saja? Lah kan kalau kotor semua bisa bikin emak spanneng. haha ... Padahal justru berani kotor itu kan berani mencoba bisa bikin kreatifitas meningkat.

Lha kalau apa-apa dibatasin kapan anak bisa kelihatan minat dan bakatnya. Hehe ... Saya jadi ingat dulu, pernah sekali pas saya mau coba mengeksplore dapur, saya malah kena omel ibu. Katanya saya nggak usah ikut ruwet di dapur, nanti malah bikin dapur kotor jadi makin kesel karena kerja dua kali. Hehe ...

Okelah jadi kayak tadi pagi, sempat sih saya mikir mau mencegah si kakak ikut ruwet di dapur. Tapi kemudian saya mencoba melihat dari sisi yang berbeda. Ya sudahlah kan lumayan saya ada yang nemenin di dapur, ada yang bantuin kupas-kupas bawang jadi seenggaknya saya bisa hemat tenaga untuk kupas bawang. Urusan kotor bisa dipikir lagi nanti. Kalau capek ya sudah biarin saja dulu, kalau nggak ya kenapa nggak sekalian ngajak kakak belajar membersihkan dan bertanggung jawab. hehe ...

Setelah selesai main bawang putih, saya ajak si kakak adik beres-beres kamar yang berantakan. Di sini nampak banget si kakak males banget disuruh beres-beres 😑

Si adik ada saja alasannya buat ngales 😑

Ini kalau kata teman ibu saya, jangan-jangan anaknya tipe acak apa gitu *duh lupa namanya haha ...

Di mana setelah saya googling, justru dari sebuah penelitian bahwa, anak yang kamarnya sering berantakan itu :
1. Kreatif
2. Berjiwa petualang
3. Mudah beradaptasi

Alasannya simpel, karena mereka lebih meluangkan waktunya untuk berkreasi eksplore sana sini ketimbang memikirkan waktu untuk beres-beres kamarnya. Hehe ...

Meski demikian, ternyata setelah selesai membersihkan, mereka bisa sok selonjoran sambil berkata, "Enak ya mam ... Kamarnya harum ..."


Eaaaaaa ... Saya pun hanya berkata, "Oke enak kan kalau kamar bersih hati kita jadi lebih adem dan tenang nggak sumpek."

"Iya mam ..." begitu jawabnya singkat.

Okelah untuk saat ini, sementara mungkin biar saya fokus eksplore apa minat anak-anak dulu dari rumah ketimbang kepala cekot-cekot mikir jauh ke depan. Hehe ...

Bagaimapun iptek terus berkembang, penelitian selalu ada yang baru. Tidak menutup kemungkinan ke depannya kami berubah konsep tentang usia tepat kapan anak-anak masuk sekolah, yang penting tugas kami sebagai orang tua terus meng-upgrade diri untuk anak-anak.

No comments:

Post a Comment