Sunday, January 14, 2018

Mencoba Menggali Minat Kakak Adik dari Keseharian

Maksud hati pagi ini maunya main ke pasar, terus lanjut ke pantai. Apa daya, tiba-tiba kehabisan air. Mau nggak mau kami harus nunggu air datang. Jadi ya sudah sembari nunggu air kami nggak ngapa-ngapain selain nonton tv sambil menebar bauk asem karena belum mandi. Lah gimana mandi kalau airnya saja nggak ada 😅

Setelah airnya datang, kami segera balapan mandi. Akhirnya karena waktu sudah menjelang pukul 3 sore, ya sudah kami memutuskan main ke mall saja.

Di mall kami sempatkan belok ke toko buku Gramedia. Kebetulan memang ada buku yang saya cari. Nah si kakak adik ternyata minta dibelikan buku. Tapi karena tanggal tua jadi ... Ehm ... Maaf ya nak bukunya 1-1 saja dulu. Hehe ...

Sekilas memang kalau dipikir-pikir kok ya pelit amat ya, padahal itu kan buku. Tapi ya sudah sih, setidaknya dengan membiasakan memilih mana yang paling dibutuhkan, maka kami berharap suatu saat kakak adik bisa mempunyai kemampuan untuk memanajemen prioritas dalam hidupnya.


Setelah dari toko buku, kami menyempatkan mampir mencari dompet untuk suami yang memang sudah bulukan.

Awalnya sih sempat ragu, soalnya emang lagi tanggal tua 🤣

Tapi akhirnya malah beli, soalnya si kakak yang sejak awal sudah antusias memilihkan dompetnya, malah nanya, "Lho mam kok nggak jadi sih. Nanti biar kakak yang bayar ke mbaknya."

Ternyata dia sempat kecewa kalau nggak jadi karena berarti dia pengen yang bagian bayar ke kasirnya.

Ya sudah akhirnya kami memutuskan jadi beli, sekalian biar ngajarin si kakak berani melakukan transaksi di kasir. Mumpung bocahnya semangat.

Dia sempat bingung memilih antrian, hingga ada bapak-bapak yang tiba-tiba nyelonong pas dia noleh. Belum lagi pas adik saya (si om) yang memang sejak awal ikut belanja dompet tiba-tiba nyelonong di depan si kakak pas saya arahkan dia ke kasir sebelahnya.

"Lho om. Kan harusnya kakak duluan," begitu protesnya.

Saya sih tersenyum geli mendengar protesnya. Lalu saya beri penjelasan, "Iya soalnya kakak dari tadi mau antri bingung sendiri kan. Kakak nggak berdiri di belakang antrian pas, jadi orang nggak tahu kalau kakak mau antri. Lagipula mamam kan sering bilang kalau antri jangan ditinggal-tinggal. Kalau ditinggal-tinggal ya ditempatin orang."

Kakak pun kemudian segera mengambil posisi antri siaga. Hehe ... Lalu memberi saya kode pokoknya biar kakak saja yang antri, kakak sudah berani bayar sendiri.

Oh iya tadinya si kakak juga sempat minta ajarin saya ketika akan minta nota dompet untuk bayar ke kasir. Jadi maunya saya saja gitu yang bilang. Eh si kakak dengan tegas bilang, "Mamam, kakak saja! Jadi gimana ngomongnya?"

Saya hanya menjawab, ya sudah bilang saja, "Mbak ini pakai nota nggak?"

Si kakak lalu mengikuti arahan saya, "Mbak ini pakai nota nggak?"

Mbak SPG pun tersenyum sembari menjawab dan meminta dompet tersebut untuk dibuatkan nota.

Saya lihat si kakak terlihat berbinar ketika meminta ambil alih proses transaksi maupun komunikasi ketika belanja tersebut. So far memang, Alhamdulillah saya lihat si kakak ini perkembangan di bidang verbalnya terlihat pesat.

Sempat berdiskusi dengan suami, apa kelak kita arahkan si kakak untuk memboost kemampuan berbahasa dan komunikasinya saja ya. Let's see ... Soalnya mereka masih balita, jadi kami masih harus menggali lebih jauh lagi. Hehe ...

No comments:

Post a Comment