Tuesday, January 9, 2018

Menggali Minat, Bakat, dan Potensi Anak

Beberapa waktu lalu, saya sempat berdiskusi dengan salah satu sahabat, yang dulunya pernah berprofesi menjadi pengajar. Mbak Enji, sebut saja begitu saya memanggilnya. Kalau sebelum-sebelumnya kami suka bahas kapan waktu tepat anak sekolah, sampai apa yang harus kita persiapkan saat mencari sekolah tepat untuk anak, maka kali ini kami membahas soal fokus menggali minat, bakat, dan potensi anak.



Seperti biasa kami sepakat, jika sebagai orang tua sebaiknya kami bisa menggali dan menemukan minat serta bakat anak-anak, dengan tujuan agar kelak anak bisa bahagia dengan apa yang dikerjakan mereka.

Tapi memang diakui atau tidak, faktanya menemukan minat dan bakat anak-anak itu tidak mudah.

Lho memang kenapa kalau anak-anak nggak bekerja sesuai minat dan bakatnya? Apakah mereka tidak bisa menjadi sukses?

Tidak, saya dan suami sendiri punya sudut pandang bahwa orang bisa sukses meskipun bekerja tidak sesuai minat dan bakatnya. Hanya saja kalau dipikir lagi secara logika, nggak sesuai minat saja bisa sukses, kan apalagi kalau kerjanya sesuai minat dan bakatnya 😍

Bisa-bisa kesuksesan tersebut menjadi sebuah kesuksesan yang makin luar biasa, karena mereka mengerjakannya dari dalam hati dengan bahagia.

Suami dan saya sendiri memiliki pengalaman, kebetulan kami memang dulu bisa dibilang melakukan hal tidak sesuai minat dan bakat.

Konon katanya ketika penjurusan suami sebenarnya tertarik masuk IPA, tetapi pada akhirnya suami disarankan masuk IPS atas rekomendasi orang tua, hanya karena kuatir nggak bisa nangkap pelajaran. Hal ini terjadi juga di adiknya.

Sehingga pilihan selanjutnya terbatas. Kalau untuk suami dia tetap berusaha survive mengambil apa yang disukainya dari yang tidak disukainya.

Sebaliknya, si adik jadi semacam kurang minat. Kalau info dari suami iya memang dulu si adik ini sebenarnya minatnya ya utak atik mobil-mobilan dsb, jadi sebenarnya mungkin dia minatnya di bidang tehnik.

Tapi ya sudah ... Mau bagaimana lagi ...

Nah ini juga sebenarnya kejadian di saya 😂 Semacam nyasar ... Lho kok bisa? Iya saya dulu itu suka gitu menelaah kejadian yang ada di sekitar saya. Jadi mimpi saya jadi psikolog.

Lalu suatu ketika ibu pernah bilang, mau jadi psikolog apa? Wong kamu pemarah gitu. Psikolog itu orangnya pengertian.

Oke akhirnya saya ikutin mau beliau, pasrah deh masuk IPA. Faktanya ternyata memang saya jadi terseok-seok ketika mengambil jurusan IPA, meski akhirnya saya berhasil menyelesaikannya. Waktu itu bayangan saya, ya sudah sih saya maksimalkan kemampuan saya, urusan nanti hasilnya pas-pas an ya udah. Hehe ... Ngongsro ngongsro deh 🤣😅

Dalam benak saya selalu ada bayangan, suatu saat saya harus bisa move on dari zona berat tersebut.

Hingga Allah seperti menjawab keluhan saya, saat itu kami menanti buah hati kami hampir 5 tahun. Nah tiba-tiba saat saya menanti tsb, salah seorang dokter kandungan menyarankan saya resign dulu. Konon katanya bisa jadi kelelahan saya selama bekerja membuat saya sulit hamil.

Subhanallah, entah bagaimana ada perasaan plong di hati 😅
Ternyata suami mensupport penuh saran sang dokter.

Makin ke sini suami sering mengoreksi saya, salah satunya menurutnya dulu saya termasuk orang yang ceria dan kreatif jadi harusnya saya bisa mengembangkan potensi kekreatifan saya.

Tapi sayangnya sepertinya saya sudah terlalu lama lupa dengan minat saya, karena terlalu fokus dengan hal lain.

Lalu makin ke sini suami memberi saran kepada saya untuk mengasah kemampuan menulis saya, karena menurutnya saya sering bisa mengolah kata menjadi sebuah tulisan.

Dari situ ibu saya lalu mengakui. Katanya konon ibu juga merasa sepertinya saya punya bakat menulis. Hal tersebut didasarkan pada penemuannya akan tulisan cerpen yang pernah kutulis. Nah kata ibu sampai sekarang cerpen tersebut dicarinya, tapi nggak ketemu. Hehe ... Gimana bisa ketemu kalau kertasnya saja sudah saya bakar. Iya saya bakar, karena waktu itu saya merasa nggak pede. Hehe ...

Oke jadi dari cerita tersebut PR banget untuk kami terus fokus menggali minat, bakat anak-anak. Koreksi kami jangan sampai kami justru meredupkan minat dan bakat mereka dengan kalimat yang menjatuhkan.

Nah, tapi karena memang usia si kakak adik masih di bawah 5 tahun, jadi masih belum nampak apa minat dan bakat spesifiknya. Oleh karena itu tugas kami adalah mensupport dan berusaha memfasilitasi kegiatan apa yang membuat wajah mereka "sumringah" (cerah) ketika mengerjakannya.

Seperti biasanya pagi ini, saya perhatikan si kakak sangat antusias ketika menggambar. Bahkah terkadang si kakak suka menggambar apa yang ada di imajinasi nya, yang bahkan menurut saya, kami belum mengajarinya.

Versi Kakak : Ini Gambar Monster
Oke, mungkin kalau diasah kelak bisa jadi Ilustrator
Hehe ...

Tak hanya menggambar, sesekali dia mencorat coret kertas.

Versi Kakak : Ini Kakak Nulis Nama Kakak
Oke, mungkin kalau diasah bisa jadi penulis buku best seller kelak. Hehe ...

Selain menggambar si kakak dan adik ini paling suka kalau disuruh main. Kalau kata suami tempo hari nyoba ngajak sharing si kakak, "Kakak, kenapa sih kakak suka main?"

Jawabannya, "Maaf ayah, kakak masih kecil, nggak tahu kenapa kakak suka main."

Saya yang di sebelahnya langsung cengengesan ketawa, sambil mbatin, "Alhamdulillah cerdas sekali jawabannya ... Hehe ..."

No comments:

Post a Comment