Friday, January 12, 2018

Pentingnya Sebuah Pengakuan dan Penghargaan

Ibu rumah tangga, mungkin begitu salah satu sebutan yang sering membuat kita merasa diabaikan, disepelekan atau entahlah apa lagi namanya. Saya sendiri ingat betul ibu pernah curhat karena mendengar ada seorang kerabat yang mengatakan kurang lebihnya, "Ngapain sekolah apoteker itu sudah ada contohnya lulusan apoteker pengangguran."
Permisi Ibu Rumah Tangganya Lagi Olah Raga
Hehe ...

Dih baper kan ... Hehe ... Awalnya iya saya baper, terus sering cerita ke suami. Kata suami, "Ya sudah biarin mereka mau bilang apa, yang penting kita fokus sama tujuan keluarga. Nggak usah kita capek-capek menjelaskan toh mereka nggak akan paham alasan kamu memilih jadi ibu rumah tangga. Lagi pula biasanya orang yang suka meremehkan orang lain itu salah satunya karena mereka ingin menutupi kelemahannya di depan orang lain."

Dulu sempat mikir, sayang banget kalau ilmu jadi sia-sia nggak dipakai. Gimana nanti pertanggung jawabannya kelak.

Suami waktu itu cuma simpel jawabnya, "Iya ilmu yang kita dapat kelak memang akan dipertanyakan pertanggung jawabannya, tapi anak-anak dan keluarga kita juga tetap harus dipertanggung jawabkan lho ya!"

Setelah akhirnya saya memutuskan pilihan yang kontra, faktanya saya merasa memang ilmu yang sudah saya dapat selama ini nggak pernah sia-sia. Terutama untuk suami dan anak-anak saya.

Nah kalau dulu saya full di rumah, akhir-akhir ini saya berusaha mencoba mengisi hari-hari saya dengan sesuatu yang menyenangkan. Salah satu alasan karena jadi emak itu ternyata memang nano-nano rasanya, jadi perlu selingan refreshing untuk otak. Berhubung ibu rumah tangga itu identik sama emak-emak yang suka menghabiskan duit, jadi saya berusaha untuk mengisi waktu refreshing dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Hingga saya menemukan ternyata saya bisa ngerasa plong ketika menulis.

Suami pun mensupport penuh kegiatan saya tersebut. Alhamdulillah atas support suami dan izin Allah SWT tentunya, tahun 2017 kemaren ada 2 buku saya yang terbit di penerbit mayor.

So far, menurut saya nggak ada yang istimewa di saya. Dari dulu saya ya gini-gini. Terserahlah mau diaggap apoteker gagal dsb karena nggak bekerja sesuai bidang, atau dianggap emak-emak pengangguran ya wes sih. Soalnya males nanggepin hal-hal beginian. Maklum masih banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan terkait tumbuh kembang anak.

Hingga akhirnya beberapa waktu lalu, saya terpaksa harus mendatangi salah satu bank, untuk mengurus i-banking atau m-banking. Gara-garanya royalti saya nggak bisa ditransfer karena beda bank. Jadi mau nggak mau saya harus ganti ke rekening lain yang kebetulan malah nggak bisa dicek mutasi rekeningnya di atm. Hehe ...

Nah disitu si mbak cs banyak tanya ke saya ketika memperbarui data. Maklum sudah bertahun-tahun kayaknya atas nama heboh bawa duo bocils saya males nginjakin kaki ke bank. Hehe ...

Salah satunya si mbak cs nanya, apa kesibukan saya sekarang. Dari mana sumber dana yang ada di rekening tersebut. Errrrr ... Mau nggak mau ya saya jawablah ya, ketimbang nanti dikira dapat dana gelap 😅

Nah pas saya jawab, "Ehm ... Itu anu sih mbak ... Kesibukan saya cuman menulis saja kok mbak ..."

Eh si mbak langsung antusias nanya, "Lho ibunya nulis apa? Nulis buku? Berarti penulis dong ya ..." bla bla bla ... Panjang gitu lah ceritanya.

Saya pun hanya menjawab, "Baru satu tahun ini kok mbak, sebelum-sebelumnya ya nyoba os."

Eh si mbak bilang, "Ya tetep saja sih bu. Ibu berarti penulis ..."

Terus panjang gitu ceritanya, saya lihat respon si mbak kayak yang berbinar-binar gitu, bahkan salah satu atasan yang datang untuk menandatangani berkas-berkas saya juga terlihat antusias. Kalau sana antusias, sayanya malah mengkeret sungkan nggak pede, "Lah apalah saya ... Hehe ..." Ya meski tak dipungkiri ada sedikit bunga-bunga di hati. Eaaaaaaaa ...

Tapi saya terus mbatin, oh seperti ini ya ternyata namanya makna sebuah pengakuan dan penghargaan itu.

Pagi ini pun ibu saya cerita ke saya, kalau beberapa waktu lalu beliau ngomong (bisa jawab) ke kerabat tersebut, kalau meskipun anaknya nggak jadi apoteker, mbedongkrong saja di rumah tapi anaknya ini sekarang penulis. Ihirrrrr eciyeee yang dapat pengakuan 🤣 awas pegangin kepalanya biar nggak makin gede. Haha ...

Sejujurnya saya jadi terharu ... *mulai lebay deh ah 😅

Oke tapi bukan itu yang mau saya ambil the moral of storynya. Melainkan saya jadi paham betapa tiap individu itu butuh sebuah pengakuan agar merasa dihargai sehingga memiliki semangat untuk terus maju menjadi lebih baik dari ke hari.

Hal ini pun sempat saya coba ke buah hati saya. Ketika si adik dibantu memasangkan celana oleh si kakak, meski ya agak kurang rapi saya mencoba untuk memberi pengakuan kalau apa yang dilakukan si kakak itu hebat.

Saya sempat menyampaikan, "Lho kak. Ini yang pasangin celana adik. Kakak ya?"

Kakakpun menjawab, "Iya mam ..." sambil tersenyum.

Lalu saya menjawab, "Subhanallah ... Pintar sekali kakak ... Wah berarti kakak sudah bisa dapat hadiah adik nih." ← ceritanya nih si kakak memang sudah bolak balik minta adik lagi.

Mendapat jawaban tersebut senyum si kakak makin berbinar.

Si adik sempat tanya sih, "Adik berarti nggak pinter ya mam?"

Saya pun menjawab, "Adik juga pintar kok. Cuman adik masih harus belajar lagi ya biar bisa pasang celana sendiri. Kan katanya mau jadi kakak. Iya kan ..."

Eh si adik ikut sumringah juga senyumnya. Hehe ...  

Iya daripada fokus dengan kekurangan mereka. Bukankah lebih nyaman ketika kita bisa fokus dengan kelebihannya. Sehingga mereka merasa dihargai dan mau berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya. Toh bukankah tiap anak adalah bintang dengan segala kelebihan dan keunikannya masing-masing 😍

No comments:

Post a Comment