Monday, February 26, 2018

Jalani, Nikmati, Syukuri

Mungkin sebagian teman-teman sudah banyak yang dengar tentang buku "Jalani, Nikmati, Syukuri" ini. Iya ini salah satu buku yang ditulis oleh salah satu penulis buku islami best seller di Indonesia Dwi Suwiknyo.
Oke, jadi pertama kali saya melihat sampul buku tersebut, sebenarnya mata saya langsung tertuju pada tulisan "Jangan Lupa Bahagia" di bagian depan sampulnya. Lho kenapa?

Soalnya, beberapa waktu lalu saya suka nulis caption di ig saya @vety_fakhrudin dengan hastags #janganlupabahagia yang sebenarnya nggak lebih dan nggak kurang untuk menghibur diri saya. Iya terus biasanya saya tambahin lagi sih hastags #bahagiaitusederhana. Hihi ...

"Wah buku ini gue banget nih ..." begitu pikir saya. Nah, terus baca buku ini, saya kok jadi pengen nyanyi sedikit penggalan lagunya Project Pop :


Jika hatimu terluka dan membuatmu lesu
Jika kau mencari cara tuk obati dirimu

Marilah kawanku, bangkitlah semangatmu

Biarkan laguku coba menghibur dirimu

Lupakan sedihmu

Sakit hatimu
Jangan siksa dirimu
Tersenyumlah
Hapuslah sesalmu
Air matamu
Hiburkan hatimu
Goyang bersamaku


Haha ... Ini dulu lagu menghibur banget nih kalau pas saya lagi suntuk dan ngerasa ada banyak masalah di depan saya. Cuman sayangnya dulu saya nggak tahu cara pelampiasannya.

Tahunya pokoknya ya nyanyi gitu saja ... Terus tahu-tahu lupa masalahnya. Duh enak banget ini ya ... Haha ...

Oh iya lagu di atas itu penggalan dari lagunya Project Pop yang berjudul "Goyang Duyu" ya ... Kali ada yang penasaran sama lagunya, berikut saya share dari officialnya Musica Studio di youtube saja ya. Ya kali masak saya mau share video saya nyanyi, bisa pingsan semua nanti ... Haha ...

Judul Lagu : Goyang Duyu, Penyanyi : Project Pop, Sumber : Youtube Officially Musica Studio

Seru kan lagunya ... Duh gue (saya) banget ini ... Hihi ... Eh tapi please jangan bayangin saya goyang duyu ya, soalnya nanti bisa ambrol panggungnya. Haha ...

Nah seperti halnya Project pop kan kita kenalnya mereka salah satu artis juga musisi komedian ya, jadi ya gitu mereka jarang kelihatan serius.

Terus kalau dipikir-pikir, ini kok mirip seperti saya. Di mana banyak teman yang  kayaknya sering sebel sama saya karena menganggap saya itu nggak pernah serius. Iya saya gaya saya tuh sekilas memang suka slengekan atau cengengesan. Duh apa sih ya bahasa indonesianya cengengesan ini ... Intinya ya sama lah, suka ketawa atau bercanda nggak jelas, nggak pernah serius. Huehehe ... Ya kayak saya kalau nulis di sini ini ... Masak dari tadi saya ketawa mulu ... Habis ya gimana, kalau saya nulisnya serius nanti berasa horor kan bacanya.

Rasanya kok bukan saya banget, kalau foto ketawa terus nggak kelihatan giginya 😂😅

Oke balik lagi. Kalau boleh jujur sih sebenarnya di balik cengengesan saya tersebut mengandung sejuta makna tersimpan. Halah ... 😂

Apa itu? Begini kalau kata sahabat saya yang punya background psikologi saya tuh tipe yang terbuka, jadi kalau ada masalah saya nggak pernah pendam lama-lama, jadi bersyukurnya karena hal tersebut saya jadi gampang move on nggak berlarut-larut dalam sebuah masalah.

Nah, jadi sebenarnya kalau ditanya apa rahasianya kok saya kelihatan bahagia terus? Ada banyak hal sih ya yang saya pelajari dari sekitar saya, termasuk seperti yang dibahas di buku Jalani, Nikmati, Syukuri tadi ...


Seperti halnya di buku tersebut dijelaskan bahwa yang penting kita yakin. Nah ini saya ingat dulu pernah ikut sebuah MLM. Duh nggak usah saya sebut negatifnya ya pas aktif ikut MLM tersebut, karena di sini saya ingin ambil positifnya saja lah. Intinya di sana saya pernah dapat nasehat :

"Sebesar apapun masalah kita, kita itu masih punya Allah Swt yang lebih besar dari masalah kita."

Iya dong, sama seperti nasehat yang ada di buku Jalani, Nikmati Syukuri (page : 18):

"Jika kita yakin Allah mengurus semua urusan kita, tidak akan ada rasa khawatir apalagi menggugat kehendak-Nya." 

Sehingga ketika kita terpuruk kita bisa tetap bangkit lagi dan tak lupa bahagia. Terus jadi ingat hastags #janganlupabahagia langsung senyum sendiri deh. Hehe ...

Selain itu dalam buku tersebut, kita juga diajarkan untuk bisa melihat suatu kejadian dari segala sudut pandang. Oke di sini saya sebutnya kejadian ya, bukan masalah, soalnya kalau saya sebut masalah kok rasanya auranya negatif banget. Nanti malah susah kalau mau lihat dari sudut pandang yang berbeda. Hehe ...

Duh, emang gimana cara kita bisa melihat suatu kejadian dari sudut pandang yang berbeda?
Salah satunya dengan belajar menerima suatu kejadian. Dengan kita legawa menerima suatu kejadian maka kita akan bisa mengambil banyak hikmah di balik kejadian tersebut.

Terus gimana dong caranya biar kita bisa belajar menerima? Salah satunya dengan tidak protes atau mengeluh dengan suatu kejadian, karena ketika kita protes maka secara tidak langsung kita itu berprasangka buruk kepada Allah. Duh kalau sudah gitu kan namanya durhaka. Naudzubillahimindzalik.

Protes gimana nih maksudnya?
Ya misalnya saja, ketika kita protes dalam hati, kita sudah berdoa sama Allah Swt, tapi kok belum dikabulkan juga sih? Nah, mungkin kita lupa, bahwa bisa jadi Allah mengabulkan dengan berbagai cara. Apa saja itu?
1. Bisa jadi Allah memang tidak memberi apa yang kita minta, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan.
2. Bisa jadi Allah bukan lupa kepada kita, hanya Allah sedang menunda mengabulkan apa yang kita minta, karena Allah lebih tahu kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan doa kita.
3. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kita minta.

Bisa jadi, bisa jadi dan bisa jadi lainnya. Hanya Allah yang paling tahu jawabannya bukan?

Nah, ini sebenarnya kalau saya pikir-pikir mirip dengan kejadian saya menanti hadirnya buah hati yang pertama nih. Di mana ketika saya sudah jungkir balik usaha sama suami sampai nangis nggak karuan, saya malah nggak dapat-dapat hasil test pack positif.

Terus sekalinya sudah dapat anak pertama, pas baru usia 10 bulan kok ya dikasih gampang hamil lagi.

Nah, dari situ saya mulai menyadari bahwa iya Allah bukan lupa nggak kasih saya anak, hanya Allah kasih di waktu yang tepat, karena anak itu amanah. Setidaknya yang paling sederhana sebagai orang tua kita harus belajar sabar. Saya jadi bayangin, coba kalau saya langsung dapat hamil pas awal-awal menikah, wah bisa-bisa saya masih jadi orang tua yang labil nih. 😨


Sebenarnya tersebab dua buah hati saya ini pulalah, saya terinspirasi bikin blog dengan judul www.sundulerparents.com ini. Sundul sebenarnya asal aja sih ngambil dari kata dasar istilah kesundulan yang ada di masyarakat luas. Hihi ...

Nah kan, pasti ada hikmahnya. Hehe ...

Terus, selain belajar menerima, untuk bisa menjalani, menikmati dan mensyukuri hidup kita, dalam buku bercover merah tersebut kita juga diajak untuk belajar melepaskan. Dalam buku tersebut dikisahkan tentang kisah nyata yang mengangkat cerita tentang seseorang yang harus rela melepaskan sesuatu yang memang belum menjadi rejeki mereka. Sehingga dari kisah tersebut kita bisa belajar, bahwa apapun itu jika memang rejeki kita, maka ia tak akan lari kemana. Sebaliknya kalau itu bukan rejeki kita, mau dikejar sampai jungkir balik pun ya nggak bakal kekejar. Hehe ...

Kita pun diajak untuk belajar melepaskan kembali. Bisa jadi apa yang kita lepaskan memang adalah suatu hal buruk, sehingga dengan melepaskan hal buruk tersebut kita bisa mendapat sebuah kebaikan. Lalu bagaimana jika ternyata yang kita lepas juga sebuah kebaikan? Ini tentu butuh sebuah pengorbanan yang sangat besar, tetapi kita tak pernah tahu, bisa jadi dibalik kebaikan yang kita lepas tadi, kita akan menemukan sebuah kebaikan yang lebih besar.

Lantas setelah beberapa step tersebut kita bisa langsung bahagia? Apakah semudah itu bahagia itu?
Seperti yang saya ceritakan di awal tadi. Di buku ini, yang paling saya sukai adalah tulisan kecil jangan lupa bahagia tadi. Nah dalam hal ini saya jadi ingat pesan ibu saya, bahwa kebahagiaan itu nggak bisa dicari, karena kebahagiaan itu tumbuhnya dari hati kita sendiri.

Iya konon semakin kita cari kebahagiaan di luar sana, semakin kita akan merasa terluka ketika kita tak bisa menemukannya. Ingat seperti kata pepatah, rumput tetangga terlihat lebih hijau. Mengapa bisa nampak lebih hijau? Coba perhatikan, seberapa besar usaha tetangga kita untuk bisa menjaga rumputnya dibanding kita, maka disitu kita akan menyadari betapa kita belum pantas iri dengan rumput tetangga tersebut, dengan usahanya yang sedemikian rupa. Hal ini tentunya hampir sama dengan cara kita melihat kebahagiaan orang lain bukan? Bisa jadi mereka belajar bahagia bukan karena mereka tidak sengsara, hanya mungkin mereka lebih bisa menutupi semua kesengsaraan mereka, sehingga mereka lebih bahagia menjalani hari-harinya. Nah kalau ini kayak hastagsnya di cover buku Jalani, Nikmati, Syukuri nih #EnjoyYourDay. Apapun itu ya sudah nikmati saja ... Hehe ...

Terus gimana dong biar kita bisa menikmati hari-hari kita? Ya sudah jalani saja semua, nikmati saja, terus nanti syukuri semua. Eaaaaaa lak mbulet lagi ... Haha ...

Intinya begini, setelah membaca buku tersebut, saya seperti mendapat self reminder, yaitu dengan melihat sesuatu dari banyak sudut pandang. Bagaimana kita bisa mengenal diri kita sendiri? Misalnya gampangnya, kita bisa mencari mengapa Allah melahirkan kita ke dunia ini. Jika kita merasa bahwa tidak ada yang istimewa dengan diri kita, maka kita perlu melakukan self reminder, bahwa Allah itu menciptakan segala sesuatu di bumi ini bukan tanpa sebab.

Dengan kita menyadari bahwa apa yang diciptakan oleh Allah di dunia ini pasti memiliki suatu alasan, maka kita tidak akan dengan mudah memandang orang lain dengan sepele. Meski demikian tak perlu kita meminta orang lain untuk menghargai kita, sebaliknya setidaknya kita bisa belajar untuk bisa menghargai apa yang ada di sekitar kita. Bagaimanapun, selalu ada hukum tebar tuai, salah satunya bagaimana cara kita menilai orang lain, biasanya juga akan berlaku sama dengan bagaimana orang tersebut dalam menilai kita.

Terus kita jangan jadi pribadi yang pendendam juga. Mari belajar berempati terhadap orang lain, dengan tidak memaksakan kehendak kita secara berlebihan kepada mereka, karena belum tentu apa yang nyaman kita pakai belum tentu nyaman untuk dipakai mereka. Bagaimanapun ketika kita memendam rasa dendam terhadap sesuatu maka hati kita akan menjadi tidak damai bukan.

Contohlah dalam cerita sehari-hari saya sih, yang mungkin lagi trend saat ini nggak jauh-jauh dari innerchild. Duh, apalagi itu? Jadi innerchild itu semacam luka yang pernah kita terima di masa kecil kita dari orang tua kita. Nah!!!

Eit tunggu ... begini jadi mungkin dulu orang tua kita pernah tanpa sadar niatnya baik, tapi ternyata kita salah tangkap. Terus kita terluka, tapi kita pendam luka itu bertahun-tahun lamanya. Berharap kita bisa melupakannya, ternyata suatu ketika kita bisa meledak-ledak lantaran episode menyakitkan tersebut.

Nah, ini kalau kita masih belum bisa melepas dendam itu, tentu episode tersebut tidak akan bisa selesai dengan mudahnya. Gila? Iya bisa-bisa itu akan jadi hasil akhir yang paling menakutkan terjadi. Kok bisa? Iya lantaran kita tak bisa berdamai dengan hati kita untuk melepaskan ganjalan di hati tadi. Soalnya sudah banyak sih kejadiannya di sekitar saya. Hehe ...

Seperti dibahas dalam buku Jalani, Nikmati, Syukuri tadi bahwa hidup mendendam itu, nggak enak banget. Suwer dehhh ... Coba deh bayangkan apa sih enaknya untuk kita kalau kita hidup mendendam? Toh secara medis, perasaan dendam itu bisa mengganggu kesehatan kita.

Ketika kita merasa dendam, kita akan merasa stres. Lalu bagaimana kalau kita stres? Ya tadi, apa yang saja yang ada di depan kita jadi nampak terasa salah. Ada sedikit tantangan di depan kita, kita jadi merasa paling sengsara di dunia. Kalau sudah begitu, kita jadi susah untuk melihat sesuatu dari banyak sudut pandang. Pokoknya semua yang ada di depan kita nampak begitu muram. Duh, kok melas tenan. Kalau kata teman-teman saya dulu, "Ya itu kan derita elu ..." Hehe ...

Nah kan, jadi kalau orang lain bisa bahagia kenapa kita nggak bisa? Apa ada yang salah dengan diri kita?
Ya itu tadi, mungkin kita mainnya kurang jauh. Eaaaaaa ... kok kurang jauh? Ya bukan jauh sih ya, tapi lebih tepatnya kita melihat segala sesuatu itu masih dari satu sudut pandang yang sempit saja. Padahal dunia ini luas, jadi ya mbok jangan lihatnya dari satu sudut pandang saja. Sudah nggak mau lihat dari sudut lain, eh lihatnya pakai dari lubang sedotan pula. Terus gimana bisa kita bersyukur kan???

Ya sudah tadi, kalau kita mau open our mind, halah pakai nge-inggris segala. Haha ... Ya iyalah biar keren gitu. Hihi ... Intinya ya tadi, kalau kita mau membuka cara pikir kita lebih luas, sebenarnya di buku ini kita benar-benar diajak banyak belajar untuk mengoreksi diri kita sendiri. Contoh gampangnya, ketika kita punya cerita masa lalu yang menyedihkan, maka kita bisa belajar untuk (page 182) :
1. Menjadikan masa lalu sebagai pengalaman untuk dijadikan sebagai pelajaran
2. Masa sekarang untuk dijalani dan dinikmati
3. Sedangkan masa depan bisa kita jadikan sebagai acuan motivasi diri kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi bukan?

Nah untuk poin nomer satu sih, malah kalau kita mau, mungkin bisa diambil hikmahnya. Contohnya ubah masalah menjadi naskah. Bwahahaha ... Eh, Ya Allah emak-emak itu kalau ngakak nggak boleh lebar-lebar dong ah. Malu sama tetangga. Hehe ...

Lho kok bisa ubah masalah jadi naskah? Ya iyalah, kalau kita suka ikut seleksi naskah antologi true story yang sering diadakan Mas Dwi Suwiknyo, kita malah akan lebih bersyukur kalau kita punya banyak stok masalah di masa lalu. Soalnya bisa dijadikan bahan tulisan naskah true story kan? Kalau lolos kan bisa jadi duit kan? Lumayan kan? Nah lho ... Eaaaaaa ... Duh, mbok ya niatnya dilurusin gitu, kalau lolos setidaknya bisa jadi sharing pengalaman dengan pembaca luas. Self reminder, ketika apa yang kita bagikan bermanfaat untuk masyarakat luas, maka Insya Allah kita juga bisa bahagia, karena merasa hidup kita lebih berguna bukan?

Oke jadi kesimpulannya, di buku ini kita diajak untuk menjalani semua yang terjadi dalam hidup kita, dengan berusaha selalu menikmati apa yang ada.  Sebab bagaimanapun, apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi mood kita dalam menjalani hari-hari kita. Seperti nasehat yang sering saya terima dari suami, "bahwa kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan." Sehingga dengan belajar menjadi pribadi yang selalu berpikir positif bahwa Allah Maha Baik, maka akan lebih mudah untuk kita agar selalu bersyukur kepada dalam menjalani semua. Dengan begitu maka kita akan lebih mudah meraih sebuah kebahagiaan.

Ini sebenarnya kalau di salah satu bab buku tersebut, hampir sama seperti cerita kami sekeluarga yang tetap mencoba bertahan. Bertahan untuk tetap berada di "perahu" yang sama. Di mana ketika suami memberikan kabar akan dimutasi ke Balikpapan, meski awalnya terasa berat bagi saya terutama, karena saya termasuk orang yang penakut bwahahaha ...

Namun, pada akhirnya atas support suami saya berusaha untuk mencoba tetap bertahan mendampingi mensupport karirnya. Caranya gimana? Simpel saja, dengan mencoba sedikit belajar melihat dari banyak sudut pandang. Di mana pada akhirnya saya memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman, dengan menyounding diri, "Setidaknya nanti kami jadi punya banyak pengalaman dan cerita yang bisa saya jadikan tulisan." Eaaaaaa ... namanya blogger dan penulis itu ya nggak jauh-jauh dari tulisan goalnya. Hehe ...

Iya jadi kalau mau sebenarnya ya sesimpel itu sih ... Halahhhhh gayamuuu Vet ... Vet ... inget nggak dulu pas mau dipindah ke Balikpapan sini, kamu pakai acara nangis kewer-kewer karena kebawa omongan orang. Yang katanya Balikpapan itu identik sama kalimantan lah, terus kalimantan itu identik sama hutan lah. Endebra-endebra pokoknya ... Eaaaaa Eaaaaa Eaaaaa ... toyorin diri sendiri nih ... Hehe ...

Ini nggak lagi di hutan lho ya 😅
Di mana lho?
Lagi di Kebun Raya Balikpapan 😁

Terus piye kabarnya sekarang???
Iya ada sih hutannya ... itu kalau kita lihatnya dari satu sudut pandang saja. Tapi kalau mau berpikir lebih luas, seperti kata suami, "Kita tuh nggak tinggal di hutan kali ... Anggap saja kita ini di Villa. Suasananya adem, sejuk banget kan! Dulu kita di Surabaya kemana-mana sering ketemu polusi, sampai kadang sok-sok an pengen nyari hotel dengan suasana sejuk kan? Nah sekarang dapat suasana sejuk gini, mbok ya disyukuri gitu lho ..."

Hihi benar juga. Sampai ada sahabat saya yang tinggal di Tangerang juga ikut komen, "Duh Vet, bersyukur sekali deh kamu di sana. Aku di sini lho pengen nyari suasana gitu kudu mumet nyari hotel dengan suasana pemandandang begitu. Udah gitu masih butuh keluar duit lagi." Nah lho?!

Suasana Sejuk di Depan Rumah
Ala Pemandangan Villa 😎

So??? Iya as simple as that sebenarnya kalau kita mau bahagia mulai dari diri kita sendiri, misalnya dengan tidak merasa menjadi orang paling sengsara sedunia.

Halah nanti tanggal tua saja, ngerasanya sudah berasa kayak hidup paling sengsara sedunia. Eaaaaa eaaaaa eaaaaa please deh ... Padahal kalau mau membuka cara pikir kita, di luar sana masih banyak lho yang lebih merana dari kita, toh mereka tetap bisa bahagia.

Kalau gini, saya jadi ingat salah seorang teman yang suka semena-mena komen, "Iya mbak dirimu enak sudah ada ini, ada itu ..." eaaaaa eaaaaa eaaaaaa ... Terus apa ya saya mau cerita semua permasalahan hidup saya gitu? "NYOH NYOH NYOH ..." Hahaha ... Enggak lah saya kan bukan Bu Dendy yang lagi viral lempar-lempar duit ratusan juta itu 😅

Ngomong-ngomong soal Bu Dendy, pasti bakal ada yang bilang, "Duh enak ya Bu Dendy banyak duitnya. Saking banyaknya sampai dilempar-lempar."

Ah kalau saya sih emoh jadi Bu Dendy. Soalnya menurut hemat saya, semakin banyak duit itu semakin ruwet permasalahannya. Self remindernya, ingat setiap (harta) apa yang kita miliki kelak akan ditanyakan pertanggung jawabannya di akhirat. 😰

Nah kan, jadi ya wes jangan iri sama orang lain. Seperti salah satu nasehat sahabat saya, hidup itu sawang sinawang.

Jadi nggak usah muluk-muluk pengen "kaya raya" biar bisa bahagia. Toh orang kaya belum tentu bahagia. Lho kok bisa? Duh kalau nggak percaya coba baca buku "Jangan Lupa Bahagia" ini. Eh Maksud saya buku "Jalani, Nikmati, Syukuri" ini. Hehe ...

Terus kalau sudah tahu caranya bahagia gimana, ya sudah jangan tunda kebahagiaan itu, dan jangan lupa tebarkan kebahagiaan itu kepada orang sekitar kita. Iya dong, konon katanya jaman sekarang ini banyak orang stres karena tuntutan hidup. Saking stresnya sampai lupa caranya bahagia. Duh berat ya ...

Jangan-jangan bilang berat, biar Dilan saja yang ngerasa berat karena belum baca buku Jalani, Nikmati, Syukuri ini. Hehe ...

Maaf, kalau yang ini #BukanDilan 😅

Saya sudah baca buku ini, bagaimana dengan teman-teman semua???
Yuk baca bukunya dan jangan lupa bahagia 😊
Cover Belakang Buku Jalani, Nikmati, Syukuri

Judul Buku : Jalani, Nikmati, Syukuri
Penulis : Dwi Suwiknyo
Penerbit : Noktah (Diva Press Group)
Tahun Terbit : 2018
Tebal Buku : 259 halaman
Harga Buku : Rp. 70.000,- (Pulau Jawa)
ISBN : 978-602-50754-5-2

1 comment: