Thursday, March 22, 2018

Gimana Kalau Tiba-Tiba Harus Pindah Ke Jayapura???

Sejujurnya seharian ini saya lagi nggak bisa mikir on track karena semalam tiba-tiba dapat kabar ada gosip kalau kami harus mengikuti arah angin ke Jayapura. Awal kecipratan gosip gitu di malam hari langsung bikin saya sesaat leng-lengen alias melongo terpaku tanpa ekspresi. Kalau ditanya gimana perasaan saya kala itu??? Entahlah campur aduk jadi satu. Takut yang jelas perasaan tersebut muncul pertama kali dalam hati. Bahkan sampai bikin hati saya nderedeg nggak berkesudahan.


Jadi gimana kalau tiba-tiba kita harus pindah ke Jayapura???
Wah, "dibuang" ..., begitu mungkin asumsi sebagian orang yang menganggap ketika kita dipindah di suatu lokasi yang kurang diminati artinya kita sedang dibuang.

Terus gimana dong? Masak iya dibuang??? Hemmmmm saya pribadi sejauh ini sedang belajar untuk menjadi lebih baik. Salah satunya dengan berpikir lebih luas lagi. Oke mungkin kalau sebagian orang bilang dibuang, bagaimana kalau kita melihat sudut pandang berbeda, "Sebab di tempat tersebut kurang diminati maka, bisa jadi keberadaan kita sangat dibutuhkan di tempat tersebut." Nahhh ... jadi lebih tepat mana nih istilah "dibuang" atau "dibutuhkan"???

Oke anggaplah, jika memang gosip tersebut tiba-tiba jadi kenyataan berarti kenapa kita tidak menghibur diri dengan menganggap ya sudah berarti kami memang sedang dibutuhkan di sana. Jadi kami lebih bisa menjalani, menikmati, dan mesyukuri apa yang ada di depan sana. Toh ini masih gosip. Gosip itu bisa jadi iya bisa jadi nggak ... Hehe ...

Sudut pandang lain, kalau kita mau berpikir lebih kreatif lagi, maka akan ada zona baru di depan sana yang akan kita masuki, di mana kita tentu tidak akan tahu apakah zona tersebut senyaman zona sekarang? Iya kita tidak akan pernah tahu kan selama kita belum menjalaninya. Jadi kenapa nggak dicoba jalanin dulu? Hehe ... Toh buktinya dulu waktu dapat gosip harus pindah di Balikpapan, awalnya saya heboh ngeri-ngeri syedap. Tapi pada akhirnya so far so good. Bahkan mungkin bisa dibilang saya akan merasa sedih kalau harus pindah dari kota Balikpapan secepat ini, karena bahkan kami baru saja menikmati Balikpapan dengan segala keindahannya. Hehe ... Tapi apakah kesedihan itu harus terus berlarut-larut??? Enggak juga kan!

Selain itu, khususnya untuk saya, kalau dipikir-pikir ya meskipun nderedeg dengan pengalaman baru di depan sana, saya mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda, bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan hebat seperti ini. Iya saya bilang ke suami, kapan lagi ini kesempatan mungkin nggak akan datang untuk ke dua kalinya. Jadi mengutip nasehat sahabat saya dulu, "Take it or leave it?!"

Kalaupun Jayapura akan menjadi destinasi kami selanjutnya, entah bagaimana yang ada dalam benak saya, mungkin saya akan punya lebih banyak cerita yang bisa saya tuliskan di blog, facebook, instagram, twitter, atau mungkin bisa jadi ide untuk bank naskah saya. Duh guaya tenan kalau ini, padahal wong ya nderedeg. Haha ...

Seperti contohnya ketika saya ikut suami ke Balikpapan sini, sejauh ini memang banyak pengalaman seru dan heboh yang selalu ingin saya bagi melalui tulisan-tulisan saya. Misal ketika saya dihadapkan dengan kondisi harus Belajar Mengalahkan Rasa Takut, Saat Suami Dinas Luar Kota .... Sempat ngerasa gimana gitu, tapi pada akhirnya semua saya lampiaskan dalam sebuah tulisan. Nah kan lumayan jadi punya stok tulisan. Hehe ... Kebetulan juga dengan menulis saya bisa sedikit merelease hormon stress yang sedang balapan meledak-ledak. Haha ...

Terus saya kok jadi mikir ya, jangan-jangan karena saya sudah bisa mengalahkan rasa takut saat suami dinas, makanya Allah mungkin menganggap kami mampu untuk menghadapi zona baru di Jayapura ... Iya di poin ini saya jadi bersyukur karena Allah mengajarkan kami memperbaiki diri perlahan demi perlahan. Coba bayangkan kalau dulu dari Surabaya langsung diungsikan ke Jayapura tanpa "transit" ke Balikpapan dulu? Mungkin saya akan semaput di sana ... Haha ... Ah itu jadi kayak sebuah proses.

Woiii woiii jadi serius mau nih dipindah ke Jayapura??? Errrrr sejujurnya saya masih takut pak ... tapi kalau ingat ini demi kemajuan karir suami saya, Insya Allah siap  nggak kami harus siap ... asal syarat dan ketentuan berlaku ya pak ...*ngomongnya sambil kasih senyum termanis. Haha ...

Duh tapi iya kalau boleh jujur saya sebenarnya juga agak was-was sama pendidikan anak-anak kami sih. "Makanya woiii jangan pindah-pindah dong!!!" mungkin begitu protes bagi sebagian orang. Tapi ya lagi-lagi mari kita lihat segala sesuatu jangan hanya dari satu sudut pandang saja. Sejak awal sebelum menikah bahkan saya sudah tahu resiko pindah-pindah ini. Jadi rasanya ya nggak mungkin dong saya protes minta suami nggak pindah-pindah.

Ya sudah sih suami biar pindah, situ sama anak-anak nggak usah!
Lho ya nggak bisa gitu. Seperti komitmen suami dengan saya sejak awal, apalah esensi pernikahan kami kalau harus LDR-an. Bagaimanapun tujuan pernikahan kami adalah untuk mencari kedamaian bersama pasangan, lah kalau jauh-jauhan kalau buat kami rasanya kok ya nggak damai banget gitu ya ... Hehe ...

Belum lagi tentunya anak-anak akan tetap membutuhkan figur ayahnya yang tentu kita sadar bahwa waktu terus berjalan. Mereka akan tumbuh dewasa, dan kami akan menua. Jangan sampai kelak kami menyesal karena terlambat menyadari bahwa waktu tak bisa diulang kembali.

Lah terus pendidikan anak-anak gimana???
Errrrr ... sejauh ini saya hanya punya rasa percaya, jika pun kami benar-benar harus pindah ke Jayapura ya kami harus yakin bahwa kami bisa tetap memberikan yang terbaik di manapun kami berada. Ya itu tantangan kami.

Seperti nasehat salah seorang sahabat, bahwa pendidikan utama anak itu justru tanggung jawab kami sebagai orang tuanya. Ya sudah nanti di tempat baru carikan mereka pendidikan (sekolah) yang mendekati visi misi kami, sisanya kalau ada yang kurang sana sini ya tugas kami yang harus melengkapi. Duh, sok iyesss ini ... Bukan sok iyesss ini. Tapi justru dari situ sebagai self reminder kami untuk bisa mengupgrde diri menjadi orang tua yang lebih kreatif lagi agar bisa menyiapkan anak-anak yang tumbuh dengan kekreatifan yang luar biasa. Hehe ...

Iya kami menyadari mungkin kami bukan orang tua sekeran para orang tua di luar sana, tapi justru dari situlah mungkin Allah sedang memberikan tantangan kepada suami dan saya agar bisa terus menjadi kreatif. Iya biasanya kan kalau sudah kepepet baru deh muncul namanya ide-ide kreatif. Haha ...

So, kalau beneran dipindah ke Jayapura gimana??? Errr meski nderedeg tapi insya Allah #KamiTidakTakut ... *Doh hastagsnya guaya ini ... Ntar ujung-ujungnya dipindah beneran nangis gower-gower ... Haha ...

Ya sudah sih, yang penting jalani, nikmati, syukuri ...

So far saya sudah mencoba menyounding si kakak adik untuk menyiapkan batin mereka kalau-kalau memang kami harus pindah lagi demi mensupport karir ayahnya. Seperti obrolan kami di sela-sela aktivitas kami hari ini :
Saya : Kak, nanti kalau kita harus pindah rumah lagi gimana ...
Kakak : *Seperti agak sedih*
Saya : Lho kenapa??? Kan enak ... siapa tahu nanti di  tempat baru kita bisa punya lebih banyak teman lagi ... Kan lebih asyik ...
Adik : Tapi nanti kalau dapurnya kecil gimana ma??? *ngomong sambil cadel*
Saya : Ya kali nanti halamannya yang luas ... Jadi kita bisa beli sepeda lebih gede lagi buat sepedaan di luar rumah ... *Ini kebetulan di sini kami kalau sepedaan memang di dalam dapur ... Haha ...
Adik : *langsung antusias*
Kakak : *Ikut antusias*
Saya : Iya dong ... jadi kita ikut ayah pindah saja ya ... Lha ngapain di sini ... Nanti kalau kangen ayah gimana??? Siapa tahu nanti di tempat baru pantainya lebih bagus dari di sini. Kan lebih asyik ... *begitu rayu saya ...
Kakak : Wah ada pantai-pantai ya maaa???
Saya : Iya dong ...
Kakak : *Langsung berbinar-binar terus ngobrol antusias sama adiknya*

Hehe ... pokoknya ya gitu deh ...  

Disclaimer : Namanya masih gosip kan ya jadi ya belum terverifikasi kebenarannya. Tapi apa salahnya kita berpikir kreatif agar bisa terus menjadi pribadi yang lebih positif. Hehe ...

2 comments:

  1. aku kecil suka ikut bapak pindah dinas karena mutasi meski ga sampe ke indonesia timur masih kawasan jawa barat itu buatku berat diawal tp akhirnya menikmati jd banyak temen mba hehehe semoga klo emang jd kesana semuanya bisa aman terkendali y mba

    ReplyDelete
  2. Beginilah ya mbak kalo hidup nomaden ngintil bojo.
    Penuh cerita di kota baru.
    Biarlah orang berkata "buangan", "gak pinter".
    Yang penting hidup bersama bojo dan anak adem ayem lohjinawi. *Hasseekk..

    ReplyDelete