Friday, March 23, 2018

Membiasakan Anak Menabung Sejak Balita

Sejujurnya sebelumnya saya bahkan nggak pernah terpikirkan akan membiasakan anak menabung sejak dini. Apalagi di usia balitanya. Tapi sejak akhirnya saya menjalani diet, kalau dipikir-pikir kok di rumah banyak makanan terbuang sia-sia karena nggak pernah habis.

Kalau dulu sih mungkin saya nggak kerasa banyak makanan yang terbuang, karena kalau ada makanan sisa, masuknya ya kemana lagi kalau nggak ke mulut saya ...  Iya dong ah kalau kebuang kan jadi mubadzir. Eaaaaaa pantes perut makin mbelendung 😅

Lah tapi ya gimana sejak diet mau nggak mau jenis makanan yang bisa saya makan terbatas. Sebenarnya ini hikmahnya saya jalani diet sih ya. Setidaknya saya jadi punya batasan apa yang boleh dan tidak boleh saya makan.

Okelah jadi saya harus cari akal gimana biar saya tetap bisa diet, tapi nggak ada makanan terbuang sia-sia. Sepele sih tapi kok ya ternyata tantangannya berat ...

Seringnya tuh ternyata mereka hanya "lapar mata".  Tapi mereka suka janji-janji palsu, "Yakin deh nanti pasti dihabiskan."

Sekali dua kali saya percaya, tapi kok ya tetap saja ada makanan terbuang. Kan jadi nyeseg ...

Beberapa kali saya coba arahkan untuk nggak usah beli, ya bisa sih tapi kok ya nggak tega lihat muka mereka 😓😐

Apalagi kadang suka ingat misal kalau sama ibu saya, terus mereka minta apa-apa dan saya nggak belikan, pasti beliau jawabnya, "Halah harganya berapa sih?! Masak gaji suamimu nggak cukup!"

Nah ini sering muncul terutama kalau pas jajan yang dibeli harganya tiga ribu rupiah. Iya biasanya kalau pas saya belanja mereka suka minta beli jajan macam roti kukus atau roti goreng atau donat gitu lah. Nggak seberapa kan harganya kalau dipikir-pikir. 

Jadi kalau gitu tantangannya suka ada pikiran, "Ini aku yang pelit atau gimana sih. Masak duit tiga ribu saja kok ya nggak ngebolehin anak beli jajan." Saya sih nggak masalah sebenarnya duo bocils itu mau beli jajan seberapa banyaknya, tapi ya dengan syarat harus habis dong. Nggak boleh sampai kebuang.

Tapi kalau hampir tiap hari beli selalu mubadzir kan jadi mikir lagi. Tiga ribu kalau dikali 30 hari sudah berapa tuh 🤔 Sembilan puluh ribu kan lumayan yak kalau ditabung.

Itu Rp. 90.000,- kalau satu anak, lah ini dua bocils jadi ya tinggal dikali dua saja jadinya kalau hampir tiap hari kebuang ya jadinya Rp. 180.000,- 😅

Bayangin suami yang kadang kerja sampai lembur, di situ yang bikin saya jadi baper kalau ada makanan mubadzir sih.

Awalnya sih saya suka ngomel ke mereka, eh tapi namanya anak-anak mana mempan kan ya ... 🤦

Terus gimana? Ya saya jadi cari akal. Gimana caranya saya harus kreatif agar anak-anak tetap bisa menghargai makanan yang ingin mereka beli.

Oke akhirnya saya kok kepikiran memberikan mereka uang harian di mana nantinya terserah mereka mau ditabung atau mau dibelikan jajan.

Kalau dibelikan jajan ya sudah berarti mereka nggak nabung, dan kalau makanan tersebut nggak habis, saya sounding mereka dengan kalimat, "Tuh kan makanannya dibuang. Coba tadi uangnya ditabung saja kan enak bisa buat beli susu uht dapat banyak." Kebetulan sih memang mereka ini cinta sekonyong-konyong koder sama susu UHT selepas mereka lulus ASI S3 dulu.

Nah jadi saya juga cari akal gimana biar mereka termotivasi menabung demi bisa dapat susu UHT. Salah satunya saya mulai membatasi stok susu UHT di rumah. Seperti seminggu ini. Eh kalau seminggu ini karena memang menjelang tanggal tua sih. Haha ...

Lalu antisipasi lainnya biar nggak buang-buang makanan, maka stok jajan yang ada di lemari nggak akan saya refill kalau nggak benar-benar habis tiris. Hihi ...

Sejauh ini sudah mulai tiris sih, dan mereka sekarang dihadapkan dengan pilihan mau nabung atau mau jajan. Haha ...

Agak nggak tega sih ya kalau demi nabung sampai bikin mereka nggak nyemil. Bisa-bisa kalau kurus nanti saya diomel sama para neneknya karena dianggap nggak bisa merawat anak sampai kurus kering kerontang 🤣

Toh mereka masih dalam tahap pertumbuhan. Oke jadi lagi-lagi saya harus putar otak cari ide kreatif jajanan mereka.

Nah kali ini saya pun punya ide, jadi seperti pagi tadi ketika mereka ikut saya belanja. Mereka tetep kekeuh nggak mau beli jajan, katanya biar bisa nabung. Oke saya kasih duitnya biar mereka tabung.

Oia selama dua hari kemaren saya juga sempat menawarkan pisang untuk stok cemilan, tapi jawaban mereka nggak mau, karena takut nggak habis. Nah ini mereka sudah mulai bisa tahu komitmen sih. Terus sesuai request mereka mintanya dibikinkan jasuke saja (jagung susu keju).

Jadi selama dua hari kemaren saya buatkan jagung susu keju. Nah biasanya sih pasti mereka bosan, jadi hari ini saya berencana ganti menu nyemilnya. Saya tawarkan bagaimana kalau saya stokkan mereka pisang di rumah??? Tapi dengan syarat kalau memang mau ya harus dihabiskan nggak boleh kebuang. Kalau kebuang maka dendanya besok nggak dapat uang jajan jadi nggak bisa jajan atau nabung. Hehe ...

Hasilnya gimana???

Saya perhatikan sih so far so good. Sejauh ini saya nggak perlu pakai drama ngelihat muka mereka melas pengen jajan ini itu, karena ya sudah mereka mulai belajar apakah mereka benar-benar menginginkan makanan tersebut atau hanya sekedar "latah" pengen saja.

Kalau sebelum-sebelumnya saya sering dengar kalimat, "Yakin ma pasti aku habisin." Tapi berakhir nggak habis. Sekarang kebalikannya, jawaban mereka seringnya, "Nggak usah ma nanti malah nggak habis. Kakak lho nggak kepengen." Hehe ...

Seandainya pun memang mereka pengen, pasti mereka akan minta sesuai keinginan mereka. Seperti kapan hari pas saya ajak ke pasar si kakak mintanya donat. Saya tawarkan minta berapa? Si kakak mintanya 2 saja. Waktu saya tanya, yakin nggak kurang? Dia mantap bilang yakin, dan memang sih donatnya habis. Jadi nggak ada yang kebuang. Hehe ... Ini juga berlaku di adiknya sih ... 😍

Megang Jajannya Masing-Masing
Dan Mereka Komitmen Menghabiskan Jajannya 😍

Efek positif lainnya makanan mereka lebih sehat, karena jadi meminimalisir jajan di luar, dan meminimalisir jajanan instan.

Terus secara nggak langsung berarti saya mengajarkan mereka konsep bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu perlu sebuah usaha.

Oh iya untuk celengannya saya nggak muluk-muluk sih. Bikinnya cuman dari botol minuman bekas yang sudah saya cuci. Jadi tinggal gulung duitnya cemplungin. Iya sengaja botol nggak gede kan goal ngumpul duitnya fast moving buat beli susu uht. Hehe ...

Simpel Saja Bentuk Celengannya
Yang Penting Semangat Nabungnya 😍

Terus sengaja pakai botol minum bekas yang bening biar kelihatan isinya, jadi mereka semangat untuk nabung. Hehe ...

Request tadi pagi malah si kakak pengennya celengannya dibuat beli scooter. Haha ... Duh makin lama dong kak nabungnya 🤣 Tapi nggak apa-apa deh terserah saja, yang penting mereka sudah tahu resiko kalau uang buat beli jajan maka nggak bisa nabung.

Oia tapi dalam hal ini pisang dan jagung nggak masuk ke budget jajan ya 😂😅 Jajan itu kategori donat, dkk. Nah pisang jagung ini masuk list belanja sayur. Iya sebab kalau pisang dan jagung ini ayahnya juga bisa ikut nyemil. Lumayan jagung tujuh ribu bisa buat dua hari cemilan kakak adik dan ayahnya. Begitupun jagung tiga ribuan sebiji juga bisa dibuat cemilan ramai-ramai. Hehe ...

4 comments:

  1. Itu celengan kerdil kali yak. Wkkk.
    Emanglah, jajan itu murah, tp kalo diakumulasikan yo lumayan ee. Makane aku agak males ke pasar, akunya yang tergoda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. La kok sama aku sekarang juga jarang ke pasar 😂

      Delete
  2. Tabungan bank untuk balita adakah bu??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada, biasanya tabungan junior di beberapa bank sudah bisa untuk anak mulai usia bayi, nanti pakai akta lahir anak QQ nama ortu

      Delete