Monday, March 19, 2018

Terkadang Kita Lupa Sudah Jadi Pelaku Bullying Untuk Anak. Sehingga Membunuh Kreatifitas Anak

"Nggak mau, aku nggak mau soalnya nanti kayak adik ..." begitu ucap si kakak dengan menunjukkan raut jijik beberapa waktu lalu. Mendengar hal tersebut, tentu cukup membuat saya terkejut. Ada apa dengan adik? Apa yang salah dengan adik? Banyak pertanyaan datang silih berganti di kepala saya menghadapi ungkapan si kakak yang sangat spontan kala itu. Nggak sampai di situ, reaksi spontan si kakak yang nggak mau kayak adik kala itu cukup membuat saya sangat baper ketika melihat si adik yang nampak entahlah kecewa atau bagaimana menanggapi si kakak. Tapi jelas terlihat si adik sempat terdiam sejenak seperti mencari jawaban apa yang salah dengan dia. Wah ... bisa jadi sibling rivalry nih jangan-jangan.


Lantas setelah terkejut sesaat, ketika akhirnya saya lihat si adik meninggalkan si kakak berjalan menuju kulkas sembari menghibur dirinya dengan membuka kulkas mendinginkan mukanya dan mungkin hatinya, yaaa ... yang bisa jadi sedang diliputi kekecewaan, saya mencoba mendekati si kakak.

"Kak, mamam boleh tanya? Memang kenapa sih kok kakak nggak mau kayak adik?" begitu tanya saya menatap matanya. Tentunya ya sembari baper. Ih jujur ya saya nulis ini sambil sedikit berkaca-kaca nyeseg bo'.

Lalu dengan lugunya si kakak yang masih berusia balita, menjawab dengan jelas, "Aku nggak mau kayak adik soalnya adik jelek." Mak ngekkkkk gitu rasanya saya mendapat jawaban tersebut. Ya Allah nak ... jelekkkkk??? Itu adikmu sendiri mbok bilang jelek. Antara embuh piye lah saya harus mengungkapkan perasaan saya kala itu. Tapi ya saya nggak bisa protes, kan si kakak ini masih usia balita, jadi apa yang diucapkannya mungkin nggak ada niatan menjelek-jelekkan kan.

Saya pun sembari merenung mencari dari mana dia bisa berasumsi bahwa adiknya jelek??? Wong buat kami adiknya ini juga sama istimewanya di hati kami kayak si kakak.

Entah benar atau tidak lantas saya seperti menemukan jawaban. Iya selama ini saya memang sering mendapati respon terkait fisik si adik yang dilontarkan oleh orang-orang sekitar.

Anggaplah si adik yang dulu rambutnya nggak tumbuh lebat, sampai akhirnya bisa tumbuh ya meski nggak secepat pertumbuhan rambut si kakak dan tumbuhnya kok ya kruwel kriwul nggak kayak kakaknya ini ternyata bisa jadi magnet tersendiri untuk orang-orang sekitar dalam merespon kelucuan si adik.

Ya mungkin niatnya lucu-lucuan saja sih mereka ...

Ini bukan karena emaknya iseng ya ...
Tapi bocahnya yang minta dikuncit banyak, kayak kakaknya. Hehe ...
Belum lagi hidung si adik yang katanya pesek. Ditambah candaan orang-orang sekitar yang nggak tanggung-tanggung kalau ketemu si kakak tanpa sadar suka melontarkan kalimat, "Duh ... untung ya mukamu nggak kayak ayahmu. Jadi terselamatkan." Terus eh masih lanjut, "Lho la yang ini kok persis kayak ayahnya." Eaaaaaa kalau gini biasanya saya cuma bisa meringis bingung kasih jawaban.

Iya bingung, karena secara nggak langsung itu seperti kalimat pujian untuk saya ... yang artinya hore saya lebih "cantik" dari suami saya ... *Ya iyalah ... emang situ mau punya suami cantik??? Eaaaaaa ...

Eh GE ER nih, emang tadi ada yang bilang terselamatkan karena mukanya kayak saya emaknya? Nggak juga kan??? Eaaaaa sudah terkadung, eh terlanjur GE ER padahal haha ...

Cuman merujuk dari kalimat "terselamatkan" tadi kok rasanya jadi timpang gitu pas pada bilang muka si adik kayak ayahnya. Eaaaaaa ... Kalau sudah gitu saya biasanya pengen puk-puk suami. Haha sabar ya pak ... apapun kamu, kamu tetap yang terhebat di hati kami. Uhukkk ...

Nah sejauh ini saya nggak pernah merhatiin kalau ternyata respon-respon tersebut direkam jelas sama sih kakak. Duh Gustiiiii ... begonya saya kok ya dulu kalau dapat respon-respon gitu malah ikut kasih jawaban seakan-akan mengakui kalau kakak itu istimewa. Nah kan emaknya sih oon juga.

Iya saya tuh dulu kalau pas lagi mbelehar jawabnya suka gini, "Ah nggak apa-apa si adik mah minta pengakuan dari ayahnya. Jadi kan enak nggak perlu pakai tes DNA lagi!" Eaaaaa ...

Kalau nggak gitu suka jawab ngawur, "Iya nggak tahu nih, kok rambut si adik nggak tumbuh-tumbuh, keriwul pula. Sudah gitu pesek juga." Eaaaaaaa minta ditoyor juga nih emaknya. Ya Allah ampuni saya yang khilaf malah ikutan membully si adik melalui kalimat-kalimat sepele tersebut.

Terus kalau sudah gitu, apa kita akan menolak mengakui kalau ternyata kita ini yang dewasa justru pencetus atau ya bisa dibilang pelaku utama tindak bullying pada anak. Ah ini saya jadi baper ingat materi yang pernah saya ikuti di kelas Workshop Healing InnerChild beberapa waktu lalu. Di mana salah satunya ya kurang lebihnya bahas tentang bullying pada anak yang ternyata justru penyebab timbulnya bully itu berasal dari kita yang dewasa-dewasa ini. Gimana nggak, nanti anak diem-diem eh manggilnya pakai panggilan nyeleneh. Misal : "eh iteng teng". Niatnya bercanda sih karena si anak item la tapi???

Soal item (hitam) ini bahkan si kakak sekarang beberapa kali sempat nyeletuk ke saya, "Iya mam kakak ini sekarang cokelat kok mam ... soalnya sering ke pantai." Lha darimana dia tahu kalau dia cokelat??? Setelah saya renungi, ya dari mana lagi kalau nggak dari respon orang-orang sekitar yang "pangling" saat pertama kali ketemu kami pas pulang ke Jawa beberapa waktu lalu. "Duh kok sekarang makin celeng gini sih. Kebanyakan main di pantai ya?" Itu salah satu respon yang saya dengar waktu itu sih, tapi saya mah orangnya cuek. Makanya nggak sampai mikir jauh. Tapi kalau sudah gini saya kok jadi mikirnya panjang ke depan. Iya karena sejak awal suami dan saya sepakat sebisa mungkin menghindarkan hal-hal yang bisa memicu sibling rivalry kakak adik

Jadi self reminder saya kepada kakak adalah bukan tentang bagaimana kita bisa menarik perhatian orang dengan "kecantikan" kita. Sebab setiap manusia itu lahir ke dunia pasti memiliki keunikan masing-masing.


Saya pun sempat menyounding si kakak, "Kakak nggak boleh gitu tahu ... Itu nggak baik. Kakak dan adik itu anak-anak kandung mamam. Anak yang terlahir dari perut (rahim) mamam. Jadi kakak sama adik itu ada aliran darah yang sama dari mamam dan yayah." Entahlah si kakak yang masih bocah ini paham apa enggak bahasa saya yang terlalu muluk tinggi. Hehe ...

Kemudian saya mengajak kakak untuk melihat si adik, "Tuh lihat si adik lucu gitu kan??? Suka ngelucu sama kakak. Ngehibur kakak. Dia baik lho sama kakak. Suka bantuin ambilin sesuatu untuk kakak. Suka ngajak main kakak." Duh baper-baper kan saya nulisnya. Mulai deh mberebes mili (berkaca-kaca) ini mata.


Iya saya tuh jadi takjub, Subhanallah, di balik adik yang suka jadi bulan-bulanan orang sekitar karena dianggap "lucu" ini memang dia benar lucu unik adanya gitu ... Saya jadi ingat obrolan sama suami beberapa waktu lalu, tentang keunikan dan keistimewaan kakak adik ini. Di mana kami sering sepakat, iya memang kami nggak bisa memaksakan mereka harus sama. Wong sedangkan yang anak kembar saja nggak sama persis kok, lah apalagi ini anak kesundulan yang beda usia, ya mohon dimaklumi lah kalau mereka memiliki perbedaan karakter.

Dulu iya mungkin saya sempat terpaku sama standart si kakak yang ketika sekitar usia 2 tahun, dia sudah bisa lancar berbicara plus sudah bisa membedakan warna lengkap dengan bahasa inggrisnya. Lah adiknya? Boro-boro warna, buat ngomong saja susah. Diem bo' dia dulu. Bahkan saya inget ketika akhirnya si adik bisa ngomong nerecel alias cerewet, ada yang komen, "Duh tak kira dulu nih anak bisu." Ya Allah amit-amit Naudzubillahimindzalik ...

Nah terus kok ya pas sama materi yang diberikan di kelas Bunsay hari ini kurang lebihnya tentang iya bahwa setiap anak-anak yang kita miliki itu punya kelebihan masing-masing. Iya bener juga, kan daripada sekedar fokus ke-pesek nggak peseknya, kriwul nggak kriwulnya, kan mending kita fokus sama potensi yang dimiliki mereka sejak dini.

Iya setiap anak kita itu terlahir sudah kreatif. Entah gimana di poin ini saya langsung ingat si adik. Hehe ...

Lho emang si kakak nggak kreatif? Bukan, si kakak ini juga kreatif. Tapi sepertinya selama ini karena kehebohan saya sebagai emak kesundulan yang tersundul (duh istilahnya itu lho kok enggak banget ya) saya jadi sedikit mengabaikan kekreatifan si kakak. Seperti ya sedikit luput dari pantauan saya. Apalagi baru-baru ini saya habis heboh pindahan, dan sempat LDR sesaat sama suami, yang mau nggak mau akhirnya visi misi suami dengan saya terkait anak-anak sedikit terhambat, karena ada sedikit banyak sempat ada campur tangan dari orang tua yang bisa dibilang ada sedikit beda sudut pandang dengan kami. Ya mungkin kalau merujuk istilah sekarang semacam Orangtua Jaman Old vs Orangtua Jaman Now. Hehe ...

Iya kadang justru karena kesalahan kita, kekreatifan kita, kita malah menenggelamkan dan mematikan potensi kreatif yang sebenarnya dimiliki oleh anak-anak kita. Duh makin baper kan saya. Apalagi baru-baru ini suami dan saya dihadapkan dengan kegalauan pemilihan sekolah untuk buah hati kami.

Sejauh ini kami memang sepakat untuk nggak homeschooling dengan berbagai pertimbangan. Meski demikian kami tetap sepakat bahwa tanggung jawab pendidikan anak adalah tugas utama kami sebagai orang tuanya. Kalau seperti nasehat sahabat saya sih, ya sudah kita jangan terpaku sama standart sekolah yang harus sempurna sama persis kayak visi misi kita. Ya mana ada. Cari sajalah yang mendekati. Nanti sisanya yang kurang ya tugas kita sebagai orang tua untuk menyempurnakan celah-celah yang ada. Duh ngomongnya gampang, tapi prakteknya ini lho sungguh luar biasa.

Contohlah ketika saya dihadapkan dengan pilihan sekolah umum vs sekolah agama. Di sini lagi-lagi saya galau tentang sekolah anak. Suami maunya pilih yang umum saja dengan alasan materi sekolahnya nggak berat. Anak-anak masih kecil biarkan mereka menikmati masa anak-anaknya tanpa dijejeli ini itu. Untuk agama ya tugas kita sebagai orang tua dari rumah. Cuman ya namanya tekanan itu lho ya kok ya dahsyat rasanya. Mulai dari judge bahwa bagaimanapun agama itu harus diberikan sejak dini. Kalau masuk sekolah agama kan enak mereka sudah dapat bekal agama dari sekolah. Terus pas saya diskusikan lagi sama sahabat saya tadi, saya malah kayak ketampol lagi, "Woiiiii coba dipikir lagi, jadi pembekalan agama untuk anak itu sebenarnya tugas sekolah apa orang tua?!" Terus saya mikir lagi ... Iya ya ... orang tua ...

Duh pokoknya galaunya dahsyat deh, hingga akhirnya ya sudah saya pasrah shalat istikharah apapun jawabannya Insya Allah sekolah tersebut yang terbaik untuk si kakak. Iya di sini kegalauan saya seperti dibenturkan dengan bayangan sistem sekolah yang menjadi masalah terbesar untuk kami agar bisa tetap menghidupkan kekreatifitasan mereka di usia dini.

Entahlah dalam benak saya ada bayangan, nanti ketika dihadapkan dengan sistem yang salah mau nggak mau kami pasti jadi pelaku bulliying yang memaksa anak-anak kita agar terus on the track sesuai sistem yang ada, padahal bisa jadi itu nggak mereka banget (alias kalau saya bilangnya, nggak gue banget) terus nantinya malah kekreatifannya terbunuh perlahan, kan sayang.

Seperti yang dibahas di kelas bunda sayang tadi bahwa "Anak-anak kita itu sebenarnya sudah kreatif"

Di mana mereka (anak-anak) memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ah ini mah saya setuju, duo bocils saya nih kalau nanya Ya Allah nerecel. Kadang sampai bikin saya kesel kalau pas otak saya mbelehar alias lagi nggak benar. Pernah nggak sih pas mereka nanya estafet nggak kelar-kelar padahal kita lagi sibuk sama yang lain, terus nggak sadar kita bilang, udah ah nanya mulu dari tadi, capek nih yang jawab! Terus mereka jadi mingkem diam kecewa nggak jadi nanya. Nah kan ... ini kok menurut saya kita sudah membully hati mereka.

Terus lagi dijelaskan bahwa mereka (anak-anak) itu tidak mengenal tidak mungkin. Ih ini sering banget nih. Saya jadi ingat beberapa waktu lalu, seorang sahabat men-share gambar dia versi yang digambar oleh anaknya. Di mana di situ tergambar seorang perempuan berambut hijau. Terus seingat saya ada yang komen, "Kok rambut hijau sih?!"

Saya sempat mikir gitu juga sih, tapi terus saya mikir apa yang salah coba. Ya kali emaknya memang rambutnya di warna hijau. Terus saya iseng komen kan, "Ah ini emaknya jangan-jangan memang rambutnya di hairlight ijo nih ya." Eh ternyata bener lho ... taraaaaa ... wah ini kalau dikuiskan saya dapat hadiah nih.

Nah ini kan jadi semacam apa sih yang nggak mungkin dari imajinasi mereka. Salah satunya bahwa rambut itu nggak harus selalu hitam. Eh ini saya jadi ingat si kakak juga sih kalau mewarna gambar beberapa kali suka dapat protes dari ibu saya. Misal, "Kok rumput warna biru sih???" Dulu seingat saya, saya pun pernah mendapat respon seperti itu, "Kok bunga warnanya biru sih??? Mana ada ..." Iya saya dulu mikirnya ya sudah berarti memang nggak ada bunga warna biru. Lah sekarang? Hayooo coba sebutin bunga yang warna biri ada nggak??? Kalau kata anak saya yang kecil ada ... Itu bunganya Elsa Frozen. Haha ... Nah kan apa yang salah sama imajinasi kreatifitasnya. Hehe ...

Selain itu iya mereka (anak-anak) memang nggak takut salah. Coba bayangkan ketika mereka naik panjat-panjat, duh kita kadang suka kuatir kan. Pernah nih anak saya naik-naik manjat-manjat, terus ada ibu-ibu gitu yang kuatir, terus saya ditegur karena dianggap ngebiarin anak saya. Ya Allah padahal saya tuh meski cuek gini Insya Allah tetap ngawasin dari jauh.

Dulu saya tuh ya over parno gitu. Tapi saya diingatkan suami, "Lha kalau anakmu nggak kamu biarin manjat-manjat, apa-apa kamu larang karena kekuatiranmu, terus ya mana bisa mereka mengeksplorasi diri mereka."

Errrrr ... saya mikir bener juga ya. Terus suami saya jawab, "Ya sudah biarin sih, sambil diawasin. Nanti kalau sudah kelihatan bahaya ya kamu ingetin."

Dari situ akhirnya kami mulai mencoba konsep kalau misal mereka nggak mau dengar nasehat kami ya sudah kadang kami biarin. Misal nih lari-lari, awal kami ingatkan hati-hati ya. Eh tetap saja abrakan alias lari-larian gedabrukan, ya sudah kami biarin terus nggak lama njungkel ya sudah kan mereka jadi tahu sebab akibat toh.

Oh iya, si kakak pernah nih, suatu ketika pas kami di hotel saya sudah bilang agar dia nggak main-main di dekat pintu lemari, karena kami kuatir dia kecepit. Eh tetap saja sih ya si kakak sama adik asyik mainan. Terus saya masih baru noleh sepersekian detik, la kok dia ngomong sambil mewek, "Mamam Yayah, maaf ini jariku kecepit tapi sakit ..." Terus baru deh dia nangis. Hahaha ... dapat respon gitu sejujurnya asli suami sama saya malah pengen ketawa, kok ya bisa-bisanya gitu kecepit masih minta maaf. Itu akhirnya kami bahas sih. Iya dia minta maaf karena sepertinya dia sadar kalau salah, kan tadi sudah dilarang tapi nggak mau dengar. Hehe ...

Nah terus gimana dong agar kita tak mematikan kreatifitas yang sebenarnya sudah dimiliki anak-anak kita sejak dini? Ya justru sebagai orang tuanya lah kita harus mau berubah. Misalnya dengan :

- Memberi lebih banyak dorongan. Sebagai orang tua kita bisa terus memberi support dan motivasi agar mereka bisa lebih memaksimalkan kekreatifan apa yang ada dalam diri mereka.

- Memberi cinta tanpa syarat. Duh yang ini PR banget nih, kadang saya tuh kalau apa-apa masih suka ngomel. Padahal ngomel saya kadang ya karena cinta. Semoga saya bisa terus memperbaiki diri, agar anak-anak tidak salah paham. Jangan-jangan nanti omelan saya dianggap karena nggak cinta. Hehe ...

- Menghargai Keunikan. Iya yang ini sudahlah jangan kita terlalu fokus sama fisik mereka yang peseklah, kriwul lah, nggak tinggi-tinggilah, metekel lah, item lah, entah apalagi lah namanya.

- Memberikan dunia untuk menjelajah. Nah ini pernah nih, beberapa waktu lalu seorang sahabat memberikan contoh sepupunya yang jadi malas sekolah karena sering ikut pindah-pindah terkait pekerjaan orangtuanya. Okelah mungkin ada benarnya apa yang disampaikan tentang sepupunya. Tapi kalau dari sudut pandang kami justru itu menjadi tugas kami sebagai orangtua yang harus menyiapkan mereka agar bisa melebarkan ruang lingkup mereka. Konon bahkan seorang sahabat yang juga sering pindah-pindah dulunya mengikuti orangtuanya, dan sekarang dia juga tetap jadi orang yang pindah-pindah ikut ikatan dinas suaminya, mengatakan bahwa justru konon anak yang mudah beradaptasi bisa jadi anak yang cerdas. Amin. Kok ya kebetulan saya lihat Insya Allah buah hati kami ini mudah beradaptasi. Gimana enggak sejak bayi cower mereka sudah sering saya ajak riwa-riwi. Hehe ... Mungkin ini juga jawaban Allah kenapa kasih saya kehamilan kesundulan, ya salah satunya kayak sekarang ini setidaknya mereka menjadi teman satu sama lain, ketika beberapa kali kami ajak ke tempat baru.

Lalu bagaimana agar kita sebagai orang tua bisa berubah? Salah satunya seperti yang dibahas di kelas bunda sayang, yaitu sebagai orang tua apa salahnya berpikir out of the box.

Jadi gimana maksudnya?
Nah ini mungkin bisa dicontohkan seperti beberapa gambar yang dishare di kelas bunsay oleh fasilitator kami Mbak Kishartati. (Gambar disertakan sudah seijin fasilitator).

Ada beberapa kreatifitas yang bahkan mungkin nggak pernah kepikiran oleh kita. Seperti beberapa gambar di bawah ini.

Hayo Coba Tebak Apa Ini?
(Sumber : Kelas IIP Bunsay Gabungan)
Tulisan Apa Hayooo???

Eaaaaa ...
Hayo coba siapa yang bisa narik garis 4 biji dari titik titik ini tapi garisnya nggak boleh putus

Nah tentang menjadi orang tua yang out of the box ini, saya sedang merenungi salah satu potensi si kakak yang beberapa waktu lalu sempat saya sharingkan dengan salah satu sahabat yang punya basic psikologi, sebut saja Mbak Gritti namanya. Memang mbak Gritti sih namanya. Hehe ... Di mana saya tuh dulu sampai duduk di bangku SMA nggak bakat masukin bola basket ke ring basket meskipun jaraknya dekat banget. Lah ini saya lihat si kakak kok ya kalau saya ajak arena bermain semacam transmart, timezone, dsb dia bisa dengan mudahnya masukin bola basket ke ring. Wooooo takjub ini mah saya.


Ternyata kalau kata sahabat saya, mesukkan bola ke ring itu merupakan rangkaian dari beberapa aktivitas yang kompleks. Bisa jadi itu karena kami sebagai orang tua sudah berhasil menstimulasi kemampuan motoriknya daripada orang tua saya dulu. Duh langsung hidung kembang kempis ke GE ER an ... Hehe ...

Out Of The Box Lainnya
Pernah Mikir Nggak yang Beginian Bisa Hemat Lilin
Hehe ...

Terus saya jadi mengingat-ingat apa yang sudah saya lakukan untuk anak-anak kami. Kayaknya nggak ada yang istimewa ... Lha wong saya ini emak macam apa coba, ketika semua orang tua di sana berlomba-lomba membeli mainan ini itu untuk menstimulasi motoriknya, saya kok ya nggak lempeng ikutan beli. Menurut saya karena mainan-mainan itu sudah mainstream *halah bilang saja nggak ada budget buat beli mainan itu. Hehe ...

Sekreatif Apa Kita Untuk Buah Hati Kita

Tapi kemudian saya ingat kalau pas saya kupas-kupas bawang, si kakak adik ini antusias pengen ikut ngupasin bawang putih (pakai tangan). Maksa gitu, ya sudah sih saya biarin. Terus lagi pas saya jemur-jemur pakaian habis dicuci kok ya mereka ngeyel minta ikut jemurin pakaiannya sendiri. Awalnya saya ngelarang sih, soalnya pikir saya kok ya nggak kelar-kelar nanti. Pegel pengen buru-buru selonjoran. Padahal ya meski saya kerjain sendiri kok ya malah nggak kelar-kelar. Setelah akhirnya saya biarkan mereka terlibat kok ya malah cepat kelar.

Ikut Kupas-Kupas Bawang
Nah kegiatan itu yang konon mungkin, *ini mungkin lho ya* bisa mengasah motorik mereka. Ini saya sharingkan sih ke Mbak Gritti. Terus katanya, "Ya sudah mbak besok lagi kalau jemur pakaian atau kupas-kupas bawang sekalian anaknya sambil diajak berhitung. Misal, tolong kak mamam ambilkan kutang sepuluh biji." Eaaaaaaa ...

Nah saran ngitung kutang dari Mbak Gritti ini yang saya anggap out of the box juga sih ya. Iya soalnya kan sekalian menyelam minum air. Kan daripada kita ngelarang mereka karena takut kerjaan nggak kelar-kelar, kenapa nggak sekalian kita ajak mereka "main jemur-jemuran". Hehe ...

Terus saya bercanda ini mah antara modus minta dibantuin jemur sama melatih motorik jadinya beda tipis ya. Hehe ...

Awas lho nanti dikira eksploitasi anak! 😐😅

Terus saya kok jadi mikir simpel ya, bahwa untuk melatih motorik anak dan memunculkan kreatifitas mereka ya bisa dari kebiasaan sehari-hari, yang penting kita sebagai orang tuanya ya jangan membatasi apa yang ingin mereka lakukan selama itu positif.

Kebetulan kemaren saya kok ya jadi kepikiran beli pisau khusus untuk mengupas wortel. Apa sih ya namanya, yang bentuknya kita tinggal nyerut saja. Terus tadi ya akhirnya meski nggak jadwal masak wortel saya jadi belok beli wortel, soalnya si kakak antusias pengen ngupasin wortel. Selama dia ngupasin ya saya cuma nasehatin bolak balik, kalau pisau itu tajam. Kena tangan bisa berdarah. So far Alhamdulillah kok saya lihat si kakak jadi happy.

Satu lagi sih, kalau selama ini saya sering bingung sama kegiatan apa yang nggak bosenin bisa saya kerjakan bareng anak-anak, kok ya pas kemaren saya dapat ide pengen beli buku doodle untuk saya warnai demi menghilangkan stres. Kan lagi musim tuh dulu, katanya mewarnai buku-buku doodle itu bisa merelease stress. Ya sudah sih akhirnya kemaren saya beli buku itu, tapi terus saya mikir kenapa nggak beli yang bisa saya warnai bareng kakak adik???

Awalnya saya mikir ya sudahlah nyari yang gambarnya umum saja. Ternyata ada sih buku doodle anak-anak. Jadi ya sudah dari kemaren seru saja nggambar bertiga sama mereka. Si kakak sih yang beberapa kali sempat nanya, "Ini nggak papa mam diwarnai ini? atau itu?" Ini mungkin dia masih terbatasi sama kebiasaan dulu kalau mewarnai dibatasi nggak bisa eksplorasi karena patokan standart warna objek secara umum ya. Jadi ya sudah dari sini saya mencoba dia bisa lebih mengembangkan kreatifitasnya tanpa membatasi dia mau warna apa. Enaknya mewarna doodle itu gitu sih menurut saya.


Terus serunya, dari gambar-gambar doodle yang ada tersebut, si kakak adik mulai mengembangkan imajinasinya. Misal menyebutkan gambar-gambar yang ada. Lalu mereka mulai bertanya kenapa itu kok pitanya beda sendiri ya? Kok itu gambarnya beda ya? dsb.

Sejujurnya ini masih jadi PR saya dan suami banget nih agar kami bisa menjadi orang tua yang bisa terus menumbuhkan potensi buah hati kami melalui kreatifitas yang sudah mereka miliki sejak dini. PR nya memang biaya sekolah sekarang itu mahal. Jadi sejauh ini sama suami dari obrolan ringan sih kami sebisa mungkin mengusahakan pendidikan yang terbaik untuk mereka dengan mencarikan sekolah yang mendekati visi misi keluarga kami. Berhubung suami memang ada tuntutan pekerjaan yang kemungkinan besar pindah-pindah, ya mau nggak mau mungkin biaya akan jadi tantangan tersendiri untuk kami. Biasanya uang pendaftaran nih yang lumayan. Hihi ... Tapi so far kata suami ya sudah nanti kalaupun kepepet mungkin kita bisa pakai opsi home schooling. So??? Let it flow saja lah ...

Balik lagi yang penting mari kita sebagai orang tua belajar dari diri kita untuk tidak jadi pelaku bulliying bagi buah hati kita, agar mereka bisa terus mengembangkan dirinya dari hari ke hari menjadi sesuatu yang luar biasa yang mungkin tak pernah kita pikirkan sebelumnya.

Pesan moralnya sih, kreatif itu lebih penting ketimbang hidung mancung, kulit gelap, atau rambut kriwul. Tenang biarkan penjepit hidung yang beraksi untuk memancungkan hidung, dan lotion pemutih kulit yang memutihkan kulit gelap, juga pencatok rambut yang meluruskan rambut kriwul. Satu yang perlu kita garis bawahi bahwa, penjepit hidung, pemutih kulit, maupun pencatok rambut kriwul itu saya yakin lahirnya ya dari orang-orang yang kreatif mikirnya out of the box. Hehe ...
Taraaaa ini jawaban 4 garis tanpa putus tadi

Noted : Mengejek termasuk dalam kategori bullying juga

No comments:

Post a Comment