Thursday, March 1, 2018

Ternyata Begini Ya Rasanya Milih Sekolah Anak ...

Musim pendaftaran sekolah telah tiba, dan ternyata taraaaaa, kami pun jadi salah satu dari sekian banyak orangtua yang dirundung kegalauan dalam memilih sekolah yang sesuai atau setidaknya paling mendekati visi misi keluarga kami. Alasannya sederhana, karena memang di dunia ini nggak akan ada yang sempurna. Duh jadi pengen nyanyi 😂😅

Time Run Go Fast
Perasaan Baru Kemaren Brojol
Eh, Sekarang Sudah Mau Masuk Sekolah 😍😘

Tapi di antara "ketidak sempurnaan" tadi kami berusaha memilih yang paling mendekati sempurna alias paling mendekati visi misi keluarga kami, dengan mensortir beberapa hal dan mengerucutkan pilihan.

Sejauh ini, karena memang tuntutan pekerjaan suami yang harus siap dipindahkan ke mana-mana, mau nggak mau kami harus mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya kemungkin munculnya biaya lainnya yang bikin "bengkak" pos dapur keuangan keluarga.

Oke, Mari Mulai Belajar Pembukuan
Demi Support Masa Depan Anak-Anak

Sehingga kami milih sekolah yang berjenjang punya tingkat lanjutan saja yayasannya. Dalam artian begini kami milih TK nya kalau ada yang punya jenjang SD sekalian. Soalnya menurut pandangan kami, nanti dalam beberapa hal, siswa dari dalam punya prioritas berbeda dalam hal "biaya sekolah".

Seperti yang saya survey dulu sih rata-rata begini, misal kami masuk ke TK "endebra" lalu anak kami masuk ke SD "endebra" maka biaya pendaftaran hanya 7 juta saja, nah tapi kalau anak kami dari TK "blabla" dan mau masuk ke SD "endebra" maka dikenakan biaya 10 juta. Nah kan lumayan tuh ada selisihnya "3 juta" bisa ditabung. Haha ... Eh tapi ini nominalnya cuman perumpamaan ya.

Ya kali nanti sewaktu-waktu suami harus pindah kota lagi, kami tetap harus ikut, seenggaknya kalau daftar pindah sekolah lagi kami masih punya simpanan 3 juta tadi jadi nambahnya nggak sebanyak kalau kita nggak punya simpanan. Huahahaha ...

Nah, tapi seorang sahabat kayaknya agak bingung dengan cara pikir saya, karena menurut dia pilihan saya cari sekolah berjenjang itu untuk "hemat" itu bukan solusi. Lha kalau pindah-pindah kan boros. Jadi dia memberi kami "solusi" untuk nggak pindah-pindah kota. Tapi sayangnya solusi simple ini nggak cocok kalau harus dijalankan mengikuti visi misi keluarga kami.

Kok bisa?

Iya sebab jauh sebelum menikah, suami sudah menanyakan kesiapan saya untuk bisa mensupport mengikut ke mana arah karir dia melangkah.


Saya ingat dulu sebelum nikah ada obrolan kurang lebihnya gini :
👨 : Aku sudah ttd kontrak sama perusahaan bahwa aku bersedia ditempatkan di mana saja di indonesia kapanpun perusahaan membutuhkan. Jadi kira-kira apa kamu siap ngikutin aku ke mana saja?
👩 : *Mendapat pertanyaan tersebut, saya lantas sepakat insya Allah akan selalu bisa mensupport karirnya dengan mengikuti  dan mendampingi di setiap langkahnya*

Sebenarnya dengan alasan ini juga, saya jadi lebih mantap melepas karir yang baru mau saya rintis di awal (3 apa 4 tahun) pernikahan kami, sewaktu dokter menyarankan saya resign dari kerjaan agar bisa mendapat buah hati. Lho apa hubungannya? Yahhh ... Dihubung-hubungkan saja sih ... Pas lagi bingung antara "gengsi" mau jadi ibu rumah tangga, apa lanjut berkarir, padahal sudah kadung janji mau ikut ke mana pun suami ditempatkan. Iya gengsi soalnya pasti bakal ada omongan nggak enak di belakang saya kalau saya pilih jadi ibu rumah tangga. Yah memang terbukti sih saya jadi omongan. Tapi kan ya wes ben, sebahagia mereka lah mau ngomongin saya sampai muruh ya nggak apa-apa. Asal nanti kalau haus jangan lupa minum ya biar nggak keselek. Haha ...

Oia balik lagi ya. Nah sebenarnya atas dasar ini juga, ketika buah hati lahir,  kami pernah berdiskusi beberapa poin yang akan kami lakukan terkait persiapan pemilihan sekolah anak dengan kemungkinan-kemungkinan yang paling baik dari yang terbaik agar bisa tetap mensupport satu sama lain, termasuk karir suami.

Pas diskusi sih gampang, giliran beneran praktek ternyata ya lebih agak mumet sih ya. Tapi kan kami nggak boleh nyerah gitu saja ... Hihi ...

Saya jadi ingat memang ada beberapa teman yang mempertanyakan pilihan kami (terutama saya) yang ikut mbuntut suami pindah lengkap dengan formasi anak-anak.

Nggak usah jauh-jauh teman, bahkan ibu (mertua) juga mengajukan pertanyaan yang sama :
"Nanti sekolah anak-anak gimana???"

Kami sih jawabnya simpel waktu itu, "Ya nanti tetap disekolahkan lha ... "

Nah tema nyekolahin anak ini yang memang harus benar-benar dipikirkan secara matang-matang.

Gimana caranya biar anak-anak tetap mendapat pendidikan terbaik, tapi emak bapaknya kuat mbiayainnya 🤔

Sebab ya tadi kalau bapake pindah-pindah dan kami tetap "ngeyel" ikut pindah pasti ada biaya yang keluar di setiap kepindahan kami. Toh selain terikat komitmen nggak LDR, kami pernah nyoba LDR beberapa bulan pas proses kepindahan suami, hasilnya malah lebih berat cuyyy 😅

Iya karena uang pengeluaran jadi dobel-dobel. Iya saya tetep harus masak untuk anak-anak. Sedangkan suami di tempat barunya maemnya beli di luar. Belum jajannya. Padahal ini kalau jadi satu nggak LDR an biaya makan dan jajannya bisa lebih dibikin hemat dengan makan dan bawa bekal dari rumah semua. Huahaha ...

Ini belum biaya PP suami buat kangen-kangenan sama anak-anaknya. Lha waktu kangennya habis buat anak-anaknya, emaknya kadang cuman kebagian seupil eh dia harus balik kerja lagi 😂😅

Anggaplah pp seminggu sekali biayanya sejuta, nah kalau dibuat sebulan dua kali saja sudah 2 juta. Kalau dikali setahun ya jadi 24 juta 🤔

Itu sejuta PP kalau pas dapat rate termurah ya, kalau pas apes nggak dapat rate termurah ya tinggal meringis saja. Haha ...

Nah jadi ya wes kami nggak bisa LDR an ...

Nah 24 juta ini tadi kalau mau dikumpulin sampai 2 tahun bisa 48 juta, misal 3 tahun 72 juta

Nah nggak sebanding kan ... Malah rasanya ini biaya bakal lebih gede dari biaya pindah sekolah anak-anak.

Lha kalau ada yang nyaranin, ya kalau gitu nggak usah LDR an nggak usah pindah-pindah saja kan enak!

Yah ... Lha kan sudah tuntutan pekerjaan. Terus mungkin kalau ada yang nyaranin, "Ya sudah keluar saja dari kerjaannya!" Mbak-mbak situ nyuruh kami keluar apa bisa ngasih kami kerjaan? 😅

"YO NGGOLEKO DEWE!!!"

Ya kalik mau keluar dari kerjaan terus lambaikan tangan saja, duit sudah datang ceplak ceplok di dapur. Eaaaaa itu ngepet ya mbak? 🤣

Eh tapi ada lho orang yang meski dituntut pekerjaannya pindah, dia tetap bisa bertahan nggak pindah. Ya ada memang, tetap berada di zona sama dan tetap aman sentosa alias berada di zona nyaman.

Tapi seperti obrolan sama suami tempo hari, "Mau sampai kapan sih kita di Zona Nyaman? Semakin lama kita di Zona Nyaman, kita akan keenakan dan kuatirnya malah bikin kita nggak bisa berkembang lho!"

Ya ada benernya sih obrolan tersebut. Soalnya seperti nasehat salah satu sahabat saya mak bule diana ketika saya dulu di masa-masa down ngadepin kerjaan suami yang rasanya nggak ada habisnya, "Ya hidup itu pilihan. Kayak kerjaan suami mak Vet, kan sekarang tinggal pilih mau take it or leave it! Kalau mau take it ya terima dong sama resikonya. Toh kalaupun mau leave it ya nggak apa-apa kan masih banyak yang mau menggantikan posisi kerjaan suami Mak Vet! Inget lho di luar sana masih banyak orang yang butuh pekerjaan!"

Nah kan ...

Jadi ya sudah, intinya kami sudah memikirkan jauh-jauh sih semua resiko yang kemungkinan kami hadapi untuk bisa mensupport pekerjaan suami, agar kami bisa terus bersyukur atas rejeki yang sudah diberikan oleh Allah untuk kami melalui pekerjaan suami.

Oh iya balik lagi ya, jadi kalau soal sekolah anak-anak tadi, kami pun selalu diskusi dari hari ke hari.

Seperti bagaimana agar kami tetap bisa support karir suami tapi tidak mengabaikan pendidikan anak-anak kami.

Ada banyak plan A dan plan B sampai mungkin C, D, E dalam daftar kami terkait visi misi keluarga kami. Misal dalam hal sekolah anak-anak. Dulu kami selalu diskusi, selama anak-anak belum cukup umur maka pilihan kami ya mereka nggak boleh pisah dari kami, karena sudah jadi tugas kami dari dalam rumah untuk membekali mereka.

Nah sempat ngobrol sama suami untuk plan lain, seandainya pun di tempat baru nggak ada sekolah yang sesuai visi misi maka kemungkinan "terberat" kami harus siap homeschooling. Iya homeschooling itu pilihan yang sangat berat karena kalau ortunya mblehar alias nggak siap ya jangan macam-macam, karena kan ini terkait masa depan anak.

Jadi dengan alasan itu kami berusaha mencari solusi lain, misal mencari sekolah yang mendekati visi misi kami. Toh sisanya yang kurang bisa kami bekali dari rumah.

Nah tapi kalau nggak ada yang mendekati gimana? Ya balik lagi dong kan tadi ada plan homeschooling. Kalau sudah gitu kan siap nggak siap harus siap, karena berarti itu pilihan yang paling baik dari yang ada.

Pun ini mungkin akan jadi plan kami, ketika nanti suatu saat kami mungkin kehabisan budget untuk biaya pindah-pindah sekolah, ya masak mau maksain sih 😅 Ya kalau daripada LDR biaya bengkak tapi kebersamaan keluarga untuk bisa membekali anak dari rumah nggak maksimal mungkin pilihan kami jatuh ke homeschooling.

Nah tapi setiap plan itu kan bisa dipakai bisa tidak, bisa diakalin bisa diantisipasi juga. Dalam artian ya sudah suami biar berkarir di ranahnya. Sebagai keluarga kami ingin mensupport penuh, karena bagaimanapun kesuksesan suami juga bisa jadi kesuksesan kami juga. Iya dong di balik suami sukses selalu ada istri kuat, anak-anak hebat. Hehe ...

Ini kok saya jadi ingat obrolan seorang sahabat lainnya di wa tadi malam, "Iya rek kamu enak nggak perlu mikir biaya sekolah anak, biaya ini itu sendiri. Ada suamimu bla bla bla ..."

Untung ada sahabat saya yang diplomatis menjawab, "Semua ada porsinya sesuai kesanggupannya masing-masing."

Nahhh bener ini ... Seperti halnya kami mau nggak mau ya ada porsi memikirkan kalau pindah sewaktu-waktu. Salah satunya ya gimana caranya kami bisa berhemat di antara kemungkinan terboros yang pernah ada. Salah satunya ya tadi, kalau ada pilihan sekolah berjenjang dengan yayasan sama, dengan kualitas baik pasti kami pilih itu.

Atau kalau misal ada sekolah dengan jaringan di kota tujuan kami lainnya tentunya yang sesuai visi misi kami ya kenapa enggak?

Tapi kalau nggak sesuai visi misi apa ya mau dipaksakan? Nggak juga kan? Kalau sudah gitu kan bisa pilih plan B, plan C dst.

Terus gimana? Masak kamu mau ajak anak-anak pindah terus. Ya sekarang masih TK lanjut SD. Nanti SMP gimana? SMA gimana?

Santai mamennnnn ...

Ini juga pernah dibahas kok sama suami. Ngikutin senior-senior yang sudah lebih sukses baik dari segi karir atau pendidikan anak-anaknya, ada banyak pilihan yang bisa kami pilih.

Beberapa di antaranya, ketika anak-anak mandiri mereka diberi pilihan boleh tetap ikut orang tua untuk berpindah-pindah, atau mau pilih sekolah dengan fasilitas asrama atau mau mondok di pesantren atau mungkin bisa tinggal sekalian nemenin neneknya.

Nah ya sudah kalau gitu, kan semua itu pilihan hidup, tinggal bagaimana kita menjalaninya 🤔

Lha iya itu bener ... Terus ngapain pakai ditulis segala di status FB atau di blog ini 😅

Ya kali mbak, saya kan nulis karena saya hobby nulis 🤣 jadi rasanya kurang afdol kalau ada sesuatu yang nggak dijadikan tulisan 😅

Biarin kalau ada yang bilang mau ngikutin trend ya! Lebay ah apa-apa kok ditulis 😅
Ya mau ngikutin trend atau nggak, tapi namanya manusia itu kadang daya ingatnya terbatas, kalau saya mah gampang lupa. Ya kali sekarang dibuat status. Nanti beberapa tahun kemudian bisa dikembangin jadi tulisan berjenjang, eh panjang maksudnya 🤣

Wong catatan diary saja bisa dijadikan tulisan di buku juga kok. Lha ngapain diary dijadiin "buku"? Ya kan untuk diambil hikmahnya. Kali dulu pas nulis diary belum tahu hikmahnya, si hikmah baru nongol, eh baru kerasa beberapa tahun setelahnya. Kan seenggaknya bisa jadi bahan self reminder. Hehe ...

Buku Biru Muda
Salah Satu Diary yang Jadi Buku

Saya mah belajar dari guru saya saja, kalau dulu belum ada FB nulisnya ide ya di buku. Lha saya ada buku, bukunya sering ilang, jadi yang teraman saat ini nulisnya ya di status FB. Nanti kalau pas butuh ide tulisan kan bisa bongkar-bongkar FB.

Ya kayak sekarang ini, nggak usah bongkar-bongkar, malah bisa jadi tulisan panjang di blog. Bwahahaha ...

Oh iya terkait kesepakatan kami untuk ikut mbuntut suami ke mana pun dia ditempatkan, sebenarnya di balik ribetnya anggapan bagi sebagian orang, kami justru belajar mengambil hikmah dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Apa itu?
1. Suami : Bisa mengasah kemampuannya melalui karirnya, juga memperluas jaringan pertemanannya.
2. Saya : Pengalaman yang bisa saya tuangkan jadi sebuah tulisan *Nah lho ... Eaaaa eaaaa eaaaaa ... Plus memperluas jaringan pertemanan juga.
3. Anak-anak : Belajar untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, pengalaman baru dengan mengenal tempat-tempat baru, juga mempeluas jaringan pertemanan.

Untuk kami, kelak mungkin kepindahan kami akan menjadi sebuah cerita seru yang bisa kami bagi ke anak cucu kami ketima mereka dewasa. Begitu juga dengan anak-anak kami kelak akan jadi sebuah cerita nostalgia untuk mereka, "Dulu aku pernah tinggal di sana atau di sana atau di sana. Di sana itu asyik bla bla bla ... Kalau di sana itu juga asyik soalnya bla bla bla ..." Nah ini kayak salah satu sahabat sih, yang dulu pernah ikut orang tuanya pindah-pindah. Kalau cerita itu Ya Allah asyik banget, seru banget. Hihi ...

Satu sih dalam pemilihan sekolah ini, saya suka cekikikan sendiri mentertawakan diri. Ealahhh gini ta ... Soalnya dulu kan cuma bisa melihat hebohnya cerita teman-teman nyari sekolah anak-anaknya. Lah ini kayaknya saya malah lebih heboh lagi sama suami 🤣

Tapi seperti halnya kehebohan kami untuk memutuskan sekolah mana yang tepat untuk buah hati kami. Insya Allah akan selalu jadi cerita seru dalam perjalanan kami. Terus tahu-tahu nanti jadi buku dengan label "based on true story" gitu saja. 🤣

Oke jadi tunggu cerita kehebohan kami di lain waktu. Sementara saya mau ngangsu air hujan dulu. Maklum hari ini harusnya jadwal air nyala, ternyata kok ya nggak nyala. Haha ... Untung hujan deras seharian. Jadi semua disyukurin saja ya. Yang penting, "Jalani, Nikmati, Syukuri" kan ...

Yang Penting Yuk Mari Gandengan Tangan Yang Kenceng, Saling Support Satu Sama Lain

No comments:

Post a Comment