Friday, May 18, 2018

Hubungan Fenomena Fatherless vs Fitrah Seksualitas pada Anak

Tema yang dibahas oleh kelompok 7 di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional level 11 ini adalah mengangkat tentang Fitrah Seksualitas yang dihubungkan dengan Fenomena Fatherless.


Di mana dalam bahasannya ternyata kehadiran ayah memang berperan sangat penting dalam kesadaran fitrah seksualitas pada anak.


Seperti disampaikan oleh Mbak Rozalina dari kelompok 7 :
"Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang bersikap, berfikir, bertindak sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.


Bagaimanapun untuk menumbuhkan fitrah ini sedikit banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada ayah dan ibu.


Sebaliknya, diakui atau tidak fenomena Fatherless ini sering terjadi di lingkungan sekitar kita, di mana kondisi fatherless merupakan kondisi anak-anak dalam kehidupan sehari-harinya tidak memiliki hubungan yang dekat dengan ayahnya atau ketiadaan peran/figure ayah.


Bagaimana bisa fenomena fatherless ini terjadi? Jika saya hubungkan merujuk dari bahasan sebelumnya tentang : Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anakmungkin terkait dengan masih adanya konsep bahwa tugas ayah hanyalah kerja dan mencari uang, sedangkan urusan di rumah adalah sepenuhnya urusan ibu.


Di sinilah mungkin letak kesalahannya, karena dengan konsep bahwa ayah tugasnya "hanyalah" mencari uang saja, maka ayah jadi lupa tugas untuk turut dalam perkembangan anak-anaknya.


Tanpa kedekatan dengan ayah inilah, ternyata berimbas banyak terhadap perkembangan fitrah seksualitas anak ke depannya.

Biasanya kebanyakan anak-anak yang kurang dekat dengan ayahnya bisa menjadi pribadi yang minder.


Minder ini pun banyak imbasnya, beberapa di antaranya anak jadi penyendiri dan tidak punya teman.

Sayangnya tak hanya sekedar tidak punya teman, tapi bahayanya jika ini terjadi pada anak perempuan yang beranjak remaja, maka bisa menyebabkan ia jadi mudah menerima "rayuan" dari luar. Alasannya sepele, karena ia tidak pernah dekat dengan ayahnya, sehingga ketika ada lelaki lain dari luar yang menawarkan "rayuan" yang "seakan-akan" berbalut "kasih sayang", ia akan dengan mudah menerimanya, sekalipun itu salah. Sebab bahkan dia tak pernah mendapatkan contoh atau skema bagaimana realisasi kasih sayang yang benar bukan sekedar gombal.


Kalau dipikir-pikir ini ada benarnya juga, karena kurangnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan membuat anak jadi kurang mendapat kasih sayang dari sang ayah. Jika diibaratkan mungkin si anak akan semacam jadi pribadi yang haus kasih sayang, jadi dia akan "gampangan". Naudzubillahimindzalik.

Sebaliknya jika fatherless ini terjadi pada anak laki-laki, maka si anak tidak memiliki figur atau skema bagaimana seharusnya menjadi lelaki sejati.

Sayangnya meski demikian konsep ayah adalah raja karena tugasnya mencari uang kebanyakan sudah menjadi kebiasaan di lingkungan kita.

Contoh gampangnya, ketika setelah seharian si ayah lelah bekerja, dan biasanya anak-anak berhamburan berharap bisa bermain dengan ayahnya, seringkali kita ditegur oleh sekitar kita dengan kalimat, "Duh jangan ganggu ayahmu nak, kasihan ayah sudah capek kerja biar istirahat!!!"

Tak sampai di sana bahkan mungkin ada yang lebih parah, ketika si ayah istirahat maka anak-anak tak boleh berisik karena dianggap bisa mengganggu waktu istirahat ayah.

Sudah cukup sampai di sana? Belum, faktanya terkadang di hari libur pun dalih tidak boleh mengganggu ayah karena butuh istirahat juga masih sering berlaku. Sayangnya ini kalau ayahnya nggak peka bisa saja seharian tidur ngorok-ngorok seenaknya. Terus si istri yang dari senen sampai jum'at atau sabtu, boro-boro mikir hari libur, bisa selonjoran aja sudah Alhamdulillah. Lah tapi kalau kayak gini ceritanya ayah kerja nggak bisa diganggu, ayah pulang kerja istirahat nggak mau diganggu, dan ayah hari libur waktunya juga nggak untuk diganggu, terus kapan dong waktu bonding ayah sama anaknya??? Inilah mungkin yang disebut ber-ayah tapi fatherless


Sayangnya diakui atau tidak, di era yang semakin maju ini memang ternyata jam kerja seakan tidak berujung.

Ini saya akui, kebetulan pekerjaan suami mau tak mau berhubungan dengan pelayanan masyarakat, yang mana tentu ada tanggung jawab berat yang harus diembannya terkait kebutuhan masyarakat.

Hal ini tentu membuat jika ingin kehadirannya selalu ada untuk buah hati kami, maka setidaknya ia harus bisa memanajemen waktunya, dan menurut saya tugas manajemen waktu ini bisa kita bicarakan bersama.

Seperti yang dibahas oleh Grup 7 :
Untuk membantu ayah dalam menyusun kegiatan apa saja yang dilakukan dalam mengasuh anak. Maka diperlukan pemahaman dimensi-dimensi pengasuhannya.

1. Engagement, yaitu interaksi langsung yang dilakukan ayah dengan anaknya dalam konteks merawat, bermain, atau mengisi waktu luang. Jadi, penting bagi seorang ayah untuk melakukan interaksi langsung dengan anak, misalnya menemani bermain, mengajarkan anak mengendarai sepeda di hari libur, dan aktivitas lainnya.

2. Accesibility, yaitu ketersediaan secara fisik dan psikologis yang ayah berikan pada anak. Sebagai seorang ayah, penting untuk memberikan dukungan secara fisik maupun psikologis kepada anak. Misalnya, mengambil raport anak disekolah. Hal ini terkesan hal sederhana, namun berapa banyak ayah yang hadir secara fisik untuk melakukan hal itu?

3. Responsibility, yaitu perawatan dan penjaminan kesejahteraan anaknya. Misalnya, ayah mendukung kebutuhan passion anak yang gemar berenang. Selain itu, ayah juga bisa menyediakan lingkungan tempat tinggal yang nyaman dan kesiapan untuk mengakses ke rumah sakit/tempat pengobatan jika ada kondisi darurat. Secara umum, fungsi responsibility inilah yang dilihat sebagai tugas utama ayah yaitu mencari nafkah.

Tidak mudah memang sebenarnya untuk mengaplikasikan hal-hal tersebut, jika memang para ayah termasuk orang yang jam kerjanya sangat sibuk. Tetapi justru disitulah menurut saya tantangan kita. Setidaknya ketika si ayah memang sedang sibuk bekerja karena tanggung jawabnya pada pekerjaannya, maka kita bisa memberikan pengertian kepada buah hati kita. Dari situ sedikit banyak kita juga bisa mengajarkan tentang empati kepada anak-anak.

Selain itu kami sendiri selalu mengusahakan adanya family time khusus. Meski demikian tak jarang memang sebenarnya family time kami berantakan karena adanya tugas dadakan, yang mungkin emergency. Kalau sudah begitu gimana? Biasanya disitulah lagi-lagi tantangan kami, di mana suami biasanya akan meminta maaf kepada buah hati kami, dan tugas saya adalah memberi pengertian kepada mereka karena memang ada hal emergency yang harus diselesaikan.

Kecewa? Mungkin itu yang terlintas. Iya mungkin awalnya mereka akan kecewa, tapi di sinilah tantangan kami untuk mulai mengenalkan konsep respek dalam keluarga.

Respek adalah, ketika kami (saya dan anak-anak) belajar memahami memang adakalanya pekerjaan suami sangat emergency untuk diselesaikan, begitu juga sebaliknya ketika suami pun memahami bahwa kami juga membutuhkan kehadirannya dalam quality time keluarga bersama, sehingga sebisa mungkin kami berusaha saling mengoreksi satu sama lain.

No comments:

Post a Comment