Thursday, May 17, 2018

Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak

Untuk menjadi orang tua hebat, tentu kita menyadari bahwa kita harus terus mau belajar meng-upgrade diri kita. Salah satu langkah yang saya tempuh adalah mengikuti kelas di Institut Ibu Profesional, yang mana saat ini saya sudah berada di Level 11 kelas Bunda Sayang. Ternyata materi yang diberikan memang seru, seperti di level 11 ini kami diminta untuk membuat grup kecil yang mendiskusikan tema tentang Fitrah Seksualitas. Dari hasil diskusi tersebut maka tiap kelompok diminta untuk mempresentasikan dan yang lainnya memiliki tugas menuliskan resume masing-masing 


Oke jadi kali ini saya akan mencoba membuat resume hasil materi yang diberikan oleh kelompok 4 di hari pertama, yang disampaikan oleh : Mbak Ifah dan Mbak Yekti


Adapun salah satunya yang berpengaruh dalam Fitrah Seksualitas Anak adalah Tantangan Gender, di mana kita tentu tahu tantangan itu justru timbul dari dalam keluarga dan dari masyarakat.

Seperti yang disampaikan oleh Mbak Ifah, tentang Tantangan gender jaman now, bahwa :

Mendidik Fitrah Seksualitas adalah merawat, membangkitkan dan menumbuhkan fitrah sesuai gendernya, yaitu bagaimana seorang lelaki berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagaimana lelaki Juga bagaimana seorang perempuan berfikir, bersikap, bertindak, merasa sebagai seorang perempuan.

Di mana Mbak Ifa menyampaikan ada 3 prinsip yang harus diperhatikan :

Prinsip 1 : Fitrah Seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqilbaligh (15 tahun)

Prinsip 2 : Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%.

Prinsip 3 : Mendidik Fitrah seksualitas sehingga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya Peran Keayahan Sejati bagi anak lelaki dan Peran Keibuan sejati bagi anak perempuan. Buahnya berupa adab mulia kepada pasangan dan anak keturunan.

Jika melihat 3 prinsip tersebut, maka tentu kita setuju berarti baik ayah maupun ibu memiliki peran yang sama pentingnya di rumah, bukan sekedar ayah tugasnya hanya kerja cari uang, sebaliknya ibu tugasnya urusan rumah. Jadi mau tidak mau ya memang ayah juga punya peran penting juga dalam perkembangan fitrah seksualitas anak di rumah.

Hal ini bisa kita lihat, di tahapan pengasuhan anak yang disampaikan oleh Mbak Yekti.


Dimana penjelasannya sbb :
✔Usia 0-2 tahun anak laki-laki dan anak perempuan didekatkan pada ibunya. Inilah salah satu manfaat adanya periode menyusui. Di mana pada tahapan ini ternyata berfungsi untuk membangun kelekatan dan cinta.

✔Usia 3-6 tahun anak laki-laki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah  dan ibunya tujuannya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional. Di mana terutama untuk anak usia 3 tahun sudah harus bisa memastikan identitas seksualnya.

✔Ketika usia 7-10 tahun anak laki-laki lebih didekatkan kepada ayah, agar mendapat suplai “kelelakian” atau maskulintas, melalui interaksi aktifitas dengan peran peran sosial kelelakian, misalnya diajak ke masjid, diajak naik gunung, diajak olahraga yang macho. Ayah juga yang harus menjelaskan tentang “mimpi basah” dan fiqh kelelakian, seperti mandi wajib, peran lelaki dalam masyarakat, konsep tanggungjawab aqilbaligh, pokok aqidah dsb.

Begitu juga sebaliknya untuk anak perempuan harus lebih didekatkan ke ibunya, agar mendapat suplai “keibuan” atau suplai feminitas, melalui interaksi aktifitas dengan peran peran sejati sosial keperempuanan, misalnya merawat keluarga, memasak, menjahit, menata rumah, menata keuangan dstnya. Bunda juga yang harus menjelaskan tentang “haidh” dan fiqh perempuan, seperti mandi wajib, peran wanita dalam masyarakat, konsep tanggungjawab aqilbaligh, pokok aqidah dsb.

✔Usia 11-14 tahun anak laki-laki didekatkan dengan ibu, agar dapat memahami perempuan dari cara pandang seorang perempuan atau ibunya.

Sebaliknya, Anak perempuan didekatkan dengan ayah, karena kelak dia akan menjadi istri dari seorang lelaki yang juga menjadi ayah dan imam bagi keluarganya.

✔Usia >15 tahun adalah masa dimana fitrah seksualitas kelelakian matang menjadi fitrah peran keayahan sejati, dan fitrah seksualitas keperempuanan matang menjadi peran keibuan sejati.

Oia jadi kalau ada pertanyaan penting nggak sih kita membangkitkan fitrah seksualitas anak? Jawabannya tentu penting. Sepenting apa???


Seperti yang dijelaskan oleh Mbak Yekti dan Mbak Ifah, salah satu peran pentingnya adalah di mana dengan adanya kesadaran fitrah seksualitas yang benar maka akan berpengaruh terhadap peradaban sebuah jaman.

Lho kok bisa?
Apa hubungannya?
Ya adalah ...

Seperti disampaikan oleh Mbak Ifah, bahwa :

Dalam perkembangan dimasa sekarang, ada pula yang menganggap bahwa orientasi seksual yang lain dari yang ‘biasa’ (laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya) adalah juga merupakan kodrat atau fitrah yang biasa yang harus mendapatkan pengakuan, yang sekarang marak dikenal dengan LGBT.

Padahal jika kita mau merenung, sudah jelas secara logika bahwa bentuk kelamin wanita dan pria diciptakan berbeda untuk berpasangan dengan tujuan reproduksi menghasilkan keturunan.

Sehingga menurut Mbak Ifah, LGBT jelas adalah penyimpangan fitrah seksualitas, bukan genetik tetapi karena salah pengasuhan atau tidak diagendakan dalam pendidikan atau penularan perilaku lingkungan.

Selain secara logika bahwa bentuk kelamin wanita dan pria diciptakan berbeda untuk berpasangan dengan tujuan reproduksi menghasilkan keturunan. Tentu jika kiya mau berpikir lebih jauh, maka akal sehat juga sulit menerima alasan hormonal dan adanya perilaku homoseksual pada hewan sebagai pembenar. Perilaku menggauli sesama jenis adalah menjijikkan dan menimbulkan rasa bersalah serta aneh dan menyimpang.

Mbak Ifah juga menambahkan bagaimana jika dilihat dari sudut psikologis kejiwaan anak anak yang lahir dari “sewa rahim” atau “donor sperma” yang digadang gadang pelaku perkawinan sejenis sebagai solusi ketidakproduktifan mereka. Syariah jelas menolak keras. Hal ini bisa dilihat dari sejarah kaum Sodom di masa Nabi Luth AS menjadi pelajaran nyata. 

Hal inilah yang menjadi kunci pentingnya kesadaran fitrah seksualitas terhadap peradaban jaman, karena dalam fitrahnya, sudah tentu peradaban dibangun manusia di muka bumi dengan lahirnya keturunan atau generasi melalui keluarga dari pernikahan laki-laki dan perempuan.

Melihat penjelasan detail tersebut, sedikit banyak menjadi penegur diri saya, bahwa iya bagaimanapun anak kita merupakan generasi penerus kita, yang tentunya sangat berperan penting dalam perkembangan peradaban di masa selanjutnya.

Sehingga solusi yang bisa kita usahakan saat ini dalam menjaga fitrah seksualitas  demi peradaban selanjutnya antara lain :


❤️Orangtua bersama-sama memberikan pengasuhan  sesuai tahapan usia anak.

❤️Bijak dalam berteknologi, memanfaatkan teknologi sesuai dengan kebutuhan.

❤️Berkomunikasi yang baik benar dan menyenangkan juga memberikan pendidikan agama sejak dini.

❤️Memberikan lingkungan yang baik, lingkungan dan orang-orang yang bisa saling menguatkan dan saling menasehati  dalam kehidupan.

No comments:

Post a Comment