Friday, October 26, 2018

Pengalaman Kontraksi Dini di Usia Kehamilan Kembar 26-27 Minggu

Konon banyak yang bilang kehamilan kembar itu termasuk kehamilan yang beresiko sejak awal. Sedangkan saya sendiri ngerasanya so far so good. Saking pedenya saya sampai beberapa kali melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, tentunya dengan konsultasi ke dokter terlebih dahulu ya. Terakhir saya terbang ke Jawa lagi itu kalau nggak salah sekitar bulan September, itu pun dokter sudah kasih kode habis ini kalau bisa saya anteng di rumah saja. Memang sih akhirnya saya anteng nggak riwa-riwi naik pesawat lagi, tapi bagaimanapun saya tetap masih sibuk riwa-riwi antar jemput si kakak sekolah kan. Lalu tiba-tiba di usia kehamilan 26-27 minggu (sekitar akhir september) setiap malam selama 2-3 hari berturut-turut perut saya terasa tidak nyaman penuh kencang, dibarengi dengan rasa pusing, keringat dingin, mual, muntah, diare. Pokoknya campur aduk semua, dan paginya saya selalu merasa lemas, seperti tidak ada tenaga.


Merasa ada yang beda dari biasanya, akhirnya saya memutuskan untuk memajukan jadwal kontrol dengan dokter spesialis kandungan langganan kami. Dokter pun melakukan pemeriksaan seperti biasanya. Menurut info dokter di awal, Alhamdulillah janin yang saya kandung sehat semua.

Lalu ketika memeriksa kondisi janin dengan USG, saya sempat meminta saran apa saya perlu minum obat anti kontraksi? Ketika itu akhirnya sebelum dokter memutuskan memberi obat anti kontraksi, dokter melakukan ctg terlebih dahulu. Jujur saat dilakukan ctg yang sebenarnya saya hanya disuruh terlentang saja, sambil ditempelin alat di perut, kerasanya malah nano-nano nggak karuan. Mulai yang mual, perut kencang sampai keringat dingin lagi.

Kurang lebih 30 menit, saya menjalani pemeriksaan ctg tersebut. Hingga akhirnya perawat menunjukkan hasil ctg tersebut ke dokter. Awalnya saya kira ya baik-baik saja, waktu ngelihat dokter dan perawat berdiskusi terkait hasil ctg tersebut. Tapi sepertinya perkiraan saya salah. Dokter meminta saya duduk dulu, dan menjelaskan kalau dari hasil ctg terlihat ada kontraksi. Mendengar penjelasan itu saya langsung spechless dan clueless ... Sampai akhirnya beberapa detik kemudian suami ikut nongol masuk ke ruang dokter. Iya tadinya dia keluar sebentar mengantar anak-anak yang heboh lapar lah, haus lah, minta ke toilet lah 🤦

Ketika suami masuk ke ruang dokter, saya pun menjelaskan singkat ke suami, kalau kata dokter saya ada kontraksi. Suami sepertinya kaget juga, terus langsung melihat dokter berharap mencari penjelasan dari dokter. Waktu itu dokter akhirnya menjawab kurang lebihnya, "Iya pak, jadi gimana ini pak, kalau bisa sebaiknya ibunya opname untuk diobservasi ya pak."

Tanpa diaba-aba sebelum suami menjawab, saya pun mengiyakan, iya deh dok saya mau diopname. Saat itu yang ada di benak saya kondisi kontraksi ini pasti perlu istirahat total, sedangkan kalau di rumah yakin saya nggak bisa istirahat total. Lalu bagaimana dengan anak-anak kalau saya opname? Yang ada di benak saya saat itu, nanti anak-anak bisa dikondisikan sambil jalan sambil mikir.

Terus dokter nanya lagi kurang lebihnya, "Iya ya pak nggak apa-apa ya ibunya opname, soalnya sayang lho pak masih usia segini, ini untung bisa ketahuan sejak awal. Jadi sebisa mungkin kita ikhtiar biar bisa dipertahankan jangan lahir dulu sebelum waktunya."

Ya mau nggak mau sih, saya yakin suami setuju.

Terus, saya pun mencari penjelasan ke dokter tentang kontraksi dini tersebut. Dari penjelasan dokter sedikit banyak saya bersyukur, karena dokter mengatakan, "Untung ketahuan lebih awal, jadi Insya Allah masih bisa diantisipasi."

Penjelasan lainnya yang sedikit bikin saya lega, ketika saya juga bertanya ke perawat dokter tersebut ketika sudah di luar ruangan, "Apa mungkin, kontraksi ini selanjutnya nanti bisa mereda dan hilang?" Jujur saya nanya gitu soalnya clueless banget, kan kalau bayangan saya pas hamil pertama dan ke dua dulu, namanya kontraksi muncul nanti makin lama makin nambah. Jadi kalau dibilang saya nggak kuatir ya bohong banget lah ya.

Alhamdulillah perawat bilang kurang lebihnya, "Bisa kok buk. Banyak kok ibu hamil yang mengalami kontraksi dini, tapi ke depannya kontraksinya bisa hilang, karena belum terlambat ketahuannya."

Oke fix saya makin mantap untuk opname kali itu. Lalu saya pun mengabari ibu, dan minta doa kepada beberapa keluarga, karena malam itu saya mau opname karena ada kontraksi dini. Alhamdulillah semua seperti dimudahkan. Ibu tanpa diminta langsung menawarkan diri untuk terbang ke Balikpapan agar bisa menemani anak-anak saya di rumah selagi saya opname.

Padahal waktu itu aslinya suami dan saya sudah clueless harus gimana ini kakak-kakaknya selama saya diopname. Dibawa ke RS juga nggak mungkin, kan sayanya harus bedrest juga. Waktu itu planning cadangannya cuman, suami bakal ngajak anak-anak kami ngantor. Jujur dapat opsi gitu saya cuman bisa berdoa semoga bos di kantor mau memahami kondisi kami. Tapi ya sekali lagi, Alhamdulillah benar nasehat yang mengatakan di balik sebuah kesulitan selalu ada kemudahan.

Bahkan tak perlu lama, suami juga bisa mendapatkan art pp yang bisa bantu-bantu di rumah selama saya opname. Ya kali kan ada ibu, kasihan juga kalau sudah harus rempong ngurusin anak-anak kami masih harus rempong urusan rumah. Ya mengandalkan suami sih Insya Allah saya yakin bisa, tapi tetap nggak tega sih, pasti kan dia capek karena harus riwa-riwi membagi waktu antara kantor, anak-anak, dan nengokin kebutuhan saya di RS.

Oh ya, selama opname di RS itu selain diobservasi oleh dokter kandungan, saya juga diobservasi oleh dokter spesialis penyakit dalam.

Lho kenapa?

Jadi ceritanya memang beberapa waktu lalu, dokter penyakit dalam sempat puyeng kayaknya sama diagnosa infeksi saluran kemih saya. Ya gimana nggak puyeng, sudah diobatin antibiotik segudang masih juga nggak sembuh-sembuh.

Ini sebenarnya bahkan bikin saya yang sempat mikir males lah mau periksa-periksa isk lagi, paling entar sembuh sendiri. Lah masih juga nawaitu nggak mau lanjut kontrol kok ya sudah ada acara opname.

Tapi ya untung sih, soalnya kalau kata dokter kandungan, ISK itu juga bisa jadi salah satu penyebab munculnya kontraksi dini.

Terus saya juga ngobrol sama teman yang punya pengalaman ISK, konon katanya dia juga ketuban pecah karena ISK. Entah gimana mekanismenya ya, apa hubungannya ISK ini sama kontraksi dan pecah ketuban. Tapi kalau saya menebak dengan bahasa awam saya dari penjelasan dokter, namanya tempat pipis itu kan dekat sama jalan lahir. Nah saking dekatnya ini bakteri penyebab ISK bisa jalan-jalan ke jalan lahir, yang kuatirnya lama-lama bakterinya ini bakal naik ke tempat janin kita. Otomatis mau nggak mau namanya tubuh kita bikin semacam perlindungan dengan menimbulkan kontraksi tadi. Btw, ini mungkin lho ya ... Untuk lebih jelasnya sebaiknya cari sumber yang kredibel kali ya, jangan telan mentah-mentah bahasa awam saya tadi 😅

Oia soal ISK ini jangan punya pikiran yang nggak-nggak ya, karena konon cewek itu memang paling gampang kena ISK. Banyak penyebabnya misalnya kurang minum, atau cebok nggak bersih, atau abis cebok nggak dikeringin kan lembab tuh, bisa jadi media tumbuh bakteri kan, dsb. Belum lagi penggunaan closet duduk umum, itu juga konon bisa jadi penyebab timbulnya ISK, dan mungkin masih banyak lagi.

Terus, selain ISK, sebenarnya sama suami kami saling menebak munculnya kontraksi dini itu bisa jadi karena faktor kelelahan beberapa minggu sebelumnya. Di mana memang setelah dari Jawa, saya masih aktif riwa-riwi antar si kakak sekolah. Plus sorenya beberapa kali memang saya riwa riwi mau konsul ke dokter tapi batal mulu.

Salah satunya pas saya sudah standby mau konsul ke dokter penyakit dalam, sudah capek siap-siap dan mengkondisikan anak-anak, suami udah lari-lari pulang cepet dari kantor, eh nggak tahunya dokternya batal prakter. Eaaaaaaaa, ini sih sebenarnya yang bikin kemaren-kemaren sempat malas mau lanjut konsul lagi 😑

Terus faktor capek lainnya, kebetulan saya dapat surat pengantar untuk melakukan screening mengingat ini kehamilan kembar, dan untuk melakukan screening itu dokter yang spesialis fetomaternal prakteknya jauh dari rumah. Sayangnya 3x saya ke sana, 3x juga mendadak dokternya nggak praktek. Eaaaaaaaaa ...

Alasannya yang pertama, alat USG nya rusak, lalu yang ke 2 pas kami sudah di jalan dikabarin dokternya sakit, dan yang ketiga padahal saya sudah konfirm dulu ke perawatnya untuk memastikan dokternya praktek, dan saya sudah datang on time, malah lebih awal saya datang, eh nggak tahunya dokternya cancel lagi karena ada operasi cito (dadakan yang memang emergency harus didulukan).

Terus kalau dari faktor lainnya selain ISK dan faktor kelelahan, sebenarnya ada banyak sih ya penyebab terjadinya kontraksi dini. Kalau dokter sendiri juga bilang hamil kembar juga bisa jadi salah satu penyebab, dengan alasan karena kan peregangan perutnya lebih besar dari hamil tunggal. Ibaratnya kalau hamil tunggal misal di usia kehamilan 26-27 minggu bbj nya hanya 900-1000 gram (alias hampir sekilo), nah kalau hamil kembar otomatis dikali 2, jadi namanya rahim dan perut bakal lebih melar banget gitu kali ya.

Oke, jadi pada akhirnya saya memang harus opname selama kurang lebih 4 hari (eh apa 5 hari ya). Alasannya waktu itu, karena ada obat injeksi antibiotik yang harus diberikan selama 3 hari berturut-turut, dengan dosis sehari dua kali. Ini untuk pengobatan infeksi saluran kemihnya tadi sih ya. Biar tuntas.

Selain antibiotik entah ada berapa banyak lagi obat yang diberikan oleh dokter kandungan saya. Mulai dari anti kontraksi, penguat kandungan, vitamin kehamilan. Oh iya nggak lupa dokter juga memberikan suntikan pematang paru, kalau nggak salah ini juga diberikan selama 3 hari. Bonusnya seperti biasa ya selama opname harus diinfus.

Selama opname itu juga perawat tiap pagi dan malam selalu memeriksa detak jantung janin-janin saya yang Alhamdulillah sehat.

Oh iya tapi ada yang lucu juga sih, jadi 2 hari pertama ketika saya diopname, perawat belum melakukan ctg, jadi saya sempat tanya terkait apa masih ada kontraksi atau tidak. Seenggaknya kalau sudah nggak ada kontraksi kan saya bisa lega. Nah ternyata kayaknya ada miss komunikasi atau gimana mungkin ya, karena usia kandungan saya masih 26-27 minggu biasanya di-ctg masih belum kedeteksi.

Nah lho ... Di situ akhirnya saya menjelaskan, kalau saya opname di situ juga karena diagnosa ada kontraksi dini waktu diperiksa pakai alat ctg ketika kontrol sebelum opname. Lha kalau nggak ada diagnosa gitu ngapain saya mau diopname ... 😭😭😭

Terus, mbak perawatnya kayaknya agak aneh juga sih waktu saya cerita gitu, sampai dia tanya untuk memastikan apa benar itu saya lagi di ctg. Ya saya sebutkan saja sih detailnya yang ada alat ditempel-tempel di perut, terus saya disuruh pencet tombol tiap kali kerasa ada gerakan janin di perut. Terus ya sudah daripada ribet saya baru inget jangan-jangan hasil print out ctg nya belum dikasihkan bareng berkas untuk opname kemaren. Eh benar saja, ternyata hasil print out ctg nya keselip di buku pink. Ealahhhhhh ... 😂😅

Terus ya sudah sih akhirnya hasil print out ctg tersebut saya tunjukkan ke perawat tersebut, dan mulai besok paginya memang akhirnya saya di ctg.

Alhamdulillah so far dari penjelasan perawat tidak terdeteksi adanya kontraksi lagi. Jadi PR saya waktu itu di RS cuman melanjutkan antibiotik sampai habis, dan kemudian boleh pulang.

Oh iya tambahan lagi, selama diopname saya sempat kena tegur perawat senior karena saya mengelus-elus perut. Ternyata saya baru tahu, mengelus-elus perut juga bisa memicu kontraksi. Ealahhhhh hamil sebelum-sebelumnya asli saya nggak tahu, baru tahu ini, dan memang benar sih setelah saya googling beberapa artikel menyebutkan terlalu sering mengelus-elus perut saat hamil juga bisa memicu kontraksi 😨😱

Setelah diijinkan pulang, dokter memberi surat untuk kontrol kembali seminggu kemudian pasca opname. Alhamdulillah dari hasil lab urine, ISK nya sudah sembuh, begitu juga untuk hasil USG, Alhamdulillah janin-janinnya juga sehat.

Seperti saran dokter, agar ke depannya saya lebih bisa menjaga kandungan saya. Sebisa mungkin diusahakan agar lahir tepat waktu (tepat usia). Target dokter, sebisa mungkin minimal usia 37 minggu baru boleh lahir. Amin ...

No comments:

Post a Comment