Monday, November 26, 2018

Melahirkan Bayi Kembar, Sesar atau Normal???

Sesar vs Normal ini sepertinya sudah jadi momok yang mengerikan gitu ya buat ibu-ibu yang mau lahiran. Saya sendiri so far dari dulu penginnya kalau bisa lahiran normal saja ... Sebenarnya ada banyak faktor alasannya. Tapi bagaimana dengan kondisi hamil kembar, bisa nggak sih kita (eh saya) ngeyel maunya lahiran normal saja alias per-vaginam???

Ini Salah Satu Bab di Buku Berjudul "Susahnya Jadi Ibu," yang Membuat Bisa Sedikit ada Gambaran Bagaimana Perjuangan Seorang Ibu dalam Mengambil Keputusan Melahirkan Secara Normal atau Sesar

So far saya baru tahu kalau hamil kembar itu bagaimanapun proses awalnya (mau diprogram atau dapat secara alamiah) ternyata tetap masuk dalam kategori kehamilan beresiko.

Sejauh ini, saya yang awalnya cuek jadi lebih hati-hati setelah kena episode kontraksi dini di usia kehamilan 26 - 27 minggu. Demikian juga suami yang selama ini selalu meyakinkan bahwa kehamilan saya bukan termasuk yang beresiko, dia jadi keder sendiri dan lebih memperhatikan agar saya nggak gasrukan kayak sebelum-sebelumnya 🙄✌️

Terbukti suami nggak mau acc ketika saya ngeyel minta ikut dia yang mau ada urusan ke Samarinda, dengan perjalanan darat yang cuma 3,5 jam an dari Balikpapan. Padahal sebelum-sebelumnya dia malah yang oke-oke saja ketika kami harus melakukan perjalanan dengan pesawat udara ke Jakarta di usia kandungan sekitar 11 - 12 minggu, padahal waktu itu banyak yang bilang termasuk perjalanan beresiko.

Dulu dia yang suka bilang, "Ya sudah sih Bismillah saja Insya Allah nggak apa-apa ..." Kalau sekarang??? "Udah ah jangan cari penyakit!!!" Nah lho ... Nah lho ... 😂😅

Nah mengingat episode-episode itu, saya yang sejak awal ngeyel pengin bisa lahiran normal jadi mencari-cari informasi apa kira-kira masih ada peluang untuk saya bisa melahirkan normal seperti saat melahirkan kakak-kakaknya???

Rujukan pertama saya, ya siapa lagi kalau bukan tante yang kebetulan pernah melewati proses melahirkan bayi kembar dengan jalan normal meski salah satu bayinya sungsang. Jadi setelah saya tanya, gimana bisa? Ternyata tante saya lahirannya dibantu sama bidan.

Oke, saya noted waktu itu, pikir saya kalau bidan saja bisa membantu proses persalinan normal untuk kasus bayi kembar dengan posisi salah satu bayi sungsang, harusnya dokter lebih bisa dong ya ...

Lalu saya mencoba mencari info lagi di salah satu teman yang kebetulan hamil kembar. Dia pun sebenarnya hampir sama sih kayak saya penginnya lahiran normal, jadi dia juga sudah yang cari-cari info seberapa besar peluangnya untuk bisa melahirkan secara normal. Ternyata kalau dari ceritanya untuk peluang melahirkan  kembar dengan jalan persalinan normal dan kondisi bayi sungsang satu sebenarnya masih bisa diusahakan kalau kita mau lahirannya di bidan. Konon menurut info dari teman saya tersebut, memang cuma bidan saja yang berani.

Kalau dokter biasanya nggak mau ambil resiko. Lho kenapa gitu ya??? Kalau judgement orang awam sih kebanyakan ngarahnya karena dokter maunya instan 😝

Cuman kalau saya pribadi mencoba berdiskusi sama suami tentang hal tsb, ya kali terus suami taunya nyuruh saya lahiran di bidan saja.

Bersyukur suami bukan tipe orang yang suka menjudgment semena-mena dengan sudut pandang yang sempit. Kalau dari sudut pandang suami, bukan cari instannya, bisa jadi dokter nggak mau karena dia tau seberapa gedenya resiko yang dia hadapi di depan, toh dokter ada wewenang untuk melakukan prosedur sesar, ini berbeda dengan bidan yang "kayaknya" dia nggak punya wewenang kan buat melakukan sesar.

Terus suami bilang, "Gimana sih menurutmu kalau kita harus gambling karena di depan sana ada resiko besar yang harus kita ambil, padahal kita punya alternatif lain yang bisa kita ambil? Pasti akan banyak pertimbangan kan buat ambil resiko tersebut?"

Suami juga menambahka, "Apalagi namanya dokter dia kan belajarnya udah lebih lama pastinya, biasanya nih semakin tinggi ilmu seseorang memang akan semakin lebih mempertimbangkan banyak hal ketika akan mengambil suatu keputusan, karena dia semakin tau resiko setiap tindakan yang akan diambilnya."

Errrrr masuk akal juga sih menurut saya ...

"Terus gimana??? Berarti sesar aja nih?" Tanya saya ke suami waktu itu.

Kalau suami jawabannya simpel, "Ya nggak gitu juga kali!!!"

Bersyukur lagi, suami termasuk tipe  open minded yang sevisi misi sama saya. So far suami penginnya ya kalau bisa normal saja, dengan catatan sambil lihat peluang keberhasilan dan resikonya juga. Pas saya bilang, "Ya udah ke bidan saja gimana 🤔"

Suami jawabnya simpel, kurang lebihnya gini, "Lha masalahnya kalau ke bidan, misal ada apa-apa larinya ke mana? Tetap dirujuk ke dokter kan ujung-ujungnya? Nah jadi ya sama aja, daripada riwa riwi, wong ya di sini banyak dokter kandungan oke ya jangan dibikin mbulet gitu lah. Kecuali kalau memang kita dihadapkan dengan kondisi hanya bidan yang bisa jadi satu-satunya alternatif kita karena nggak ada pilihan lain ya sudah sih nggak apa-apa."

Nah, dari obrolan tsb saya sendiri masih usaha cari info-info lainnya sih yang bisa jadi pertimbangan peluang saya bisa melahirkan normal. Salah satunya ya saya nyimak pengalaman teman-teman di salah satu komunitas dengan pengalaman hamil kembar, ternyata ya memang sebenarnya tetap ada peluang kok untuk hamil kembar bisa melahirkan dengan jalan normal, terntunya dengan mempertimbangkan beberapa syarat dan ketentuan berlaku.

Oh iya untuk bayi sungsang gimana??? Apa iya bayi kembar itu pasti sungsang salah satunya??? Ternyata dari cerita beberapa pengalaman teman tersebut, banyak kok bayinya yang akhirnya pw (posisi wenak alias mapan kepala di bawah semua) pas mau lahiran.

Lah kalau satunya sungsang gimana? Baca-baca di mbah google sih sebenarnya kalau salah satu sungsang (asal nggak melintang) masih bisa diusakan normal. Dari yang saya baca, biasanya nanti bayi yang kepalanya sudah pewe di bawah akan dikeluarkan dulu, setelah itu yang sungsang ini dengan tehnik tertentu dokter langsung akan memutarnya dari luar perut. Tapi ... *nah ada tapinya ini ... Tehnik ini konon juga termasuk beresiko ... 🤦

Agak keder juga sih ya bacanya ... 

Terus gimana nasib saya? Yang bahkan sampai saat ini, kok ya salah satu bayinya masih sungsang 😐

So far saya cuman bisa pasrah sambil ikhtiar mengusahakan yang terbaik. Terbaik gimana? Ya salah satunya, berusaha tiap malam "njentit-njentit" nggak jelas gitu. "Njentit" gimana? Ya posisi kayak sujud gitu, tapi dada nempel lantai terus tangan diposisikan buat ngganjal muka gitu ... Jadi otomatis pantat posisinya njentit gitu kan ya ... Hehe ...

Konon posisi itu bisa membantu posisi bayi yang sungsang muter jadi pewe karena bantuan gaya gravitasi. Tapi saya sendiri sempat mikir juga sih ya, itu kalau bayinya satu, lah kalau dua jangan-jangan satunya yang sudah pewe malah ikut muter-muter juga 🤦

Ah kalau gitu ya sudah cuma bisa pasrah saja, yang penting kan sudah usaha. Saking usahanya ini kadang sampai diketawain anak-anak sama suami ... Wkwkwk ...

Oh iya soal proses bersalin bisa normal atau nggak tadi, beruntungnya lagi dokter kandungan saya termasuk tipe yang masih mau mempertimbangkan banyak peluang tadi.

Salah satunya ketika saya menceritakan kalau ternyata kok ya saya ambeien 🤦

Dokter sih nggak ujug-ujug langsung kasih opsi harus sesar, tapi beliau kasih rujukan agar saya konsultasi ke dokter penyakit dalam dan bedah untuk tau apa saya masih boleh melahirkan secara normal?

Alasannya sederhana, itu ambeien dekat sama jalan lahir, kuatirnya kalau dipaksakan nanti malah sobek dan pendarahan hebat.

Ah apa iya ini??? Lah kok ya pas diskusi ama temen ada yang punya pengalaman melahirkan dengan kondisi ambeien. Waktu itu dia memang nggak pernah cerita sih ke dokternya kalau ada ambeien, jadi dia pede aja gitu pas lahiran normal, nggak tahunya katanya ya emang iya kata dia, dia sempat yang pendarahan gitu. Errrrrr kan jadi ngilu kan bayanginnya ... 😐

Faktor lainnya yang jadi pertimbangan, la kok ya beberapa waktu lalu pas kontrol, tau-tau dokter bilang kalau ada lilitan tali pusar di bayinya. Duh ... Itu tali pusar jangan dibuat mainan ya adek-adek, emakmu ini kan jadi dag dig dug ... 🤦🤦🤦

Belum lagi, minggu lalu ada episode tau-tau tensi naik di atas normal, padahal selama ini saya termasuk yang punya tekanan darah rendah.

Pas tau tensi segini, langsung buru-buru ngabarin dokter kandungan terus langsung disuruh buru-buru ke igd buat cek lab ini itu. Alhamdulillah so far hasil cek lab-nya bagus cuman hb nya saja yang agak rendah.

Tambahan lainnya juga, lah kok ya bbj janin-janinnya pas di usg itu termasuk yang over. Masak usia kandungan 33-34 minggu sudah sekitar 2800 gram sama 2500 gram. Padahal normalnya kan maksimal 2000 gram untuk usia kandungan 33-34 minggu.

Ini juga yang jadi pertimbangan dokter kira-kira kapan batas maksimal aman si janin-janin ini aman untuk dilahirkan.

So far dokter cuma kasih batas waktu, kira kalau sampai tanggal sekian sampai sekian belum ada tanda-tanda lahir, opsi terbaiknya sementara memang harus sesar. Duh pasrah wes pasrah, sambil cengengesan saja. Ya gimana masak mau sambil merengut. Lah daripada nanti dipikir terlalu jauh malah bikin tensi naik kan bahaya 🤦🤦

Oke jadi gimana nih? Bisa nggak ya normal apa harus sesar???

So far ibu waktu saya kabarin, cuma bilang ibu selalu mendoakan agar saya bisa melahirkan melalui proses persalinan normal. Amin

Saya sendiri percaya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, apalagi ibu saya termasuk yang punya pengalaman 2 kali sudah direncanakan melahirkan sesar, eh nggak taunya saya sama adik dulu malah mbrojol sebelum di sesar. Konon saya mbrojolnya pas para perawat juga dokter lagi sibuk mempersiapkan prosedur operasi sesar untuk ibu saya. Hehe ...

Kata ibu padahal waktu itu beliau sudah yang pasrah saja kalau memang sesar ...

Terus ibu juga berpesan saya disarankan sering-sering baca surat Al-Waqi'ah biar dimudahkan urusan persalinannya. Oh iya soal baca surat Al-Waqi'ah ini saya juga sempat heran karena kan itu artinya kalau nggak salah tentang hari kiamat. Salah satu saudara juga sempat negur saya apa nggak salah? Pas saya konfirm lagi sih ke ibu ya iya emang benar. Tapi kalau ditanya apa hubungannya? Beliau sendiri nggak tahu. Hehe ...

Ya sudah namanya ikhtiar ya ada saran apa, selama itu baik ya saya coba ikutin saja sih ya ... Sisanya nanti pasrah sama rencana Allah SWT. So far saya yakin bahwa mau lahiran normal atau sesar tentu semua sudah melalui kehendak Allah SWT.

Kalau sekarang saya ditanya, jawaban saya mungkin satu, yang penting goal saya lahiran semua selamat, sehat wal afiat ... Apalagi lihat kakak-kakaknya yang selalu antusias plus belajar memahami kondisi kehamilan saya sejauh ini. Belum lagi lihat suami yang perjuangan banget handel si kakak-kakaknya di saat saya mengalami kontraksi dini dulu. Eh juga melihat suami yang bantu mencari solusi saya handel anak-anak ketika saya menghadapi beberapa keluhan kehamilan  mulai awal masuk TM 3, yang mulai daerah miss v sakit banget sekedar buat jalan ke toilet, sampai yang sekarang ini keluhannya sudah berubah lagi, perut sering kencang-kencang sekedar dibuat jalan ke dapur. Jadi saya malah goalnya bukan sekedar pengin lahiran normal biar abis lahiran bisa ngejar kakak-kakaknya, tapi goal saya lebih luas maunya yang terbaik dari yang paling baik.

Iya saya jadi ingat, dulu awal-awal hamil sering berdoa maunya bisa lahiran lewat jalan normal saja, biar abis lahiran bisa ucul ngejar kakak-kakaknya, tapi kemudian gara-gara episode kontraksi dini, saya jadi merenung selama saya opname, "Jangan-jangan kalau saya ngeyel lahiran normal, cuman ada jalan bayinya harus lahir premature." Asli saya ngeri waktu itu nggak bisa bayangin, mengingat kerempongan ibu saya yang saat hamil adik memang dalam keadaan yang bisa dibilang minim kemungkinan untuk bisa melahirkan normal. Dokter sudah kasih wacana dengan kondisi ibu sepertinya memang harus sesar. Faktanya ibu memang bisa tetap melahirkan normal, tapi di usia kehamilan 7 bulan, dan menurut saya yang melihat episode ibu dengan bayi prematurnya itu sangat berat jenderal 😢.

Saya lihat bagaimana ibu harus riwa-riwi ke rs setiap hari demi mengirim ASI untuk adik, belum lagi, bagaimana beliau berusaha agar stok ASI nya melimpah. Belum lagi pas tepat usia sekitar 40 hari adik didiagnosa kena hernia, jadi lagi-lagi adik awalnya sudah pulang ke rumah, harus di rujuk ke RS lagi, karena harus segera menjalani prosedur operasi hernia. Duh nggak bisa bayangin betapa stresnya beliau menghadapi hari-hari tersebut.

Setelah merenung gitu saya jadinya ngobrol sama suami, "Ini jangan-jangan (kontraksi dini) gara-gara saya salah berdoa nih." Jadi sejak itu doanya saya ganti. Saya selalu minta, diberi kekuatan dan kemudahan dalam menjalani kehamilan ini juga apapun nanti proses melahirkannya saya pasrah dengan jalan yang terbaik dari yang paling baik yang dipilihkan Allah untuk kami sekeluarga. Doa saya selalu agar saya dan bayi-bayi saya dalam keadaan sehat wal'afiat selamat dilahirkan ke dunia ini tanpa kekurangan suatu apapun. Berdoa juga agar saya melahirkan di waktu dan usia kandungan yang tepat. Doa lainnya agar suami dan anak-anak kami (si kakak juga selalu diberi kesehatan). Amin.

Oh iya ada satu juga sih sebenarnya yang bikin saya lebih bisa pasrah dengan pilihan persalinan apapun itu nantinya di depan. Suami dan saya suka diskusi tentang rencana KB kami. Di mana kami suka sepakat, apapun nantinya proses persalinan saya, ya itu jawaban Allah untuk saya mengambil pilihan KB apa. Kalau memang harus sesar berarti ya mungkin Allah sekalian nyuruh saya steril, biar ke depannya kami bisa fokus membesarkan anak-anak kami dengan berbagai tanggung jawab kami sebagai orang tua.

Lah kalau normal??? Ya berarti mungkin IUD adalah pilihan KB terbaik untuk saya. Iya soal KB ini sejujurnya setelah konsul ke beberapa dokter kandungan kalau untuk saya pilihannya cuma dua kalau nggak iud ya steril, karena saya nggak disarankan pakai kb hormonal.

Lho nggak jadi nih planning target punya anak 11??? Kalau kata suami, apa dulu nih motivasinya punya anak 11??? 😂😅

So far iya dulu suami dan saya sempat punya cita-cita pengin punya banyak anak, nggak usah dibatas-batasin mengingat dulu perjuangan untuk bisa hamil pertama saja sesuatu. Tapi seiring waktu, mengingat pengalaman selama hamil ini, kok saya jadi melow lihat si kakak-kakaknya. Terutama si kakak besar yang harus berulang kali bolos sekolah, karena kondisi saya yang belum bisa antar jemput sekolah, plus suami satu-satunya yang bisa diandalkan antar jemput sekolah kakak tiba-tiba ada kerjaan yang belum bisa ditinggalkan.

Hal lainnya juga, sejak beberapa keluhan bawaan selama kehamilan ini, saya jadi nggak bisa aktif ke mana-mana otomatis aktivitas kakak juga banyak yang terhambat, misalnya kursus renangnya. Ya gimana, 1x trial diantar ayahnya, si kakak besar komplain, malu dan takut kalau harus ganti baju di toilet cowok. Jadi dia maunya saya tetap ikut antar kalau kursus renang, biar kalau ganti baju dan bilas bisa di toilet cewek saja.

Untuk urusan mall, jangan nanya juga ... Soalnya dokter sudah wanti-wanti agar kehamilan yang ini bisa dipertahankan sampai usia 37 minggu. Otomatis ya belum berani nge-mall dah, meski si kakak-kakaknya sering nanya, "Mah kapan sih kita ngemall???"

Duh sabar ya kakkkkk ... Terus bersyukur banget rasanya pas tahu mereka tetap berusaha memahami kondisi saya yang belum boleh terlalu banyak pencilakan dan pecicilan. Ini juga sebenarnya alasan suami dan saya sepakat untuk KB saja dulu, karena kami juga harus belajar respek dengan kebutuhan anak-anak di masa-masa usia pertumbuhannya, dan apapun pilhan KB nya itu, nanti disesuaikan dengan proses persalinan yang akan saya tempuh.

Jadi so far saya sebenarnya saya juga belum tahu bisa lahiran normal per-vag atau harus sesar ... Jadi apapun itu yang penting suami dan saya sudah berusaha melakukan ikhtiar yang menurut kami sudah maksimal mentok jedok. Tentunya selain berdoa minta diberikan yang terbaik tadi, salah satunya juga dengan mencari dokter yang paling oke menurut kami. Bahkan milih dokter ini juga nggak lepas dari komat kamit berdoa lho, semoga dokter yang kami pilih adalah dokter yang terbaik.

So far menurut kami ini memang dokter yang terbaik, mengingat sejak awal beliau mau memberi kami nomer wa dan mengijinkan kami boleh menghubungi kalau sewaktu-waktu ada apa-apa. Menurut kami ketemu dokter gini rejeki banget, soalnya sepupu cerita, bahkan dia nggak dikasih nomer wa dokternya, katanya kalau ada apa-apa disuruh menghubungi perawatnya dokter saja.

Sejujurnya minggu-minggu ini adalah hari ternderedeg saya menghitung hari demi hari, minggu demi minggu menyambut si hpl. Meski beberapa mengatakan hpl saya masih termasuk lama, tapi dokter sudah wanti-wanti agar saya waspada kalau-kalau ada tanda-tanda mengarah mau dadakan lahiran. Soalnya kebetulan BBJ bayi-bayi saya kok ya termasuk gede, jadi dikuatirkan kontraksi bisa datang lebih awal. Nah jadi kalau semua pada nanya, "Jadinya mau lahiran normal atau sesar? Apa sudah dijadwalkan apa belum, dsb?" Boro-boro mikir ke sana ya, yang ada sekarang kami fokus mempertahankan agar bayi-bayinya jangan lahir dulu sebelum usia 37 minggu 🙈😰🤦

Kalau dulu ngeyel keliling mall, ikut senam ini itu, banyak aktivitas dsb dengan tujuan biar lahiran bisa normal dsb, sekarang yang ada lebih banyak anteng selonjoran di rumah saja, daripada malah mbrojol sebelum waktunya kan malah susah 😨😵

No comments:

Post a Comment